Rabu, 31 Desember 2014

Proyek MRT : Behind The Scene From Lebak Bulus

Proyek MRT (Mass Rapid Transportation) menyisakan cerita bagi Lebak Bulus, bukan hanya bagi warga tapi juga orang-orang yang rutin wara-wiri di sekitar sini. Sedikit orang yang tidak tahu bahwa di Lebak Bulus ada terminal dan stadion atau gelora olahraga.
 
Sudah cukup lama berhembus kabar tentang penggusuran stadion Lebak Bulus, kira-kira sejak tahun 2012. Sebagai bukti, coba baca ini dan cek tanggalnya. Kenyataan di lapangan, sangat minim sosialisasi tentang penggusuran tersebut, banyak orang bertanya-tanya : kapan penggusuran?, berapa uang ganti rugi?, apa fasilitas pengganti?, dan pertanyaan-pertanyaan lain yang terkait soal penggusuran.
 
Sampai pada 6 Januari 2014, terminal Lebak Bulus ditutup bagi bis AKAP (Antar Kota Antar Propinsi), dipindah ke terminal Kampung Rambutan. Unjuk rasa menolak penutupan terminal Lebak Bulus sempat terjadi, toh kenyataan di lapangan bis-bis AKAP kembali lagi ke sekitar terminal Lebak Bulus karena lahan di terminal Kampung Rambutan belum memadai untuk menampung mereka.

Hari Minggu kemarin (28-12-2014), sepulang dari shopping di mall saya mampir ke Carrefour Lebak Bulus, betapa kagetnya saya saat berada di atas jembatan penyebrangan dan melihat pemandangan di bawah. Ada beberapa bangunan yang tidak lagi ada, salah satunya adalah warung bakmi langganan saya. Rupanya sudah kena gusur untuk proyek MRT, pedagangnya memilih untuk pulang ke Pemalang. Sekitar sebulan sebelumnya, stadion Lebak Bulus memang sudah dikosongkan, dikelilingi papan bertuliskan "Mohon Maaf Sedang Berlangsung Pekerjaan Konstruksi Proyek MRT Jakarta", dan banyak graffiti hasil karya Jakmania menghiasi dinding stadion.
 
Stadion Lebak Bulus, dindingnya berhias graffiti hasil karya Jakmania.

Keesokannya, ramai orang berkerumun di sekitar stadion Lebak Bulus, ada Polisi, Satpol PP, orang-orang berseragam Pemuda Pancasila, FBR (Front Betawi Rempug), tukang-tukang ojek, serta para pemilik bangunan yang akan digusur, sampai-sampai lalu lintas jadi macet. Para pemilik bangunan adalah para pedagang yang mendirikan kios di sepanjang jalan di depan stadion Lebak Bulus, mencoba mempertahankan sumber pendapatan mereka agar tidak tergusur karena belum mendapat ganti rugi. Sedangkan dari pihak Pemkot Jakarta Selatan berpendapat bahwa Surat Peringatan, sosialisasi, dan proses pembebasan tanah sudah dimulai sejak 2010, kios-kios itu hanyalah bangunan liar yang harus ditertibkan sehingga pemiliknya tidak berhak atas uang ganti rugi.

Toh akhirnya penggusuran tetap dilakukan. Senin (29-12-2014) sore stadion Lebak Bulus bisa terlihat dengan jelas dari jauh sebab bangunan-bangunan di sekitarnya sudah rata dengan tanah, termasuk pohon-pohon dan tiang listrik yang ikut dirubuhkan. Di pengujung 2014, kenyataan tidak menyenangkan harus diterima para pedagang yang tergusur. Tak lama berselang, tersiar kabar terminal Lebak Bulus akan segera ditutup (lagi), entah benar atau tidak...kita lihat saja nanti!.





Save Lebak Bulus

Saya salah seorang warga Lebak Bulus dan ikut merasakan dampak dari proyek MRT. Banyak yang berseru "Save Lebak Bulus", kalau berserunya baru beberapa hari kemarin saya pikir sudah terlambat. Yang jelas saya melihat minimnya fasilitas pengganti dari pemerintah untuk warga Lebak Bulus, baik yang menetap ataupun yang sekedar transit di sekitarnya.

Sebagai salah seorang warga Lebak Bulus, inilah yang saya amati dan alami :

1. Berkurangnya akses jalan ke perumahan Lebak Bulus.
Tadinya akses masuk ke perumahan Lebak Bulus cukup mudah, begitu pula dengan akses keluar dari dalam komplek perumahan menuju jalan raya. Sejak penggusuran stadion, otomatis akses tersebut berkurang karena ada jalanan yang ditutup.

2. Makin tidak ramah bagi pejalan kaki.
Makin banyak trotoar yang bolong, puing-puing bekas gusuran masih berserakan, pejalan kaki ikut tergusur dari trotoar ke tepi jalan raya, terpaksa berbaur dengan angkot-angkot yang menepi untuk ngetem atau menaikkan dan menurunkan penumpang. Kenyamanan dan keamanan para pejalan kaki makin terusik.

Pejalan kaki ikut tergusur dari trotoar.

3. Kehilangan ruang publik.
Sudah pasti banyak yang kehilangan ruang publik, artis-artis yang sering tanding bola, mereka yang rutin jogging, senam, naik sepeda, anak-anak yang latihan Taekwondo, atau yang belajar nyetir mobil di stadion. Dengar-dengar stadion Lebak Bulus akan dipindah ke Tanjung Priok. Coba bayangkan!, betapa tidak worth it, orang-orang Jakarta Selatan harus ke Jakarta Utara hanya untuk menikmati sarana olahraga, seharusnya lokasi lahan penggantinya di Jakarta Selatan juga.

Spanduk ini ungkapan kehilangan ruang publik.

4. Stadion jadi tidak nyaman.
Lagi-lagi soal kenyamanan dan keamanan pejalan kaki yang makin terusik. Saya terbiasa melintas stadion untuk mencapai komplek perumahan Lebak Bulus, sejak penggusuran stadion jadi lebih gersang di siang hari, sangat sepi dan gelap di malam hari. Papan seng bertuliskan "Mohon Maaf Sedang Berlangsung Pekerjaan Konstruksi Proyek MRT Jakarta" yang memagari stadion hanya menyisakan space sebadan orang dewasa untuk melintas.

Sejak penggusuran, stadion jadi seperti gedung tak berpenghuni, sunyi dan gelap di malam hari,
kesannya seram dan rawan kejahatan.

5. Kesulitan mencari makanan kaki lima.
Dampak ini mungkin tidak terlalu berpengaruh bagi warga perumahan Lebak Bulus, tapi pasti sangat berpengaruh bagi para pekerja Poins Square serta orang-orang yang transit dan akan melanjutkan perjalanan dari Lebak Bulus. Penjual makanan yang rasanya enak dengan harga ramah di kantong banyak yang tidak berjualan lagi.

Semoga warga Lebak Bulus bisa bekerja sama dengan Pemkot Jakarta Selatan dan pihak-pihak yang terlibat proyek MRT untuk menciptakan safety Lebak Bulus, menjaga kondisi Lebak Bulus agar tetap aman dan nyaman. Misalnya dengan lekas membenahi trotoar yang makin rusak setelah aksi penggusuran, atau menyediakan koridor khusus yang layak bagi pejalan kaki untuk melintasi stadion.

I Wish MRT...

Demi terwujudnya proyek MRT, banyak pihak yang rela berkorban, saya yakin bukan hanya warga sekitar Lebak Bulus, maka dari itu saya berharap agar kelak MRT lebih baik daripada Transjakarta. Armadanya lebih banyak sehingga mengurangi waktu yang tersita hanya untuk menunggu datangnya MRT, terutama di jam-jam padat seperti waktu berangkat dan pulang kantor. Say no to desak-desakan, kecopetan, dan pelecehan. Gerbongnya juga bukan gerbong butut yang mudah rusak, mogok, atau terbakar, sebab itu juga mengganggu kelancaran perjalanan. Untuk awal-awal yaaa...minimal sama baiknya dengan MRT di Singapura, untuk selanjutnya lebih keren dan bisa jadi identitas membanggakan kota Jakarta.

Kalau MRT tidak lebih baik dari Transjakarta...alangkah sia-sia pengorbanan kita semua!.

- See more at: http://artikelkomputerku.blogspot.com/2010/10/cara-memasang-banner-di-bawah-posting.html#sthash.TrMBEyDs.dpuf

Rabu, 26 November 2014

Guru


Selamat Hari Guru untuk guru-guru di seluruh Indonesia!.
 
25 November, Hari Guru Nasional, diperingati sejak dikeluarkan Keputusan Presiden No. 78 Tahun 1994 sebagai penghormatan terhadap profesi guru. Asal mulanya terbentuklah Persatuan Guru Hindia Belanda (PGHB) tahun 1912, lalu berganti nama menjadi Persatuan Guru Indonesia (PGI) di tahun 1932, hingga pada 25 November 1945, tepat 100 hari setelah proklamasi kemerdekaan RI, lahirlah Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI).
 
Guru, berasal dari bahasa Sansekerta, yang berarti seorang pengajar suatu ilmu. Jika diartikan secara sempit, guru adalah pendidik dan pengajar di jalur pendidikan formal, terbatas dari pendidikan dasar hingga pendidikan menengah saja. Definisi tersebut saya ambil dari Wikipedia. Pengajar di perkuliahan sudah tidak disebut guru melainkan dosen.
 
Berpedoman pada pengertian guru secara sempit, otomatis yang layak menyandang sebutan guru adalah mereka yang berdiri dan mengajar di depan kelas, merekalah Bapak dan Ibu Guru, Sang Pahlawan Tanpa Tanda Jasa. Tetapi jika melihat kembali ke pengertian guru, sebuah kata yang berasal dari bahasa Sansekerta, yaitu seorang pengajar suatu ilmu, maka akan lebih banyak orang yang layak menyandang sebutan guru. Bahkan, menurut saya, guru tidak terbatas hanya pada orang namun pengalaman atau kondisi pun layak dijadikan guru jika dari sana kita mendapatkan sebuah pelajaran atau ilmu. 

