Tampilkan postingan dengan label HRDP. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label HRDP. Tampilkan semua postingan

Minggu, 09 Maret 2014

Berdayung Sambil Belajar

Masih tentang pengalaman mengalahkan diri sendiri, masih berhubungan dengan kegiatan outdoor training di Waduk Jatiluhur. Ini cerita paling berkesan yang terjadi menjelang berakhirnya outdoor training. Karena tujuan outdoor training ini bukan hanya teamwork building melainkan juga character building, maka ada 2 aktifitas solo track yaitu solo camp dan solo paddle. 

Saat solo camp, peserta harus mendirikan tenda kecil untuk dirinya sendiri, tidur sendiri di tenda tersebut, cukup berjarak antara tenda seorang peserta dengan peserta lainnya. Bayangkan!, solo camp di hutan dan waktu itu pas malam Jum'at. Gangguan serangga-serangga hutan juga ikut membuat takut, mulai dari nyamuk dan semut hutan yang gigitannya sakit sekali, katak kecil, suara jangkrik lumayan membunuh sunyi, ulat hijau super gendut yang nemplok anteng di pohon, hinggaaaa...ular. Untunglah panitia membekali peserta dengan lotion anti nyamuk dan minyak tawon, terbukti ampuh menangkal gangguan serangga-serangga hutan. Solo camp memberi kesempatan kepada para peserta untuk merenung dan berpikir sejernih mungkin, apa tujuan diikutkan outdoor training?, apa saja yang didapat dari outdoor training?, lalu apa rencana setelah outdoor training?.

Solo paddle, inilah yang paling berkesan bagi saya. Setiap peserta diberi pelampung (life vest), ban hitam (yang biasa digunakan untuk mengevakuasi korban banjir), dayung, tali tambang, 4 bilah bambu, air minum, dan snack. Peserta disuruh merakit perahu dari ban hitam, tali tambang, dan 4 bilah bambu, kemudian mendayung hingga seberang waduk. Jarak yang harus ditempuh cukup jauh, tapi bis yang akan membawa kami pulang ada di seberang sana, kalau tidak mendayung sampai seberang ya berarti tidak bisa pulang.

Kata instruktur, "Tidak ada kompetisi, tidak ada batasan waktu, sesama peserta dilarang bekerja sama, yang harus kamu lakukan adalah merescue dirimu sendiri. Peradaban menanti kalian di seberang sana!."

Aku, Motivator Terbaikku

Jujur, tak tertahan takut yang saya rasakan. Bingung untuk memulai, saya belum pernah merakit perahu dan tidak paham caranya, saya belum pernah mendayung sendirian, saya tidak bisa berenang. Akhirnya saya coba bicara dengan instruktur.

"Bang!, saya belum pernah merakit perahu, saya gak ngerti caranya, saya gak bisa berenang."

"Peradaban menunggu kamu di seberang sana. Kamu mau pulang kan?!."

"Gimana saya bisa selamat sampai ke seberang kalau perahu saya jelek kaya' gini, Bang?."

"Coba dulu!. Lihat teman-temanmu!, ada yang perahunya sudah berantakan, mereka tetap berjuang sampai ke seberang, mereka juga belum pernah merakit perahu."

Dalam hati saya bergumam, "Alasan apapun yang gue ajukan, intinya harus tetep merakit perahu dan mendayung sampai seberang. PD ajalah!, habis mau gimana lagi?!."

"OK, Bang!. Itu artinya saya harus tetap mendayung sampai ke seberang. Kalau begitu, tolong kasih saya motivasi supaya saya berani, Bang!."

"Minta motivasi sama saya?. Ngapain?. Motivasi itu ada di dalam diri kamu, bukan dari orang lain. Kalau saya kasih kamu support, saya yakinkan kamu habis-habisan, tapi kamu sendiri gak yakin dan gak mau gerak, kira-kira motivasi dan support dari saya ada gunanya gak?."

