Minggu, 07 Juni 2015

Lomba Berbuat Baik

Halo!. Ini tulisan singkat tentang hikmah yang didapat dari aktifitas panjang di hari Minggu.

Jam 6 pagi sudah meluncur ke Blok M Square demi sebuah pengalaman baru, blusukan di pasar kue subuh Blok M bareng ibu, adik, dan tante saya. Suasana di sana ramai, banyak kue yang rasanya enak dan harganya murah. Kebetulan butuh banyak kue untuk acara family gathering.

Selain ketemu kue-kue yang enak-enak dan murah-murah tadi, kita juga ketemu seorang bapak tua. Dia menjajakan jasanya untuk membawakan barang-barang belanjaan, istilah kerennya carry boy alias tukang angkut di pasar.

Sesuai kebiasaan, selain menemani belanja, saya juga mengamati keadaan sekitar. Pagi ini, Alloh mengarahkan mata saya untuk mengamati bapak tua tadi. Dari ribuan pengunjung, sedikit sekali yang menerima tawaran jasa bapak tua itu. Dia lebih banyak mendapat gelengan kepala daripada uang sebagai bayaran atas jasa angkutnya.

Ada rasa iba menyeruak dari benak saya, tapi kami tidak membutuhkan jasanya, sebab kami beruntung mendapat tempat parkir yang sangat dekat dengan lapak-lapak, jadi barang-barang belanjaan yang banyak dan berat langsung kami simpan di bagasi mobil, kemudian lanjut belanja lagi. Saya niatkan dalam hati, someday kalau ikut belanja ke pasar kue subuh lagi, saya akan cari Pak Tua ini, barangkali ketemu lagi nanti.

Sampai akhirnya, saya dan adik saya melihat bapak tua tadi mencoba mengumpulkan kardus-kardus bekas, hanya dapat 1 kardus bekas, langsung dijualnya ke pengepul kardus dan ditolak juga oleh si pengepul sebab baru dapat 1 kardus, disuruh kembali lagi kalau sudah dapat banyak kardus bekas. Sepertinya dia mencoba mengumpulkan kardus bekas karena belum dapat uang dari menjajakan jasa sebagai carry boy.

Adik saya tipikal otak kanan dalam bersedekah, maksudnya tidak hitung-hitungan, tanpa ragu, dan tidak menunda-nuda. Adik saya langsung memanggil bapak tua tadi, memintanya membawakan barang belanjaan kami yang sebetulnya bisa kami bawa sendiri. Saya salut dengan adik saya.

Selesai bapak tua itu memasukkan barang belanjaan kami ke bagasi mobil, adik saya memberikan 3 lembar Rp 10.000 yang disambut ekspresi gembira si bapak tua. Kardus bekas yang tadi hendak dijualnya malah diberikan ke adik saya, katanya bisa untuk menyimpan barang di rumah. Benar memang, kardus bekas itu berguna, beberapa barang yang tergeletak berserakan di lantai gudang disimpan di dalam kardus itu, gudang pun jadi lebih rapih. 

Hanya kardus bekas, terpakainya pun di gudang. Bukan soal apa jenis barangnya, tapi saya menangkap keikhlasan hati dan rasa terima kasih si bapak tua. Bukan orang berpunya, tapi mau memberi apa yang (saat itu) dia punya, toh kardus bekas itu masih laku dijual karena kondisinya masih layak pakai.

Oh ya, bapak tua itu juga mengucap do'a. "Makasih ya, Mbak!. Semoga banyak rejeki, berkah, panjang umur, disayang Alloh."

Wow!, andai ini adalah perlombaan berbuat baik, adik saya pemenangnya, dia berhak atas hadiah utama berupa pahala dan hadiah tambahan yaitu do'a dari Pak Tua : banyak rejeki, berkah, panjang umur, serta disayang Alloh. Sedangkan saya, hanya dapat hadiah hiburan berupa pahala atas niat baik yang belum terlaksana. Pelajaran untuk saya, jika ada niat menolong atau berbuat baik, langsung action, jangan ragu dan jangan ditunda, nanti keduluan orang lain. Sesederhana apapun kebaikan yang kita perbuat, Tuhan Maha Melihat dan Maha Membalas. Berlomba-lombalah berbuat kebaikan!.

- See more at: http://artikelkomputerku.blogspot.com/2010/10/cara-memasang-banner-di-bawah-posting.html#sthash.TrMBEyDs.dpuf

2 komentar:

  1. Ayooo makkk..semangaaaattt...kalahin si adek dlm lomba berbuat baik ini...hehehe..
    Si adek dpetnya dobel2 yak, pahala, hadiah dr si bapak, juga doa, plus rasa bahagia krn bs membantu sesama..
    Good job dek :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe iya Mak. Ayo kita semangat berbuat baik :-D

      Hapus