Guru-Guru Kecil

Izinkan saya berbagi cerita tentang guru-guru kecil, usianya jaauuuh lebih muda dari usia saya, tetapi begitu baanyaaak hikmah yang saya dapatkan dari mereka. Perkenalan kami sangat tidak disengaja apalagi direncanakan, namun sanubari terdalam saya mengatakan dengan tulus bahwa saya patut berterima kasih kepada guru-guru kecil ini.

Mereka adalah anak-anak panti asuhan, mereka tak hanya mengajarkan tapi sekaligus menyadarkan betapa beruntungnya saya masih memiliki kedua orangtua yang sehat, mampu membimbing, melindungi, dan mendampingi sejak saya kecil hingga sekarang. Bagaimana dengan mereka?, tentu saja mereka tak hidup bersama orangtua kandung mereka, bahkan ada yang sejak bayi umur 1 minggu sudah ditinggalkan oleh orangtuanya di Rumah Sakit dan akhirnya diserahkan ke panti asuhan. Mereka tinggal bersama anak-anak lainnya yang juga ditelantarkan orangtuanya, mereka hidup dalam kondisi yang serba seadanya karena segala sesuatu harus dibagi-bagi, tak mungkin bisa utuh jadi milik sendiri, sehari-hari mereka diurus oleh para pengasuh yang kasih sayang dan kelembutannya jelas berbeda dengan ibu kandung.
 
Selain mengajarkan dan menyadarkan saya untuk lebih banyak bersyukur, guru-guru kecil ini membuat saya menjadi lebih mudah memaafkan. Tak dipungkiri, dalam interaksi antara anak dengan orangtua tidak mungkin tak ada gesekan dan ketidaksepahaman, saling memaafkan adalah solusinya. Tak hanya itu, guru-guru kecil ini juga mengajak saya untuk lebih kuat menghadapi hidup, tetap ceria meski sedang berurai air mata, seperti mereka yang tetap tertawa riang khas kanak-kanak meski prihatin mengiringi hidup. Sejak saat itulah kosa kata pesimis perlahan tapi pasti tercoret dari kamus kehidupan saya.
 

Guru-guru kecil saya, guru-guru pertama, mereka tinggal di sebuah panti asuhan di Bandung.
Foto diambil dari sini.

Guru Privat

Dari sekian puluh orang guru-guru kecil saya, ada seorang guru kecil yang sangat istimewa, anggaplah guru privat, saking privatnya sampai private. Dialah yang pertama kali menyentuh dan benar-benar menyembuhkan hati serta jiwa saya. Itulah yang membuatnya so special bagi saya. Hidup saya berubah 180 derajat sejak dekat dengan guru privat ini, sekitar 2 tahun lamanya saya berjuang untuk selalu bersamanya, kebetulan dia tidak boleh saya bawa pulang untuk menjadi milik saya secara utuh, mungkin dia harus tetap di panti asuhan itu untuk menjadi guru kecil bagi orang lain.
 
Setelah 2 tahun kebersamaan yang tidak mudah tapi sangat menakjubkan, saya dan dia terpisah, Pengurus Panti 'menjualnya' sehingga dia berpindah tangan dan kami tidak bisa bertemu lagi. Akses saya kepadanya bukan hanya ditutup, tetapi juga diputus. Pertemuan terakhir saya dan guru privat pada September 2013.
 
Saya tak berhenti berkunjung ke panti asuhan lain, bermain dengan guru-guru kecil yang belum pernah saya kenal sebelumnya, agar lebih terorganisir saya membangun sebuah gerakan, KAF Project namanya. Hikmah-hikmah baru saya dapatkan dari guru-guru kecil baru saya, hikmah paling bermakna tetaplah yang saya dapatkan dari sang guru privat.
 
Harapan Esok Hari
 
Jika Warung Blogger selalu mengajak Warga WB untuk menuliskan Harapan Esok Hari mereka di Twitter tiap jelang pergantian hari, saya punya sebuah Harapan Esok Hari, harapan yang selalu saya sematkan di dalam do'a menjelang tidur malam, harapan yang masih setia menunggu waktu tercapainya.
 
Banyak orang yang pasti bisa menebak apa harapan itu. Saya sangat berharap bisa berjumpa dan bersama lagi dengan guru privat saya. Bukan untuk mengganggu hidupnya yang saat ini (mungkin) sudah jauh lebih baik, tapi untuk tetap bisa belajar banyak hal bersamanya.
 
I love you Keisha Aqila Fabian!, selamanya....
 

- See more at: http://artikelkomputerku.blogspot.com/2010/10/cara-memasang-banner-di-bawah-posting.html#sthash.TrMBEyDs.dpuf

Minggu, 09 November 2014

Ada Apa Dengan AADC?


Buka YouTube, ada video LINE-AADC 2014 (Mini Drama). Buka Facebook, ada temen yang ngeshare video itu. Buka Twitter, trending topicnya AADC. Gara-gara AADC dimana-mana, penasaranlah gue dan nonton videonya di YouTube.
 
Oooh ternyata... video itu adalah iklan aplikasi terbaru dari Line yang dibuat dalam versi mini drama, tadinya gue pikir itu trailer AADC part 2, tapi kalo dipikir-pikir kok bikin lanjutan filmnya baru sekarang padahal AADC kan tayang tahun 2002, kelamaan laaah.
 
Oh ya!, AADC (Ada Apa Dengan Cinta) adalah film karya Rudi Soedjarwo yang dibintangi oleh Dian Sastrowardoyo dan Nicholas Saputra sebagai pemeran utama, selain mereka berdua, bintang-bintang muda kala itu : Ladya Cherill, Adinia Wirasti, Titi Kamal, Sissy Priscillia, Dennis Adhiswara, dan Fabian Ricardo juga ikut membintangi. AADC booming banget, maklum waktu itu perfilman Indonesia lagi mulai menggeliat setelah tidur panjang yang cukup lama. Sebelum AADC, film Petualangan Sherina juga booming di bioskop. Gak cuma filmnya yang OK, soundtracknya juga keren dan easy listening, secara ciptaan Melly Goeslaw gitu lowh.
 
AADC juga berhasil meraih beberapa penghargaan di Festival Film Indonesia (FFI) 2004. Sutradara Terbaik untuk Rudi Soedjarwo, Pemeran Utama Wanita Terbaik untuk Dian Sastro, Tata Musik Terbaik untuk Melly Goeslaw dan Anto Hoed, serta Skenario Terbaik untuk Rako Prijanto, Jujur Prananto, dan Riri Riza.
 
Tahun 2002, gue masih SMP dan kaya'nya baru belajar pacaran, baru ngerasain sensasi galau sama cowok yang katanya cinta pertama gue. Jujur, waktu itu juga gue sempat ikut menikmati demam AADC, mulai dari ikut nonton filmnya di bioskop bareng teman-teman, beli VCD bajakan soundtracknya, sampai sering nyanyi lagu-lagunya. So, nanti malam di Kompas TV bakal tayang film AADC dan pasti gue bakal nonton.

Line & AADC

Gue salut sama orang atau tim yang kepikiran dan milih AADC untuk jadi materi promosi. Coba kita lihat fakta-fakta ini :
1. AADC booming pada masanya
2. meraih beberapa penghargaan FFI 2004
3. saking boomingnya sampai dibuat AADC The Series yang tayang sebagai sinetron RCTI, walaupun gak semenarik filmnya tapi mampu mengorbitkan Ririn Dwi Aryanti dan Revaldo, sebelumnya mereka harus melewati audisi dulu
4. ending AADC masih gantung, Rangga ninggalin Cinta begitu aja keluar negeri, entah mereka akhirnya jadian atau malah lost contact ya masih sangat terbuka lebar bagi ide-ide untuk kelanjutan kisahnya.

Fakta-fakta tersebut tepat banget dijadiin background pemilihan AADC sebagai materi promosi. Selain itu, orang-orang yang terpapar wabah demam AADC di tahun 2002, salah satunya ya gue ini, taruhlah 12 tahun silam umurnya 14 tahun, seumuran gue waktu itu, berarti sekarang umurnya kira-kira 26 tahun, umur-umur segitu di masa sekarang adalah generasi yang gadgetholic, gak bisa hidup tanpa gadget, maksudnya tanpa gadget bakal mati gaya.

Yang bikin gue tambah salut adalah cara promosinya yang juga cerdas dengan memanfaatkan YouTube dan media sosial yang gratis tapi dikenal serta digunakan oleh banyak orang. Coba bayangin!, video bedurasi 10 menit 24 detik pastilah terlalu panjang untuk iklan di TV, selain biayanya kemahalan, pemirsa TV juga males nonton iklan selama itu, nanti yang ada malah langsung ambil remote dan ganti channel.

Intinyaaa... four thumbs up for Line, 2 jempol tangan plus 2 jempol kaki. Hehehee.... Meskipun fitur Find Alumni itu menurut gue biasa aja sih, soalnya bukan Line satu-satunya yang punya fitur semacam itu (kalo gak salah yeee!...soalnya gue juga gak pake Line jadi gak begitu ngerti detil fitur Find Alumni), tapi kecerdasan berstrategi promosinya layak dipuji.

- See more at: http://artikelkomputerku.blogspot.com/2010/10/cara-memasang-banner-di-bawah-posting.html#sthash.TrMBEyDs.dpuf

Jumat, 07 November 2014

Jajanan Sekitaran Pamulang

Tiba-tiba aja kangen kuliner Pamulang, maklum pernah belasan tahun jadi warga Pamulang sebelum akhirnya pindah ke Lebak Bulus tahun 2010. Lalu lintas Pamulang, Ciputat, dan sekitarnya makin macet sedangkan mobilitas makin tinggi. Kerja di daerah Jakarta, waktu itu adik-adik kuliah di Depok dan SMA di Kebayoran Baru, gak kebayang ribetnya bermacet-macet ria di perjalanan kalo masih tinggal di Pamulang. Udah tinggal di Jakarta aja gak jaminan terbebas dari belitan keruwetan lalu lintas.
 
Enaknya tinggal di Lebak Bulus, karena dekat dengan terminal, pergi kemana-mana lebih mudah. Ada Transjakarta alias busway yang pernah jadi kendaraan gue ke kantor, kopaja AC pun pangkalannya cuma sepelemparan batu dari terminal, angkot bejibun, bis-bis antar kota sampai antar propinsi berseliweran. Gak enaknya ya menjelang mudik, saking padetnya terminal sampai-sampai macet gak karuan, lumayan menghambat juga sih. Belum lagi soal keamanan, preman berkeliaran bahkan ada yang nyambi jadi tukang ojek. Intinya harus pinter-pinter jaga keamanan masing-masing.
 