Kalimat retoris instruktur tadi membuat takut saya tiba-tiba menguap hilang, entah kemana, dan mulailah saya mendayung. Ternyata tidak semenakutkan yang saya bayangkan, dinikmati saja, lama-lama malah terasa rileks. Terlintas lelucon seorang teman saat kuliah dulu : "Hidup tak seindah cocot Mario Teguh". Tentu bukan salah sang motivator jika ada orang yang tak termotivasi kata-kata mereka, sebab kenyataannya : motivator terbaik adalah diri sendiri.

- See more at: http://artikelkomputerku.blogspot.com/2010/10/cara-memasang-banner-di-bawah-posting.html#sthash.TrMBEyDs.dpuf

Senin, 17 Februari 2014

Saya (Belum) Berhasil

Pengalaman mengalahkan diri sendiri selalu menjadi cerita tak terlupakan bahkan bisa menginspirasi orang lain. Alhamdulillah, tanggal 4-7 Februari 2014 kemarin, saya mendapat kesempatan yang sangat berharga : kesempatan untuk mengalahkan diri sendiri. Bagaimana ceritanya?. Apakah seru?, atau malah menegangkan?. Inilah kisahnya.

Pengalaman Pertama

Diterima di program HRDP (Human Resources Development Program) Kompas Gramedia, diwajibkan mengikuti serangkaian training selama 11 bulan, salah satu dari serangkaian training tersebut adalah outdoor training di Waduk Jatiluhur. Untuk menyelenggarakan kegiatan outdoor training ini, Kompas Gramedia bekerja sama dengan Pancawati.

Jujur, ini pengalaman pertama saya mengikuti outdoor training, sebelumnya saya tidak pernah hiking, camping, saya takut ketinggian, saya tidak bisa berenang, saya menderita asma yang bisa kambuh saat terlalu lelah, lambung saya sering sakit kalau makan tidak teratur dan stress, saya juga alergi dingin. Tak terbayangkan, bagaimana tegangnya saya menghadapi outdoor training ini?!. Sebuah hal yang menambah ketegangan saya, pihak penyelenggara tidak memberi tahu aktifitas apa saja yang akan kita lakukan di sana, sedangkan saya tipe orang yang senang bersiap-siap sebelum berkegiatan, melangkah tanpa persiapan bisa membuat saya tidak PD bahkan panik jika terjadi hal-hal yang di luar dugaan.

Benar saja, setiap hari, bahkan setiap sesi, selalu ada kejutan. Hal-hal di luar dugaan, di luar kebiasaan, di luar batas kemampuan diri tak pernah absen mengiringi 3 hari outdoor training saya. Tidak diperbolehkan membawa HP, maka semua gadget harus dikumpulkan ke panitia hingga acara berakhir pada tanggal 7. Lumpur dimana-mana, karena waktu itu cuaca sedang ekstrim, hujan-panas-hujan-panas-hujan yang tak bisa diprediksi. Tidak mandi dan tidak sikat gigi selama 3 hari, sedangkan saya terbiasa mandi minimal 2 kali sehari dan sikat gigi setiap habis makan. Tidur di tenda, di ruang terbuka, di pinggir waduk, bahkan di hutan dengan alas tidur matras setebal kurang dari 2 cm. Setiap hari berpindah tempat, setiap hari hiking berbekal kompas, peta, serta titik koordinat untuk menemukan lokasi camping hari ini.

Inilah pertama kalinya saya mengerti tentang tenda, ada 2 jenis yaitu La Fuma dan Consina yang masing-masing berbeda cara pemasangannya, saya bisa mendirikan tenda dan membongkarnya kembali. Inilah pertama kalinya saya menggunakan pelampung (life vest) kemudian berenang di waduk, padahal berenang di swimming pool sedalam 3 meter saja saya tidak pernah berani karena tidak bisa berenang. Inilah pertama kalinya saya canoeing, mendayung sampan, yang ternyata enak juga untuk refreshing. Inilah pertama kalinya saya belajar tentang navigasi, menentukan arah dan tujuan menggunakan kompas. Inilah pertama kalinya saya flying fox, takjub rasanya sebab saya takut ketinggian tapi kali ini saya berani dan berhasil flying fox.