Bagi gue sekeluarga, Pamulang kini jadi tempat shopping yang menyenangkan. Nyokap lebih semangat belanja di Pasar Pamulang ketimbang di Pasar Mayestik, yang dimaksud Pasar Pamulang adalah pasar kaget yang di deket bimbel Maestro, karena menurut nyokap harga lebih murah tapi kualitas barang sama baiknya.
 
Sementara nyokap belanja, naaah... gue sama adik-adik berwisata kuliner di sekitaran Pamulang, biasanya pas weekend, kalo kita lagi bosen sama jajanan mall dan menu kafe. Jajanan-jajanan di Pamulang memang enak-enak dan ringan di kantong alias murah meriah. Inilah beberapa jajanan di sekitaran Pamulang yang recommended versi gue dan adik-adik gue.
 
 
1. So Milk
Selain jualan susu yang diolah menjadi bubble drink, tempat ini juga menjual aneka camilan, seperti burger kukus. Jajan di So Milk tuh berasa sehat, secara minum susu, yoghurt, dan makan makanan kukusan. Pantes aja So Milk rame sama anak-anak sekolah di jam pulang sekolah, sayangnya tempatnya sempit dan cuma ada sedikit bangku. Harga minuman mulai dari Rp. 6.000, kalo mau nambah topping ya nambah Rp. 1.000 kalo gak salah, itu yang paling gue inget karena paling sering beli minumannya, tiap ke So Milk pasti beli minumannya.
 
So Milk, lokasinya di tempat jajanan kaki lima Perumahan Pamulang Permai.
 
2. Bakmie Permata Pamulang
Jangankan orang Pamulang, orang yang tinggal di luar Pamulang aja banyak yang kenal dan langganan Bakmie Permata Pamulang. Ownernya, Si Encik, orangnya ramah. Tempatnya bersih dan nyaman, enak kalo dine in, sayangnya mie cepat habis, saking larisnya. Si Encik ngasih saran ke gue, berhubung gue udah langganan, pesan dulu via telepon, nanti disimpenin mie sesuai porsi yang dipesan, kalo udah siang biasanya udah habis. Oh ya!, kalo dulu sih dalam seminggu ada libur sehari di hari Kamis, gak tau deh apa sekarang masih begitu atau ada perubahan.
 
Bakmie Permata Pamulang, mie dibuat & dimasak sendiri oleh suami Si Encik,
walalupun ownernya Chinnese tapi halal.


3. Bakmi Bangka 77
Sama-sama resto bakmi, bedanya dengan Bakmie Permata Pamulang adalah Bakmi Bangka 77 juga menjual masakan lain, misalnya nasi goreng, capcay, seafood, dll. Selain itu, Bakmi Bangka 77 ini sudah lebih dulu berdiri dibanding Bakmie Permata Pamulang. Tempatnya juga bersih dan nyaman, OK-lah dine in, porsi makanannya banyak, sebanding dengan harganya. Yang paling enak adalah nasi goreng dan siomay, nasi goreng kalo ditake away porsinya jadi lebih banyak dibanding porsi dine in, biasanya gue beli 1 porsi aja dan dibagi 3, itupun udah lumayan bikin kenyang.
 
Bakmi Bangka 77, lokasinya tepat di belakang Bank Mandiri Pamulang.
 
4. Bakso & Mie Ayam Gunung Gandul
Bakso ini beberapa kali berpindah tempat, awalnya cuma gerobak di bawah pohon tepat di depan TK Si Komo Pamulang, lalu pindah ke pelataran rumah di samping TK Si Komo, terakhir menempati ruko pas di belakang Superindo Pamulang. Yang jadi ciri khas adalah bakso ukuran jumbo yang dagingnya berasa banget. Makan semangkok udah kaya' makan nasi sepiring plus lauk pluk sayur, kenyang deh pokoknya. Berhubung hampir selalu rame pembeli, harus sabar antri yaaa!.
 
Bakso & Mie Ayam Gunung Gandul, seinget gue dulu brandnya Bakso Wonogiri.
 
5. Sobet Mantap Ibu Yati
Jualannya soto betawi dan sop yang bening, isinya daging dan jeroan. Udah pasti take away, kurang minat dine in di sana soalnya tempatnya kurang bersih, tapi rasanya dijamin mantap, terutama untuk penggemar jeroan, kuah santannya pun gurih.

Sobet Mantap Ibu Yati,
lokasinya di  tempat jajanan kaki lima yang ke arah Bunderan Pamulang.

 
6. Family Mart
Family Mart ini tempat nongkrong mahasiswa Universitas Pamulang (Unpam), jaraknya mungkin cuma 100 meter dari Unpam. Kurang lebih ya serupa dengan Sevel tapi tempatnya lebih cozy, pastinya rame ampyuuun... sampai-sampai cari parkir aja susah, apalagi cari tempat duduk. Family Mart ini bener-bener markas anak Unpam.
 
Family Mart, markas anak Unpam.
 
Itu baru 6 tempat wisata kuliner di Pamulang, masih ada tempat-tempat lain yang gak kalah enak dan murmer. Mungk akan dibahas di postingan berikutnya.
 
 
 

- See more at: http://artikelkomputerku.blogspot.com/2010/10/cara-memasang-banner-di-bawah-posting.html#sthash.TrMBEyDs.dpuf

Kamis, 23 Oktober 2014

Kae Sang Blogger

Belum terlalu jauh dari euphoria pelantikan Presiden ke-7 RI, Joko Widodo alias Jokowi. Mungkin sudah mulai familiar sama keluarga Jokowi, yang paling menyedot perhatian serta ramai dibahas di dunia maya adalah kedua anak laki-laki Jokowi : si sulung Gibran Rakabuming dan si bungsu Kaesang Pangarep.

Keluarga Jokowi.
Apa yang membuat saya ikut mengarahkan perhatian ke putra bungsu Jokowi?. Apa karena dia jomblo?, bukan!. Apa karena six pack-nya?, juga bukan!. Mmmm...atau mungkin karena wajahnya yang (kata cewek-cewek ABG) sebelas dua belas sama Afgan?, tentu bukan!. Jawabannya adalah karena dia seorang blogger. Monggo yang mau lihat blognya!, lewat sini.
 
Mirip Afgan?
Diary Anak Kampung, begitu tulisannya, padahal dia kuliah di Singapura. Saya coba tebak, kira-kira Kaesang ini tipe anak yang bersahaja, selain berotot besar karena hobi nge-gym. Baru sekali baca, saya langsung nyaman dan nyambung sama gaya bertuturnya yang apa adanya dan mengalir, cerita-ceritanya kocak dan mudah dicerna. Semoga Kaesang dan blognya tetap renyah tanpa berubah, menjadi jaim misalnya, pasca bokap menjabat RI 1. Ya mungkin saja ada aturan atau batasan yang harus dia patuhi terkait amanah yang diemban sang ayah, saya kurang mengetahui pastinya.

Jujur, saya pengagum keluarga SBY, khususnya keluarga kecil Agus Yudhoyono dan Annisa Pohan. Kebetulan SBY sekeluarga aktif di media sosial, bukan hanya anak-anak dan para menantu, bahkan Bu Ani juga giat pajang foto di Instagram. Menurut saya, inilah ciamiknya keluarga SBY, mereka berhasil memaksimalkan fungsi media sosial. SBY dan Bu Ani memanfaatkan media sosial untuk menyapa rakyat Indonesia, memberi bukti kinerja, hingga mengenalkan kekayaan serta keunikan negeri tercinta nan elok. Sedangkan anak-anak dan para menantu memanfaatkan media sosial untuk menebar motivasi dan inspirasi, memaparkan upaya ikut berkontribusi bagi bangsa dan negara, hingga menunjukkan prestasi yang mereka raih.

Sebagai anak Presiden RI, Kaesang sudah punya ciri khas yaitu blogger.
Kaesang juga bisa memanfaatkan media sosialnya untuk memajang prestasi-prestasinya. Andai kata suatu hari nanti Kaesang tergerak untuk melakukan aksi kreatif yang berdampak positif bagi bangsa dan negara, aksi tersebut bakal OK banget untuk diceritakan di blog. Mengingat sekarang Kaesang adalah putra orang nomer 1 di negeri ini, suka atau tidak suka pasti akan menjadi sorotan, terbuka peluang bagi Kaesang buat bantu bokap image building.

Intinya, seharusnya para blogger bangga karena putra Presiden RI ternyata seorang blogger. Semoga Kae sang blogger bisa menyemangati lebih banyak anak-anak muda Indonesia untuk jadi blogger yang berkualitas.

- See more at: http://artikelkomputerku.blogspot.com/2010/10/cara-memasang-banner-di-bawah-posting.html#sthash.TrMBEyDs.dpuf

Sabtu, 02 Agustus 2014

Hijrah Cinta : Belajar (Lagi) dari Bidadari Surga

Baru aja kelar nonton Hijrah Cinta, kepengennya udah dari sebelum Lebaran, kesampaiannya setelah Lebaran. Hijrah Cinta adalah film yang menceritakan kisah hidup almarhum Ustad Jefri Al-Buchori, a.k.a. Uje, sejak masa jahiliyahnya, kemudian beliau bertemu Pipik Dian Irawati, sekarang dikenal sebagai Umi Pipik, bidadari surga yang setia mendampinginya berhijrah alias move on ke kondisi yang lebih baik, hingga kecelakaan lalu lintas yang mengembalikan beliau ke haribaan Alloh S.W.T. Dengan durasi 123 menit, film yang disutradarai Indra Gunawan ini berhasil menguras air mata sekaligus menggetarkan jiwa. Penontonnya mayoritas pasangan suami istri, kaum ibu paruh baya, hijabers, serta beberapa anak kecil yang mungkin sengaja nonton dalam rangka menghabiskan liburan atau 'terpaksa' diajak sama orangtuanya berhubung gak ada yang jaga mereka di rumah karena PRT belum pada balik dari mudik.
 

Alfie Alfandy = Reza Rahadian

Hijrah Cinta sebelas dua belas sama Habibie & Ainun, sama-sama kisah nyata, sama-sama kisah cinta sejati sepasang tokoh ternama di Indonesia. Tantangan Alfie Alfandy dalam memerankan Uje pastilah sama besarnya dengan tantangan Reza Rahadian saat memerankan B. J. Habibie. Kualitas acting keduanya pun sama baiknya, sama-sama layak mendapat apresiasi yang tinggi. Begitu pula dengan Revalina S. Temat yang memerankan Umi Pipik dan BCL yang berperan sebagai Ibu Ainun. Sebagai tokoh utama, Uje diperankan dengan sangat baik oleh Alfie, Uje seakan hidup kembali. Face, gesture, hingga vocal 99% mirip Uje. Adegan Uje menyenandungkan I'tiraf untuk Pipik salah satu contohnya.

Karena nontonnya di PIM yang dekat dengan TKP kecelakaan, sensasi nonton kali ini beda banget, sampai merinding. Bisa dibayangkan bagaimana perasaan Umi Pipik, keempat anak almarhum, Umi Tatu (ibunda Uje), para sahabat serta pengagum beliau saat menonton film ini.

Suwargo nunut neroko katut

Peribahasa Jawa : suwargo nunut neroko katut, kira-kira begini artinya : kalau suami masuk surga maka istri bisa kebawa ke surga, begitu pun kalau suami masuk neraka, istri juga bisa kebawa ke neraka. Sorry!, bukan ahli tafsir peribahasa, tapi yang jelas peribahasa ini menunjukkan kekuatan sekaligus betapa besarnya tanggung jawab laki-laki sebagai pemimpin rumah tangga. Istri hanya nunut dan katut, kesannya kok perempuan itu pasif banget ya?!, minim banget perannya?!.

Lagi-lagi, secara tidak langsung, kita bisa belajar dari Umi Pipik. Boleh dikatakan bahwa beliau tidak sepenuhnya seorang istri yang suwargo nunut neroko katut. Ibarat pesawat dalam sebuah penerbangan, suami sebagai pilot, istri multitasking mulai dari jadi co pilot, navigator, hingga pramugari. Artinya, istri mampu menjadi wakil suami, ikut menentukan arah langkah dan masa depan bersama, dan tentunya mampu melayani serta mengurus suami dan anak-anak. Seperti itulah kira-kira peran besar Umi Pipik dalam hidup Uje, rasanya tipe istri seperti inilah yang ideal, tidak sebatas suwargo nunut neroko katut.

Laki-laki adalah makhluk Tuhan yang sama seperti perempuan, tapi kadang perempuan melihat laki-laki dari kacamata yang terlalu feminim sehingga mengagankan bahkan menuntut laki-laki selalu bisa menyelesaikan semua masalah, termasuk masalah perempuan yang sebetulnya hal asing bagi laki-laki, menginginkan bahu laki-laki selalu kuat dan nyaman untuk bersandar terutama di saat galau dan sedih, padahal suatu saat laki-laki juga bisa sedih dan juga butuh bahu untuk bersandar. Di balik gagah dan kuatnya laki-laki, selalu ada kesempatan bagi perempuan untuk menunjukkan kekuatan di balik kelemahlembutannya. Inilah makna real dari take and give.

- See more at: http://artikelkomputerku.blogspot.com/2010/10/cara-memasang-banner-di-bawah-posting.html#sthash.TrMBEyDs.dpuf

Minggu, 27 Juli 2014

Lebaran dan Sebongkah Penyesalan

Meski hanya sedetik, tiada dayaku menghentikan laju sang waktu. Kulihat Ramadhan segera berlalu, berganti Syawal di hari yang baru.
 
Ramadhan, bulan istimewa, kusambut dengan suka cita, kuantar perginya dengan air mata.
Ramadhan, bulan penuh ampunan, bulan turunnya Al-Qur'an, saat hamparan rahmat dibentangkan, dan do'a-do'a terkabulkan.
 
Ampuni aku, ya Alloh!. Apalah pencapaianku di Ramadhan tahun ini?. Tak lebih baik dari Ramadhan sebelumnya. Mungkin hanya sebatas berkurangnya berat badan.
 
Di 10 hari awal Ramadhan, luapan kegembiraan datangnya bulan suci memenuhi hati, namun fokusku pada tugas-tugas kantor yang tiada henti. Di 10 hari tengah Ramadhan, tak kusadari kapankah Nuzulul Qur'an, 17 Ramadhan berlalu tanpa peringatan, aku masih tenggelam dalam himpitan tugas-tugas kantor. Di 10 hari akhir Ramadhan, jangankan i'tikaf, tarawih makin sering terlewat. Lalu lintas yang kian padat membuatku membuang lebih banyak waktu berdesakan di dalam bis Transjakarta. Akhir pekanku kian sibuk dengan berbagai tuntutan, mulai dari deadline pekerjaan yang harus rampung sebelum cuti hingga permintaan membantu ibu membuat kue Lebaran dan berbenah rumah karena PRT sudah mudik ke kampung halaman.
 
Kini, gema takbir sayup-sayup terdengar, hasil sidang itsbat sudah diumumkan, besok Lebaran. Dalam suka cita sambut kemenangan, melintaslah tanya, pantaskah aku disebut pemenang?, layakkah aku larut dalam kegembiraan?. Terseliplah sebait do'a dalam balutan tekad kuat, semoga Alloh sudi berikan kesempatan untukku jumpa Ramadhan tahun depan, semoga aku mampu melapangkan lebih banyak waktu untuk bermesraan dengan Ramadhan di tahun mendatang.
 
Selamat Idul Fitri. Taqobbalallohu minna wa minkum, minal 'aidin wal faidzin. Semoga Alloh terima ibadah kita selama bulan Ramadhan, mohon maaf lahir dan batin.

- See more at: http://artikelkomputerku.blogspot.com/2010/10/cara-memasang-banner-di-bawah-posting.html#sthash.TrMBEyDs.dpuf

Rabu, 16 Juli 2014

Yang Papa Di Antara Kaya Raya

Perjalanan menuju ke kantor di pagi hari dan kembali ke rumah di sore hari tak pernah tanpa berjibaku dengan kemacetan. Ribuan kendaraan tumpah ruah ke jalan, orang-orang yang sudah paham situasi ini mencoba berdamai dengan keadaan, meski stress mereka tak tertutupi. Di situasi tertentu, misalnya hujan yang biasanya diikuti dengan genangan air di jalan, kemacetan bisa makin menggila.

Saya menyiasati kemacetan dengan nebeng motor teman setiap pagi, saat pulang di sore atau malam hari barulah naik Transjakarta. Selain menyiasati kemacetan, cara ini cukup ampuh mengusir bosan. Teman saya biasanya menempuh jalur alternatif, bukan jalur yang biasa dilewati Transjakarta, jadi saya bisa melihat pemandangan yang berbeda.

Jalan yang biasa kami lewati adalah Jalan Kartika Utama, Pondok Indah. Deretan rumah mewah lengkap dengan beberapa buah mobil berjajar di garasi dan beberapa orang satpam berjaga. Sambil melintas, kadang saya bergumam, entah butuh berapa banyak PRT untuk mengurus rumah sebesar ini, belum termasuk tukang kebun dan supir. Sering terucap do'a di dalam hati, semoga saya punya uang yang sangat banyak agar kelak bisa membangun rumah 10x lebih besar dan lebih mewah dari rumah-rumah yang setiap pagi saya lintasi ini. Sebab rumah besar yang saya tempati sekarang bukanlah milik saya, tapi milik orangtua, hehehe....

Nek Sairah dan Kek Anani

Ada sebuah pemandangan yang selalu menarik perhatian dan mengusik nurani saya. Pemandangan yang kontras dengan deretan rumah-rumah mewah. Sepasang kakek nenek renta, mendorong gerobak berwarna hijau, menjajakan papan cucian. Entah siapa yang mau membeli papan cucian, rumah-rumah sebesar ini pasti dilengkapi mesin cuci. Sehari, seminggu, sebulan...akhirnya saya benar-benar terusik. Saya turun dari motor, menghampiri dan membuka obrolan dengan mereka.

Sejak saat itu, saya mengenal Kek Anani dan Nek Sairah. Sejak saat itu juga, kalau sedang tidak terburu-buru akibat kesiangan, saya sempatkan turun dari motor untuk menyapa dan memberikan selembar Rp.10.000 untuk keduanya. Dari obrolan super singkat rutin itulah saya mengetahui bahwa mereka perantau dari Pemalang yang gagal mengecap indahnya ibukota, mereka berdua tinggal di bedeng tidak jauh dari tempat gerobak mereka mangkal, sementara anak-anak mereka masih tertinggal di Pemalang dalam hidup yang susah.

Di antara rumah-rumah besar nan mewah, sepasang kakek nenek setiap pagi mengais rejeki dengan berjualan papan cucian. Hidup mereka serba kekurangan.

Kek Anani terserang stroke, sekitar 2 tahun lalu, akibatnya pendengaran dan penglihatannya terganggu. Itulah alasan mengapa Nek Sairah tidak berjualan di pasar. Kek Anani tidak kuat lagi berjalan agak jauh, tidak mungkin ditinggal sendiri di bedeng tanpa ada yang menjaga. Memang setiap hari Nek Sairahlah yang mendorong gerobak, sedangkan Kek Anani berjalan terseok-seok dan terbungkuk-bungkuk mengikuti dari belakang.

Banyak hal yang sudah tidak diingat Nek Sairah, misalnya berapa usia mereka berdua dan kapan tepatnya mereka datang ke Jakarta. Hal yang jelas diingatnya adalah harga papan cucian yang dijajakannya, Rp. 80.000, dan Rp. 5.000 miliknya dari setiap papan cucian yang laku terjual, selebihnya harus disetor kembali ke produsen papan cucian. Meski tak menolak jika diberi uang, tapi Nek Sairah dan Kek Anani enggan menengadahkan tangan, enggan meminta-minta.

Sejak stroke, sekitar 2 tahun yang lalu, Kek Anani mengalami gangguan penglihatan dan pendengaran. Tubuhnya melemah, tak kuat lagi berjalan jauh. Saat menjajakan papan cucian, sering ia terlihat sempoyongan.