Tak dipungkiri, bimbingan dari para instruktur juga mendukung munculnya keberanian saya, bahkan hingga berhasil mengalahkan rasa takut. Meski sepintas dan singkat saja, para instruktur terlebih dahulu mengajari para peserta bagaimana canoeing, hiking, camping, dan mendayung yang aman, tidak dilepas begitu saja. Keamanan dan keselamatan selalu diutamakan oleh para instruktur yang setia mendampingi para peserta selama outdoor training. Memang, konsekuensinya para peserta dituntut untuk cepat menangkap pelajaran baru, jika belum jelas juga maka learning by doing saja.

Apa yang Saya Dapat?

Kompas Gramedia dan tim Pancawati memiliki target agar para peserta outdoor training berani keluar dari zona nyaman dan berhasil melampaui batasan (kemampuan) diri. Apa yang saya dapat dari outdoor training?, lebih dari sekedar berani keluar dari zona nyaman dan berhasil melampaui batasan (kemampuan) diri. Saya berhasil :
- lebih tangguh dan kuat tapi fleksibel
- mengevaluasi diri dari setiap kesalahan yang pernah dilakukan
- mengalahkan rasa takut
- berani dan tenang menghadapi apapun
- lebih percaya diri melewati segala peristiwa meskipun persiapannya minim, sebab kadang kala kita tak punya cukup waktu untuk bersiap-siap tapi kita tetap dituntut untuk mencapai hasil optimal
- siap dan sanggup menghadapi hal-hal di luar dugaan yang mungkin akan banyak sekali terjadi dalam kehidupan dan karier
- mengatakan dan meyakini bahwa AKU BISA!!! kemudian mulai beraksi mencapai tujuan.

Saya (Belum) Berhasil

Saya sudah berhasil dalam banyak hal, bahkan melebihi target Kompas Gramedia dan tim Pancawati, tapi saya tidak pantas berbangga dan berpuas diri. Semua aktifitas selama outdoor training hanyalah simulasi, begitu pula dengan keberhasilan saya, hanya keberhasilan dalam simulasi. Jika saya (dan seluruh peserta outdoor training) berhasil menaklukkan rintangan di pekerjaan dan kehidupan, barulah layak disebut pemenang. Lebih spesifik, jika seluruh peserta outdoor training berhasil lulus program HRDP dan AEDP (Account Executive Development Program), barulah layak disebut pemenang.

Patut diingat, untuk bisa lulus program HRDP dan AEDP harus melewati serangkaian training yang diwarnai oleh in class training yang kadang membosankan, ujian-ujian, 2 kali OJT (on the job training) lengkap dengan tugas-tugas dan penilaian-penilaian, belum termasuk lika-liku, tantangan-tantangan, serta target (khusus AEDP yang tugasnya mencari iklan). So, welcome to the real life!. Selamat berjuang!, jadilah pemenang!.

- See more at: http://artikelkomputerku.blogspot.com/2010/10/cara-memasang-banner-di-bawah-posting.html#sthash.TrMBEyDs.dpuf

Selasa, 31 Desember 2013

6 Tahap Pemutus Rantai Gajah

Membaca Rantai Gajah, tulisan Pak Darmawan Aji yang di posting di www.darmawanaji.com, saya terusik oleh 3 baris terakhir : "Gajah itu terbelenggu, bukan terbelenggu oleh rantainya, namun terbelenggu oleh pikirannya sendiri sehingga ia tak mampu membebaskan potensinya sendiri. Bagaimana dengan kita kawan?". Kalimat tanya yang menutup tulisan itu juga membuat saya mengoreksi diri, masih adakah mental block dalam diri saya?. 