Selama ini, mereka belum pernah terjamah oleh program-program bantuan apapun dari pemerintah yang ditujukan untuk orang miskin. Ketika saya tanya, apa yang paling dibutuhkannya?. Nek Sairah bilang mereka sangat butuh uang untuk pengobatan Kek Anani. Sejak terkena stroke, Kek Anani tak pernah menjalani pengobatan khusus untuk penderita stroke, kalaupun berobat paling hanya ke puskesmas. Dokter menganjurkan Kek Anani makan makanan sehat dan bergizi, minum susu, serta minum obat secara teratur, tapi kenyataan mengharuskan Kek Anani makan seadanya saja tanpa minum susu, apalagi obat.

***

Pernah suatu kali saya foto Kek Anani dan Nek Sairah, lalu fotonya saya posting di Facebook. Seorang teman yang berprofesi sebagai jurnalis dan penulis buku, Mbak Eni namanya, tergerak hatinya untuk membantu. Kebetulan almarhumah ibunda Mbak Eni dulu pernah menderita stroke, itulah yang menggerakkannya merintis Rumah Stroke Indonesia.

Melalui Rumah Stroke Indonesia, kita yang peduli bisa menyalurkan bantuan untuk para penderita stroke di seluruh tanah air. Di bulan Ramadhan ini ada program parcel untuk penderita stroke yang tidak mampu, isinya berupa berbagai kebutuhan penderita stroke, mulai dari pampers dewasa, susu, gula dan kue kering rendah kalori, beras merah, hingga kursi roda. Untuk informasi pengiriman bantuan, silakan hubungi Mbak Eni via enisetiati_penulis@yahoo.co.id.

Semoga curhat ringan saya ini berdampak besar bagi Kek Anani dan Nek Sairah. Terakhir menyapa mereka, sekitar 2 hari yang lalu, mata Nek Sairah sayu menatap sambil berkata bahwa mereka tidak pernah mudik, tidak juga menyantap ketupat dan opor ayam, tidak ada uang, di hari Lebaran pun tetap menjajakan papan cucian.

Kek Anani dan Nek Sairah, menjajakan papan cucian setiap pagi.

- See more at: http://artikelkomputerku.blogspot.com/2010/10/cara-memasang-banner-di-bawah-posting.html#sthash.TrMBEyDs.dpuf

Senin, 14 Juli 2014

Cita-Cita kok Setinggi Tanah???

Sering dengar kata-kata "gantungkan cita-citamu setinggi langit"?, atau waktu kecil dulu sering dinasihati seperti ini oleh orang tua, "Gantungkan cita-citamu setinggi langit ya, Nak!". Pasti sering, ya minimal pernah walaupun mungkin baru 1 kali seumur hidup. "Gantungkan cita-citamu setinggi langit" itu ucapan Bung Karno. Di masa kini, dengan teknologi yang makin canggih dan sumber daya manusia yang makin cerdas serta kreatif, cita-cita yang digantung setinggi langit itu menjadi bukan hal mustahil untuk digapai. Kalau dipikir-pikir, tinggal naik pesawat terbang saja maka kita sudah setinggi langit. Jangankan setinggi langit, pergi ke bulan saja bukan hal mustahil.

Berarti "gantungkan cita-citamu setinggi langit" sudah familiar dan tidak mengherankan lagi. Bagaimana kalau cita-citanya setinggi tanah?. Sebetulnya itu judul film, "Cita-Citaku Setinggi Tanah", disutradari dan diproduseri oleh Eugene Panji, berhasil terpilih menjadi 5 besar di Berlin International Film Festival 2013, mengalahkan 1500 film lainnya yang ikut berpartisipasi dalam ajang tersebut.

Project Pertama KAF Project

Untuk menyeimbangkan otak kanan dan otak kiri, saya mencoba membuat sebuah gerakan yang saya beri nama KAF Project, tujuannya mengajak berbagi kebaikan agar diri lebih bermanfaat dan bernilai lebih untuk sesama, minimal lingkungan terdekat. Tidak muluk-muluk, berbagi kebaikan itu bisa dimulai dari hal paling sederhana atau paling mudah dilakukan, misalnya sharing info lowongan kerja via BBM.

KAF Project didirikan pada 28 Januari 2013, tapi baru pada Januari 2014 saya tergerak untuk melakukan sebuah project berbagi yang lebih jelas dan terarah. Jadilah nonton bareng anak yatim di panti asuhan Al-Muhajirin Pondok Cabe sebagai the first project, terselenggara 20 Juni 2014 silam. Seorang teman yang baik hati, Frieda Fania, bersedia membantu, semoga dia juga bersedia bergabung di KAF Project biar saya gak walk alone, hehehe....

Ide nobar muncul ketika saya dapat info tentang sebuah komunitas, Beling alias Bioskop Edukasi Keliling. Sebuah komunitas yang kerjanya keliling-keliling ke berbagai daerah, dari yang mudah dijangkau hingga ke pelosok nusantara, untuk memutarkan film secara gratis kepada anak-anak penduduk setempat. Tim Beling tak pernah datang dengan tangan hampa, selain membawa film yang mendidik, mereka juga memberikan pertanyaan seputar film yang ditonton kemudian membagi-bagikan hadiah.


Akhirnya saya gandeng tim Beling dalam project pertama ini, project yang kami beri tajuk Sharing Edukasi Bareng Bioskop Edukasi Keliling (SEBAR BELING), film yang akan diputar adalah Cita-Citaku Setinggi Tanah. Tak perlu mengeluarkan biaya sepeser pun untuk mengundang Beling, bahkan biaya transportasi yang awalnya akan saya tanggung pun mereka sarankan untuk disalurkan saja ke anak-anak di panti Eeeits jangan salah!, walaupun priceless tapi kualitas layanan mereka sangat memuaskan. Kata-kata "gratis gak boleh protes, kalo gak enak terima aja" tidak berlaku bagi mereka.

Cita-Cita kok Setinggi Tanah?


Film Cita-Citaku Setinggi Tanah mengisahkan 4 orang siswa SD yang berasal dari keluarga sederhana di Muntilan, Jawa Tengah. Agus, Puji, Jono, dan Mey dengan cita-cita mereka. Mey bercita-cita menjadi artis terkenal, dia sering berlatih acting, ibunya sangat mendukung dengan menitipkan foto-foto putrinya ke kerabat mereka yang bekerja sebagai asisten artis di Jakarta sambil berharap putrinya diajak casting dan kelak bisa menjadi artis ternama. Jono bercita-cita menjadi prajurit, Jono selalu bermain perang-perangan, bakat leadershipnya tersalurkan dengan selalu menjadi ketua kelas. Puji, cita-citanya sederhana, ingin membantu dan membahagiakan orang lain. Dan Agus, yang paling menjadi sorotan karena cita-citanya dianggap tidak biasa, cita-citanya ingin makan di restoran Padang.

Di akhir film terungkap alasan Agus bercita-cita makan di restoran Padang. Menurutnya, yang tiada hari tanpa makan tahu karena ayahnya bekerja di pabrik tahu, makan di restoran Padang merupakan sebuah kemewahan. Selain dari sisi harga, petugas restoran Padang melayani pembeli layaknya seorang raja, makanan berpiring-piring diantar dan ditumpuk di atas meja tepat di hadapan sang pembeli. Tak dapat dipungkiri, masakan di restoran Padang memang lezat menggiurkan. Saat jam istirahat makan siang tiba, saya paling doyan menyantap sepiring nasi putih hangat yang dibanjiri kuah ayam kalio dengan sepotong daging rendang dan sambal hijau plus segelas es teh manis.

Setelah menonton, teman-teman dari panti Al-Muhajirin bertanya-tanya, "Cita-citanya kok setinggi tanah ya?", pertanyaan serupa yang juga muncul di pikiran saya.

Cita-Cita yang SMART

Terkait pertanyaan "Cita-citanya kok setinggi tanah ya?", saya teringat pelajaran yang saya kenal dan hafalkan teorinya ketika SMA dulu tapi baru mulai saya praktikkan saat sudah terjun ke dunia kerja. Jurus ampuh dalam menyusun rencana, jurus SMART : specific, measurable, achievable, realistic, timebound. Melalui film Cita-Citaku Setinngi Tanah, saya kembali belajar tentang jurus SMART.


Menurut saya, cita-cita Agus yang hanya setinggi tanah, yang hanya ingin makan di restoran Padang, dan kedengarannya tidak biasa inilah justru cita-cita yang SMART.

Jika dibandingkan dengan cita-cita Puji yang ingin membantu dan membahagiakan orang lain, cita-cita Agus lebih specific. Oleh karena specific atau jelas, maka cita-cita tersebut menjadi measurable atau dapat diukur. Memang tidak disebutkan berapa uang yang dibutuhkan untuk seporsi nasi Padang impian Agus, tetapi dengan jelas diceritakan bagaimana usaha Agus demi mendapatkan sejumlah uang untuk bisa makan di restoran Padang, mulai dari membuat celengan bambu, menyisihkan uang jajan, hingga bekerja sebagai pengantar ayam, dan betapa rajinnya Agus menghitung tabungannya yang makin hari makin bertambah.

Dari usaha Agus yang gigih dan tabungannya yang makin hari makin bertambah, terlihat bahwa cita-cita makan di restoran Padang sangat achievable dan realistic atau dapat dicapai, dapat menjadi kenyataan. Untuk hal timebound atau batas waktu juga tidak disebutkan namun dugaan saya pastilah jangka waktu pencapaiannya lebih jelas dibanding cita-cita Mey, sebab jika uang sudah terkumpul dan cukup untuk membayar seporsi nasi Padang maka bisa langsung makan di restoran Padang, tercapailah cita-cita Agus, sedangkan Mey masih belum jelas kapan panggilan casting datang padanya.

Intinya, Cita-Cita Ituuu...

Film ini ringan dan bermakna dalam. Intinya, cita-cita bukan untuk ditulis saja, tapi untuk diwujudkan. Silakan bermimpi dan menggantungkan cita-cita, terserah setinggi apa, pastikan jangan tertidur demi mewujudkannya. Juga tak perlu terlalu resah pada kerikil-kerikil yang ditemui saat proses pencapaian cita-cita, sebab rejeki tak pernah pergi, hanya menunggu waktu untuk kembali. Itu bukan kata saya, itu kata Mbah Tapak, sosok yang muncul selintas saja tapi selalu meninggalkan quotes renyah.

- See more at: http://artikelkomputerku.blogspot.com/2010/10/cara-memasang-banner-di-bawah-posting.html#sthash.TrMBEyDs.dpuf

Selasa, 24 Juni 2014

Balada (Tukang) Pompa

Ini curhat bukan sembarang curhat. Keliatannya curhat sepele, tapi yang namanya curhat cerdas ujung-ujungnya tetap ada unsur sharing something useful.

Begini ceritanya...

Sabtu jam 07.00, masih terlalu pagi untuk ukuran weekend, tapi sudah ada yang ngetok-ngetok pintu kamar sambil bilang, "Airnya kok kecil sih keluarnya?". Karena malas beranjak dari kasur dan gulungan bed cover, kuabaikan suara itu. Jam 09.00, baru selesai mandi pagi, baru beberapa langkah keluar kamar mandi dan tubuh masih dililit handuk. PRT teriak-teriak, "Pompanya bau kebakar. Bau banget". Tanpa pikir panjang, langsung mendekat ke arah pompa dan bau terbakarnya memang benar-benar menyengat.

Panik, bingung, kebetulan orang tuaku sedang keluar kota. Akhirnya kutelepon orang tuaku, mereka suruh cabut steker (colokan listrik) pompa dan toren (tangki) air supaya tidak terbakar. Sebelum dicabut, buru-buru kukumpulkan ember-ember yang ada untuk menampung air, bathtub yang biasanya jadi tempat berendam beralih fungsi menjadi tempat menampung air.

Berhubung tukang servis pompa di sekitar rumah sering getok, kupanggillah tukang listrik yang sudah terpercaya dan memang pernah beberapa kali servis instalasi listrik di rumahku. Ya namanya tukang servis listrik, bukan tukang servis pompa, dia hanya berhasil mendeteksi bahwa yang rusak dinamonya, harus beli baru, sebab jika digulung dan dipasang lagi maka besok-besok akan terbakar lagi, pompanya akan mati lagi.

Berdasarkan hasil diskusi dengan kedua orang tuaku via telepon dan BBM, akhirnya diputuskan untuk membeli pompa baru. Lengkap 1 set : pompa, dinamo, mesin jet seharga Rp.3.000.000 plus Rp. 200.000 ongkos tukang yang akan memasang pompa. Singkat cerita, jam 20.00 terpasanglah pompa air baru dan air mengalir kembali.

Eiiits!, cerita belum selesai, he..he..he.... Jam 02.00 dini hari, pompa bermasalah lagi, pompa berbunyi keras dan air tidak mengalir. Dini hari itu juga, dengan mata setengah terpejam, kucabut steker (colokan listrik) pompa dan toren (tangki) air. Sialnya, air yang kemarin ditampung sampai berember-ember sudah terpakai dan tinggal tersisa 1 ember berukuran sedang. Terpaksa pagi-pagi ngetok-ngetok rumah tetangga sebelah untuk minta air. Please deh!, selain ganggu kebiasaanku bangun siang setiap weekend atau libur, ini juga ganggu bobo' cantik orang lain.

Tukang yang pasang pompa kupanggil lagi, dia bilang kerusakannya di mesin jet yang di bawah tanah, harus diganti dengan mesin jet baru yang ada di 1 set pompa yang kemarin dibeli, ongkosnya Rp. 350.000.

"Loh kok gak sekalian diperiksa waktu pasang pompa kemarin?, kalau begini kan double ongkos."

"Kemarin gak ada tanda-tanda mesin jetnya rusak, Mbak!. Lagian kemarin atau sekarang ya tetap ada ongkosnya, sama 350.000 juga," kilah si tukang pompa.

OK!, daripada berdebat panjang lebar, lebih baik perbaiki pompanya. Setelah pompa selesai diperbaiki, air kembali mengalir, sebelum pulang si tukang pompa kasih 'pesan sponsor'. "Kaya'nya sumurnya bermasalah tuh, Mbak. Harus didalemin lagi. Ongkosnya 6.000.000, air jadi lebih banyak, gak keruh, bisa langsung diminum. Kalo sama saya yaaa...5.000.000 aja deh buat Mbak, harga special."

Perasaanku langsung gak enak, hidungku ini seperti langsung mencium gelagat jahat dari si tukang pompa. Benar saja, besoknya, pas mau wudhu untuk sholat subuh, lagi-lagi air tidak mengalir. Saking geramnya, aku langsung kontak toko tempat membeli pompa. Setelah konfirmasi dengan Cik penjual pompa, barulah diketahui bahwa dugaanku benar, tukang pompa melakukan kecurangan.

Mesin jet seharusnya diperiksa saat pemasangan pompa baru, biar kalau rusak sekalian bisa langsung diganti. Ongkos servis dan ganti mesin jet juga hanya Rp. 200.000, bukan Rp. 350.000. Cik penjual pompa heran kenapa pas pompa mati (lagi) kok langsung kontak tukang pompa, seharusnya kontak ke toko dulu, toh masih ada garansi toko, jadi seharusnya gratis. Untunglah Cik tipe pedagang yang enggan mengecewakan pelanggan, dipanggilnya tukang servis penipu itu, disuruh membetulkan pompa di bawah pengawasannya, jadi dia gak berani tipu-tipu lagi.

So, air merupakan hal vital dalam kehidupan, pompa mati dan air tidak mengalir sehari saja pasti terasa susahnya. Tidak semua tukang servis pompa senang getok dan tipu-tipu, tapi alangkah baiknya kalau kita tetap selektif memilih. Bisa jadi tokonya (owner) tidak bermasalah tapi tukang servisnya yang cari masalah, dalam kasus saya ini kebetulan tukang servisnya bukan pegawai tetap di toko tersebut, hanya tukang servis lepas yang diajak kerja sama dengan sistem bagi hasil. Seharusnya sih sempatkan waktu untuk searching tentang masalah-masalah pompa air, supaya nyambung dan gak bego-bego banget pas ngomong sama tukang pompa. Andai tidak berselang lama setelah pemasangan atau servis ternyata barang rusak lagi, lebih aman kontak tokonya saja.

- See more at: http://artikelkomputerku.blogspot.com/2010/10/cara-memasang-banner-di-bawah-posting.html#sthash.TrMBEyDs.dpuf

Senin, 14 April 2014

Bekal Makan Siang

Mendekati jam makan siang, yang di kantor pasti sudah mulai mikir-mikir mau makan siang apa hari ini (yang enak, bersih, dan beda dari hari kemarin, supaya gak bosen), mahasiswa yang di kampus juga pasti lagi mikir-mikir enaknya makan apa siang ini (yang murah tapi porsinya banyak supaya kenyang, kalau bisa saking kenyangnya sampai gak perlu makan malam lagi). Mungkin begitu juga anak-anak sekolah, pas bel istirahat menjerit mereka langsung menyerbu kantin, pesan makanan sesuai keinginan, entah berapa orang dari mereka yang ingat pesan mama : "Jangan jajan sembarangan!", "Pilih makanan yang bersih ya!", "Kalau jajan tuh makanan sehat dong!".

Oh ya!, ngomong-ngomong soal makan siang, tanggal 12 April adalah Hari Bawa Bekal Nasional. Baru tau ya?!, sama dong!, saya juga baru tau, maklum baru dideklarasikan tahun 2013. Dilihat dari aksi kampanye yang diselenggarakan di 4 kota (Jakarta, Medan, Pontianak, Makassar), target segmen Gerakan Ayo Bawa Bekal adalah anak-anak sekolah, di Jakarta pun acara digelar di SDN 01 Menteng. Tujuannya tentulah seputar gizi dan kesehatan, selain lebih hemat, dengan membawa bekal pastilah asupan gizi, kebersihan dan kesehatan makanan yang dikonsumsi lebih terjamin. Kenyataannya agak berbeda, bukan cuma anak-anak sekolah yang bawa bekal, tapi mahasiswa dan orang kerja juga ada yang masih bawa bekal.

Bekal Jaman SD vs Bekal ke Kantor

Waktu SD, saya hampir tak pernah jajan dan tak pernah bawa uang jajan ke sekolah, setiap hari saya bawa bekal. Kadang-kadang bosan juga, tapi ibu saya tak pernah bosan menyiapkan kotak makan berisi bekal untuk saya makan saat istirahat.

Ada masa-masa dimana membawa bekal itu seperti membawa beban. Tas saya sudah penuh dengan buku-buku dan peralatan sekolah, jika ditambah kotak makan maka sama artinya menambah berat beban yang harus saya sandang. Saat jam istirahat tiba, makanannya sudah dingin, beda dengan makanan teman-teman yang baru dibeli di kantin, fresh from the oven. Kadang saya memilih untuk jajan di kantin bareng teman-teman dan tidak memakan bekal, sampai di rumah pasti dimarahi ibu karena dianggap tidak menghargai masakan ibu. Ya memang special effort bagi ibu untuk bangun pagi-pagi lalu menyiapkan bekal, wajar kalau reaksinya berupa marah saat bekal tidak saya makan.

Lain dulu lain sekarang, saat saya sudah bekerja. Tiap akan membayar menu makan siang yang sudah dipesan di kantin, kok rasanya berat mengeluarkan uang, resleting dompet seakan-akan mendadak nyangkut dan uangnya susah dikeluarkan. Maklum, bayarnya pakai uang sendiri, waktu sekolah kan tinggal minta uang jajan sama orang tua, hehehehe.... Beruntung, ibu saya (masih) tidak bosan menyiapkan kotak makan berisi bekal untuk saya makan saat istirahat, jadilah saya sering membawa bekal ke kantor. Tidak setiap hari memang, ada kalanya saya ingin santap makanan hangat dan segar, biasanya saya memilih seporsi soto ayam Lamongan plus nasi, tapi lebih sering membawa bekal ketimbang beli. Rupanya saya tidak sendiri, beberapa orang teman juga membawa bekal dari rumah, bahkan yang laki-laki juga tidak malu membawa bekal. Ada yang disiapkan oleh ibunya, sama seperti saya, tapi ada juga yang mau memasak dan menyiapkan sendiri bekalnya.