Pak Darmawan Aji adalah orang pertama yang mengajarkan saya tentang hipnosis. Kalau tidak salah, September 2009 silam merupakan pertemuan pertama saya dengan beliau. Waktu itu saya masih mahasiswa Universitas Padjadjaran, suatu hari saya mencoba mengisi waktu luang dengan ikut seminar tentang self hypnosis di ComLabs ITB dan beliaulah pembicaranya, itulah pertama kalinya saya mengenal hipnosis secara ilmiah.

6 Tahap

Belum lama ini saya mengalami sebuah pengalaman dalam hidup saya, pengalaman itu berkaitan dengan rantai gajah atau belenggu potensi diri alias mental block, pengalaman itu adalah serangkaian tes seleksi karyawan Kompas Gramedia. Seleksi yang sudah pernah saya ikuti pada tahun 2011, beberapa bulan saja setelah saya wisuda, dan saya gagal di tes tahap 1 padahal saya berharap besar saat itu, maklum fresh graduate yang masih jobless pasti dihujani pertanyaan dan tuntutan seputar pekerjaan.

Dimulai dari tanggal 22 November 2013, walk in interview. Saya sampai di kantor Kompas Gramedia sekitar pukul 08.30 WIB, sudah dapat nomer antrian 240-an. Prosesnya sangat cepat, interview dilakukan per term, masing-masing 1 jam, kemudian langsung diumumkan siapa yang lolos per term setiap 1 jam sekali. Alhamdulillah saya lolos walk in interview. What's next?, tes tahap 2 dan 3 yaitu psikotes dan kawan-kawannya. Kapan?, keesokan harinya!. Alangkah tidak siapnya saya, sangat tidak menyangka. Rupanya seleksi ini juga diselenggarakan di 5 kota lainnya (Surabaya, Bandung, Yogyakarta, 2 kota lainnya saya lupa) dan Jakarta adalah kota terakhir sehingga psikotes dilaksanakan langsung keesokan harinya.

Tanggal 23 November 2013, tes tahap 2 dan 3 berlangsung seharian penuh, mulai pukul 08.00 hingga pukul 18.00 WIB. Psikotes dilaksanakan hingga pukul 11.00, kemudian istirahat makan siang dan sholat dzuhur. Pukul 14.00 langsung diumumkan siapa yang lulus psikotes dan Alhamdulillah saya lulus. What's next?, tes tahap 3 yaitu FGD (Focus Group Discussion) yang dinilai oleh seorang psikolog, tes melanjutkan gambar (War Teg Test), tes menggambar pohon dan orang, serta tes berhitung (Pauli - Kraepelin Test) berlangsung hingga pukul 18.00 WIB. Pada tes tahap 2 dan 3 ini, peserta-peserta dari 5 kota lainnya berkumpul di Jakarta. Alhamdulillah saya lulus FGD, War Teg Test, tes menggambar pohon dan orang, serta Pauli - Kraepelin Test. Pengumuman kelulusan saya terima via email seminggu setelah tes.

Kemudian tanggal 6 dan 11 Desember, tes tahap 4 dan 5, masing-masing adalah Project Team Interview dan Interview User. Project Team Interview adalah wawancara yang dilakukan oleh HR dari kantor pusat, sedangkan Interview User adalah wawancara yang dilakukan oleh HR Manager Unit, di unit itulah nanti kita ditempatkan. Alhamdulillah saya juga lulus kedua tahap tes tersebut. Daaaaaannn...tes terakhir yang menurut saya paling membuat deg-degan adalah Medical Check Up. Jujur saja, sudah lama sekali saya tidak berolah raga (kecuali jalan kaki) dan tidak berpola hidup sehat. Medical Check Up cukup lengkap, mulai dari cek darah puasa dan cek darah setelah puasa, rontgen paru-paru, cek urin, tes pendengaran, tes penglihatan, tes buta warna, EKG, cek tensi dan denyut nadi, serta cek fisik dari ujung kepala hingga ujung kaki termasuk cek payudara (bagi perempuan), cek hernia (bagi laki-laki), dan cek wasir (ambeien) di anus.