Selain lebih hemat, membawa bekal juga menolong kami ketika hujan. Kalau hujan biasanya malas harus berpayung ria ke kantin, apalagi kalau hujannya deras, bisa-bisa habis makan nanti basah semua pakaian dan sepatu. Saat antrean pekerjaan menumpuk dan berat beranjak dari meja kerja, cukup buka kotak makan dan santap siang sambil tetap melanjutkan pekerjaan di depan komputer. Oh ya, karena status kami masih trainee dan hasil Medical Check Up di akhir tahun nanti akan ikut menentukan dapat diangkat atau tidaknya kami menjadi karyawan tetap, maka membawa bekal juga menyelamatkan dari godaan bebek goreng, sate kambing, soto betawi full jeroan yang berisiko kolesterol.

Itulah cerita tentang membawa bekal makan siang. Jangan lupa berterima kasih kepada orang yang tak pernah bosan menyiapkan bekal. Suatu hari nanti, entah berapa lama lagi, barangkali tiba giliran saya berpindah posisi menjadi orang yang bertugas menyiapkan bekal untuk anak-anak atau suami tercinta.

- See more at: http://artikelkomputerku.blogspot.com/2010/10/cara-memasang-banner-di-bawah-posting.html#sthash.TrMBEyDs.dpuf

Jumat, 11 April 2014

Tolooong! Amygdala-ku Dibajak...

Ada yang ngerti apa itu pembajakan amygdala (amygdala hijacking)?. Amygdala itu apa ya?, sejenis makanan atau tipe gadget terbaru ya?. Sebagian orang mungkin sudah familiar dengan amygdala, tapi sebagian orang lainnya mungkin baru pertama kali mengenal amygdala saat membaca tulisan saya ini. Saya pun belum lama mengenal amygdala, dikenalkan oleh Pak Anthony Dio Martin pada suatu hari di daerah Puncak.

Amygdala merupakan bagian otak yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan memori yang terkait dengan emosi. Memori yang disimpan di amygdala awalnya berupa informasi (bisa berupa pengalaman, wawasan, pengetahuan) yang masuk melalui panca indera dan dimaknai dengan emosi, misalnya rasa takut, marah, curiga, dan lain sebagainya. Saat kita mengalami (melihat, mendengar, mencium, merasa, atau meraba) suatu hal, maka hal tersebut menjadi sebuah informasi yang ditangkap oleh panca indera kemudian dialirkan ke 2 jalur, yang pertama ke thalamus lalu lanjut ke neo cortex, yang kedua ke amygdala. Informasi dari thalamus ke amygdala dapat bergerak dalam satuan 12/1000 detik, lebih cepat dari sekali bernapas, sehingga amygdala mampu merespon secepat kilat meskipun neo cortex belum menerima dan mengenali keseluruhan informasi yang mengalir dari thalamus.

Ada kalanya kita mengalami hal yang memicu memori dan emosi tertentu, saat kita lekas ambil tindakan, itu berarti amygdala sedang bekerja. Orang awam menyebutnya reflek. Misalnya, pedagang kaki lima (PKL) yang sedang berjualan di trotoar, kemudian mendengar sirine atau melihat mobil Sat Pol PP melintas di kejauhan, para PKL langsung bubar dan lari tunggang langgang karena takut dirazia Sat Pol PP, takut gerobaknya disita dan tidak bisa jualan lagi.

Amygdala dikaruniakan Tuhan kepada makhlukNya sebagai alat pendorong untuk sigap bertindak dan merespon suatu kejadian, jika kejadian tersebut berbahaya maka dapat segera melakukan tindakan untuk melindungi diri. Pada dasarnya, respon sigap dari amygdala berdampak positif, namun yang namanya pembajakan biasanya berdampak negatif.

Amygdala Hijacking di Suatu Pagi

Tadi pagi, baru saja saya jadi korban amygdala hijacking, tapi syukurnya dalam taraf sangat ringan, kerugiannya pun sangat kecil. Sehabis mandi pagi, akan berpakaian dan siap berangkat kerja, tiba-tiba saya melihat celana tidur yang biasa saya pakai tergeletak di atas tumpukan pakaian-pakaian bekas. Pakaian-pakaian itu biasanya akan dipensiunkan, entah dijadikan serbet karena sudah sobek dan lusuh atau akan disumbangkan karena sudah kekecilan.

Rasa kesal langsung menjalar ke dada, celana itu paling enak dipakai, bahannya empuk, adem, dan nyaman walaupun ada sedikit sobek. Pagi itu memang saya sedang uring-uringan, bangun kesiangan gara-gara badan pegal-pegal, kepikiran kerjaan dan kemacetan yang harus saya hadapi, biasanya kalau berangkat agak siang 10 menit saja kondisi jalan sudah berbeda, lebih macet.

"Apa-apaan ini?!, sekalian aja gue cabik-cabik, biar gak jadi disumbangin, gak bisa dijadiin serbet juga," kataku sambil merobek-robek celana.

Setelah celana tercabik-cabik, sedikit rasa puas menyeruak dari hati, dan ibuku bertanya penuh heran. "Kok celananya disobek-sobek?."

"Ini celanaku masih bagus, cuma sobek sedikit aja, kok udah ditumpuk di sini?!," aku nyolot, nada suaraku tinngi.

"Itu mau dijahit, tadi ditaruh sebentar di situ soalnya mau ambil benang sama jarum dulu."

Waduh!, nyesel campur malu. Celana itu akhirnya bener-bener gak bisa disumbangin, gak bisa dijadiin serbet, dan gak bisa dipake lagi. Hiks!.... Ternyata yang bisa dibajak bukan cuma pesawat, FB, Twitter, atau BB, tapi amygdala (otak) juga bisa dibajak. So, jaga baik-baik si amygdala, selektiflah terhadap informasi yang ditangkap panca indera.

Oh ya!, tips dari Pak Anthony Dio Martin untuk menghindari amygdala hijacking, berilah jeda selama 6 detik dari waktu kita mengalami sebuah kejadian dengan waktu kita mengambil tindakan. Ya!, 6 detik, hanya 6 detik, tak perlu 6 menit, 6 jam, apalagi 6 hari. Cukup 6 detik yang menyelamatkan dari tindakan merugikan berujung penyesalan.

- See more at: http://artikelkomputerku.blogspot.com/2010/10/cara-memasang-banner-di-bawah-posting.html#sthash.TrMBEyDs.dpuf

Minggu, 09 Maret 2014

Berdayung Sambil Belajar

Masih tentang pengalaman mengalahkan diri sendiri, masih berhubungan dengan kegiatan outdoor training di Waduk Jatiluhur. Ini cerita paling berkesan yang terjadi menjelang berakhirnya outdoor training. Karena tujuan outdoor training ini bukan hanya teamwork building melainkan juga character building, maka ada 2 aktifitas solo track yaitu solo camp dan solo paddle. 

Saat solo camp, peserta harus mendirikan tenda kecil untuk dirinya sendiri, tidur sendiri di tenda tersebut, cukup berjarak antara tenda seorang peserta dengan peserta lainnya. Bayangkan!, solo camp di hutan dan waktu itu pas malam Jum'at. Gangguan serangga-serangga hutan juga ikut membuat takut, mulai dari nyamuk dan semut hutan yang gigitannya sakit sekali, katak kecil, suara jangkrik lumayan membunuh sunyi, ulat hijau super gendut yang nemplok anteng di pohon, hinggaaaa...ular. Untunglah panitia membekali peserta dengan lotion anti nyamuk dan minyak tawon, terbukti ampuh menangkal gangguan serangga-serangga hutan. Solo camp memberi kesempatan kepada para peserta untuk merenung dan berpikir sejernih mungkin, apa tujuan diikutkan outdoor training?, apa saja yang didapat dari outdoor training?, lalu apa rencana setelah outdoor training?.

Solo paddle, inilah yang paling berkesan bagi saya. Setiap peserta diberi pelampung (life vest), ban hitam (yang biasa digunakan untuk mengevakuasi korban banjir), dayung, tali tambang, 4 bilah bambu, air minum, dan snack. Peserta disuruh merakit perahu dari ban hitam, tali tambang, dan 4 bilah bambu, kemudian mendayung hingga seberang waduk. Jarak yang harus ditempuh cukup jauh, tapi bis yang akan membawa kami pulang ada di seberang sana, kalau tidak mendayung sampai seberang ya berarti tidak bisa pulang.

Kata instruktur, "Tidak ada kompetisi, tidak ada batasan waktu, sesama peserta dilarang bekerja sama, yang harus kamu lakukan adalah merescue dirimu sendiri. Peradaban menanti kalian di seberang sana!."

Aku, Motivator Terbaikku

Jujur, tak tertahan takut yang saya rasakan. Bingung untuk memulai, saya belum pernah merakit perahu dan tidak paham caranya, saya belum pernah mendayung sendirian, saya tidak bisa berenang. Akhirnya saya coba bicara dengan instruktur.

"Bang!, saya belum pernah merakit perahu, saya gak ngerti caranya, saya gak bisa berenang."

"Peradaban menunggu kamu di seberang sana. Kamu mau pulang kan?!."

"Gimana saya bisa selamat sampai ke seberang kalau perahu saya jelek kaya' gini, Bang?."

"Coba dulu!. Lihat teman-temanmu!, ada yang perahunya sudah berantakan, mereka tetap berjuang sampai ke seberang, mereka juga belum pernah merakit perahu."

Dalam hati saya bergumam, "Alasan apapun yang gue ajukan, intinya harus tetep merakit perahu dan mendayung sampai seberang. PD ajalah!, habis mau gimana lagi?!."

"OK, Bang!. Itu artinya saya harus tetap mendayung sampai ke seberang. Kalau begitu, tolong kasih saya motivasi supaya saya berani, Bang!."

"Minta motivasi sama saya?. Ngapain?. Motivasi itu ada di dalam diri kamu, bukan dari orang lain. Kalau saya kasih kamu support, saya yakinkan kamu habis-habisan, tapi kamu sendiri gak yakin dan gak mau gerak, kira-kira motivasi dan support dari saya ada gunanya gak?."

Kalimat retoris instruktur tadi membuat takut saya tiba-tiba menguap hilang, entah kemana, dan mulailah saya mendayung. Ternyata tidak semenakutkan yang saya bayangkan, dinikmati saja, lama-lama malah terasa rileks. Terlintas lelucon seorang teman saat kuliah dulu : "Hidup tak seindah cocot Mario Teguh". Tentu bukan salah sang motivator jika ada orang yang tak termotivasi kata-kata mereka, sebab kenyataannya : motivator terbaik adalah diri sendiri.

- See more at: http://artikelkomputerku.blogspot.com/2010/10/cara-memasang-banner-di-bawah-posting.html#sthash.TrMBEyDs.dpuf

Senin, 17 Februari 2014

Saya (Belum) Berhasil

Pengalaman mengalahkan diri sendiri selalu menjadi cerita tak terlupakan bahkan bisa menginspirasi orang lain. Alhamdulillah, tanggal 4-7 Februari 2014 kemarin, saya mendapat kesempatan yang sangat berharga : kesempatan untuk mengalahkan diri sendiri. Bagaimana ceritanya?. Apakah seru?, atau malah menegangkan?. Inilah kisahnya.

Pengalaman Pertama

Diterima di program HRDP (Human Resources Development Program) Kompas Gramedia, diwajibkan mengikuti serangkaian training selama 11 bulan, salah satu dari serangkaian training tersebut adalah outdoor training di Waduk Jatiluhur. Untuk menyelenggarakan kegiatan outdoor training ini, Kompas Gramedia bekerja sama dengan Pancawati.

Jujur, ini pengalaman pertama saya mengikuti outdoor training, sebelumnya saya tidak pernah hiking, camping, saya takut ketinggian, saya tidak bisa berenang, saya menderita asma yang bisa kambuh saat terlalu lelah, lambung saya sering sakit kalau makan tidak teratur dan stress, saya juga alergi dingin. Tak terbayangkan, bagaimana tegangnya saya menghadapi outdoor training ini?!. Sebuah hal yang menambah ketegangan saya, pihak penyelenggara tidak memberi tahu aktifitas apa saja yang akan kita lakukan di sana, sedangkan saya tipe orang yang senang bersiap-siap sebelum berkegiatan, melangkah tanpa persiapan bisa membuat saya tidak PD bahkan panik jika terjadi hal-hal yang di luar dugaan.

Benar saja, setiap hari, bahkan setiap sesi, selalu ada kejutan. Hal-hal di luar dugaan, di luar kebiasaan, di luar batas kemampuan diri tak pernah absen mengiringi 3 hari outdoor training saya. Tidak diperbolehkan membawa HP, maka semua gadget harus dikumpulkan ke panitia hingga acara berakhir pada tanggal 7. Lumpur dimana-mana, karena waktu itu cuaca sedang ekstrim, hujan-panas-hujan-panas-hujan yang tak bisa diprediksi. Tidak mandi dan tidak sikat gigi selama 3 hari, sedangkan saya terbiasa mandi minimal 2 kali sehari dan sikat gigi setiap habis makan. Tidur di tenda, di ruang terbuka, di pinggir waduk, bahkan di hutan dengan alas tidur matras setebal kurang dari 2 cm. Setiap hari berpindah tempat, setiap hari hiking berbekal kompas, peta, serta titik koordinat untuk menemukan lokasi camping hari ini.

Inilah pertama kalinya saya mengerti tentang tenda, ada 2 jenis yaitu La Fuma dan Consina yang masing-masing berbeda cara pemasangannya, saya bisa mendirikan tenda dan membongkarnya kembali. Inilah pertama kalinya saya menggunakan pelampung (life vest) kemudian berenang di waduk, padahal berenang di swimming pool sedalam 3 meter saja saya tidak pernah berani karena tidak bisa berenang. Inilah pertama kalinya saya canoeing, mendayung sampan, yang ternyata enak juga untuk refreshing. Inilah pertama kalinya saya belajar tentang navigasi, menentukan arah dan tujuan menggunakan kompas. Inilah pertama kalinya saya flying fox, takjub rasanya sebab saya takut ketinggian tapi kali ini saya berani dan berhasil flying fox.

Tak dipungkiri, bimbingan dari para instruktur juga mendukung munculnya keberanian saya, bahkan hingga berhasil mengalahkan rasa takut. Meski sepintas dan singkat saja, para instruktur terlebih dahulu mengajari para peserta bagaimana canoeing, hiking, camping, dan mendayung yang aman, tidak dilepas begitu saja. Keamanan dan keselamatan selalu diutamakan oleh para instruktur yang setia mendampingi para peserta selama outdoor training. Memang, konsekuensinya para peserta dituntut untuk cepat menangkap pelajaran baru, jika belum jelas juga maka learning by doing saja.

Apa yang Saya Dapat?

Kompas Gramedia dan tim Pancawati memiliki target agar para peserta outdoor training berani keluar dari zona nyaman dan berhasil melampaui batasan (kemampuan) diri. Apa yang saya dapat dari outdoor training?, lebih dari sekedar berani keluar dari zona nyaman dan berhasil melampaui batasan (kemampuan) diri. Saya berhasil :
- lebih tangguh dan kuat tapi fleksibel
- mengevaluasi diri dari setiap kesalahan yang pernah dilakukan
- mengalahkan rasa takut
- berani dan tenang menghadapi apapun
- lebih percaya diri melewati segala peristiwa meskipun persiapannya minim, sebab kadang kala kita tak punya cukup waktu untuk bersiap-siap tapi kita tetap dituntut untuk mencapai hasil optimal
- siap dan sanggup menghadapi hal-hal di luar dugaan yang mungkin akan banyak sekali terjadi dalam kehidupan dan karier
- mengatakan dan meyakini bahwa AKU BISA!!! kemudian mulai beraksi mencapai tujuan.

Saya (Belum) Berhasil

Saya sudah berhasil dalam banyak hal, bahkan melebihi target Kompas Gramedia dan tim Pancawati, tapi saya tidak pantas berbangga dan berpuas diri. Semua aktifitas selama outdoor training hanyalah simulasi, begitu pula dengan keberhasilan saya, hanya keberhasilan dalam simulasi. Jika saya (dan seluruh peserta outdoor training) berhasil menaklukkan rintangan di pekerjaan dan kehidupan, barulah layak disebut pemenang. Lebih spesifik, jika seluruh peserta outdoor training berhasil lulus program HRDP dan AEDP (Account Executive Development Program), barulah layak disebut pemenang.

Patut diingat, untuk bisa lulus program HRDP dan AEDP harus melewati serangkaian training yang diwarnai oleh in class training yang kadang membosankan, ujian-ujian, 2 kali OJT (on the job training) lengkap dengan tugas-tugas dan penilaian-penilaian, belum termasuk lika-liku, tantangan-tantangan, serta target (khusus AEDP yang tugasnya mencari iklan). So, welcome to the real life!. Selamat berjuang!, jadilah pemenang!.

- See more at: http://artikelkomputerku.blogspot.com/2010/10/cara-memasang-banner-di-bawah-posting.html#sthash.TrMBEyDs.dpuf

Kamis, 16 Januari 2014

Rekor MURI Zaskia Gotik

Siapa yang tak kenal Zaskia Gotik?. Drama pertunangannya yang santer terdengar se-Indonesia masih segar di ingatan, belum lagi buntut panjang dari drama pertunangan itu heboh menghiasi TV, mulai dari infotainment hingga talkshow.

Zaskia Gotik bergoyang itik.
Ketika orang-orang ditanya : "Apa yang kamu ingat tentang Zaskia Gotik?", jawabannya bermacam-macam : goyang itik, penyanyi dangdut, seksi, Satu Jam Saja (judul lagunya), Vicky Prasetyo, serta sederetan kata-kata aneh bin ajaib yang mendadak populer dan sering ditirukan sebagai lucu-lucuan.

Drama pertunangan Zaskia Gotik & Vicky Prasetyo. Pertunangan tersensasional tahun 2013 se-Indonesia.
Itulah kira-kira image atau citra Zaskia Gotik yang terlanjur terbentuk dan melekat pada dirinya. Citra itu diperburuk oleh citra Vicky Prasetyo dengan kata-kata aneh bin ajaibnya, carut marut track recordnya sebagai orang yang diduga banyak melakukan penipuan, serta rentetan sensasi-sensasi yang terus menerus bermunculan pasca kandasnya pertunangan mereka. Istilah kerennya, co-branding yang merugikan.

Vicky Prasetyo dan kata-kata aneh bin ajaibnya.
Semalam saya menonton Hitam Putih, katanya itulah episode terakhir talkshow inspiratif ini, ada sesi Are You Smarter Than Me dimana 2 orang penonton beradu wawasan dengan Deddy Corbuzier layaknya acara kuis. Di sesi itu, ada pertanyaan tentang Zaskia Gotik yang baru mencetak rekor MURI, rekor apakah yang berhasil dicetak?. Tak ada yang bisa menjawab pertanyaan tersebut, Deddy Corbuzier dan kedua orang peserta tidak dapat menjawabnya, begitu pula penonton di studio. Saya malah menduga rekor yang berhasil dicetak Zaskia Gotik adalah pertunangan tersensasional. Ternyata rekor yang berhasil dicetak Zaskia Gotik adalah syuting video klip terbanyak dalam waktu 24 jam.

Walaupun banyak yang tidak tahu berita ini, setidaknya ini sebuah langkah tepat yang diambil Zaskia Gotik. Rekor yang dicetaknya merupakan hal positif yang akan berimbas baik pada karirnya sebagai penyanyi dangdut sekaligus gebrakan di awal tahun 2014. Sejalan dengan niatnya, rekor ini berpotensi menetralisir berita-berita miring tentang dirinya yang terlanjur membentuk image kurang baik. Yaaa...meskipun memperbaiki image tak semudah membalik telapan tangan, tak mungkin berhasil dalam semalam, mustahil tinggal "criiiing!" layaknya sulapan.

Semoga saja pihak-pihak yang ikut berpartisipasi menghebohkan berita-berita Zaskia Gotik, mungkin termasuk kita yang rajin menyimak liputannya di TV, bisa menerima dan mengakui image positif seorang Zaskia Gotik dengan bijaksana. Sebab sebuah hal lumrah jika citra mengalami naik turun, seperti halnya roda kehidupan yang berputar atau sewajar bisnis yang kadang mengalami fluktuasi, kelak saat citra kita menurun maka jangan ragu untuk menaikkannya kembali dengan cara-cara yang tepat, semoga orang lain mau dan mampu menilai dengan bijak.

- See more at: http://artikelkomputerku.blogspot.com/2010/10/cara-memasang-banner-di-bawah-posting.html#sthash.TrMBEyDs.dpuf