Alhamdulillah saya lulus juga Medical Check Up ini dan akhirnya saya diterima sebagai karyawan di Kompas Gramedia. Ooops...tunggu dulu!, tes belum berakhir. Masih ada training selama 11 bulan dengan 2 tahap evaluasi dan berlaku sistem gugur. Setelah training barulah diangkat menjadi karyawan tetap dengan ikatan dinas 1 tahun.

Kalau selama ini saya mendengar nasehat : "Manusia ditakdirkan untuk berkompetisi. Sebelum jadi manusia saja sudah harus berkompetisi. Hanya 1 dari jutaan sperma yang dapat membuahi sel telur, kemudian bertahan 9 bulan di kandungan, berjuang saat proses kelahiran, perjuangan panjang saat di dunia, dan semuanya baru berakhir ketika mati. Itulah saat kita mempertanggungjawabkan semua kesempatan indah yang Tuhan berikan", melalui 6 tahap inilah saya alami langsung serangkaian panjang seleksi ketat dan cepat demi sebuah kesempatan berkarir di perusahaan besar dan ternama yang telah berdiri sejak 1963. Bukan hanya itu, 6 tahap inilah yang berhasil memutus rantai gajah atau mental block dalam diri saya.

Rantai Gajah yang Membelenggu

Berdasarkan pengalaman berkali-kali gagal seleksi masuk perusahaan besar dan ternama, seperti Telkom, Bank Mandiri, BNI, Pertamina, OJK (Otoritas Jasa Keuangan), dan yang lainnya yang saya tidak ingat saking keseringan...hehehe..., terbentuklah persepsi dalam benak saya bahwa saya tidak akan pernah bisa diterima apalagi bekerja di perusahaan-perusahaan besar dan ternama. Bahkan saya sering menghindari open recruitment perusahaan-perusahaan besar dan ternama tersebut, daripada kecewa untuk kesekian ratus kalinya.

Mirip seperti gajah yang dirantai sejak kecil, baru saya sadari sekarang bahwa dulu saya hanyalah seorang fresh graduate yang belum punya pengalaman kerja, saya juga jarang bergabung dalam kepanitiaan dan organisasi-organisasi kemahasiswaan, menjawab pertanyaan interviewer dengan terbata-bata karena minimnya wawasan. Saat ini, setelah 1 tahun bekerja ke sana-sini dan 1 tahun menetap di brand consultant, saya sudah jauh lebih kaya dengan pengalaman kerja, pengalaman berinteraksi dengan klien, kemampuan berbicara di hadapan banyak orang, menjawab pertanyaan dengan baik dan benar, serta presentasi memukau juga meningkat. Alhamdulillah 6 tahap inilah yang berhasil memutus rantai gajah, menghancurkan mental block, sebab secara langsung saya membuktikan bahwa saya bisa!.

Tentunya, kesuksesan awal ini tidaklah saya raih sendiri. Banyak dukungan dan do'a yang membantu menguatkan serta melancarkan. Saya sembahkan syukur kepada Alloh S.W.T, saya haturkan terima kasih kepada kedua orang tua, keluarga besar, sahabat-sahabat, teman-teman, dan semua orang yang ikut mendo'akan saya.

Untuk para pembaca, jangan ragu untuk terus mencoba, jangan pasrah dengan belenggu apapun yang merantai diri. Kadang tanpa sadar, kita sudah cukup kuat dan sangat mampu untuk melepaskan belenggu tersebut, hanya kita belum cukup berani untuk melakukannya. Entah masih berapa banyak mental block yang ada di diri saya, tapi Alhamdulillah 1 belenggu sudah terlepas. Terima kasih, Pak Darmawan Aji!.

- See more at: http://artikelkomputerku.blogspot.com/2010/10/cara-memasang-banner-di-bawah-posting.html#sthash.TrMBEyDs.dpuf