Kamis, 31 Oktober 2013

Belajar dari Bidadari Surga



Hari ini, pagi-pagi baru melek mata sudah nonton infotainment, tapi gak nyesel juga karena beritanya tentang Umi Tatu (ibu almarhum Ustadz Jefri Al-Buchori) dan Umi Pipik (istri almarhum Ustadz Jefri Al-Buchori).

Diberitakan, Umi Tatu baru kembali ke tanah air setelah beribadah haji bersama Ustadz Fajar Sidiq (adik almarhum Ustadz Jefri Al-Buchori). Kemudian mereka sekeluarga nyekar ke makam Ustadz Jefri, di saat itulah, melalui awak media yang meliput, Umi Tatu menyampaikan klarifikasi seputar kisruh pemugaran makam Uje. Diliput juga Umi Pipik yang sowan ke rumah ibu mertuanya.

Kemarin-kemarin sempat heboh berita Umi Pipik vs keluarga Uje. Masalah pemugaran makam dan reaksi keras Ustadz Aswan yang berbicara di depan sorot kamera para pewarta dengan nada tinggi serta menyebut-nyebut Umi Pipik sebagai mantan istri almarhum Uje. Tidak tanggung-tanggung, kakak Uje ini membawa-bawa dalil agama sebagai pembenaran ucapannya. Reaksi tersebut banyak menuai komentar negatif, terutama di dunia maya, dan dianggap kurang layak dilakukan oleh seorang ustadz sebab bisa mendegradasi image pemuka agama Islam. Ustadz model begini nih yang nakutin, takut ngajarin takabur ke umat, padahal Rosululloh S.A.W tuh polite dan wise banget loowh. Syukurlah, Ustadz Aswan akhirnya menyampaikan permohonan maaf dan nampaknya berimbas baik pula, bagi citra diri sang ustadz dan hubungan kedua keluarga.

Yang bikin saya gak nyesel nonton infotainment kali ini adalah hikmah yang bisa saya petik dari liputan tersebut. Kebetulan, sejak kematian beliau, saya mengikuti setiap kabar tentang Ustadz Gaul ini. Saya belajar banyak dari sosok Umi Pipik.

Awalnya, Umi Pipik hanyalah istri dan ibu rumah tangga biasa, rutinitasnya kurang lebih ya mengurus suami, rumah, dan anak-anak, belakangan beliau membuka bisnis bersama istri Ustadz Solmed. Saat sang suami meninggal, awalnya beliau benar-benar sedih dan terpukul, tapi usai masa iddah, Umi Pipik mulai bangkit perlahan-lahan, meski duka dan kehilangan tak dapat disembunyikan di antara keikhlasan, kelembutan, dan kesabaran yang memancar dari jiwa serta parasnya yang cantik. Barangkali, keempat orang buah hatinya menjadi alasan terbesar agar dirinya tidak terpuruk berlarut-larut.

Sikap diamnya saat menghadapi berbagai persoalan sepeninggal Uje, termasuk gosip akan segera menikah lagi, merupakan pilihan yang tepat. Dalam diamnya, di setiap sujudnya, pasti banyak do'a yang dipanjatkan kepada Alloh S.W.T, sebenar-benarnya tempat semua manusia memohon segala sesuatu. Kepandaiannya menjaga tali silaturahim yang sempat menegang dengan keluarga almarhum suami juga diiringi dengan kerendahan hati, beliau menolak disebut penceramah karena merasa belum pantas dan syi'ar yang dilakukannya hanya sekedar sharing.

Sebagai saudara sesama muslim, saya do'akan semoga Umi Pipik berhasil membesarkan keempat buah hatinya hingga menjadi orang-orang besar layaknya Abi Uje.  Gak salah nih Uje pilih istri, bener-bener pas sama judul lagunya : Bidadari Surga.

Saya bersyukur nonton infotainment sepagi ini tapi gak sia-sia, ada hikmah berharga yang saya dapat dari peristiwa yang dialami oleh orang lain. Benar kata orang bijak, dari setiap keburukan dan kenestapaan seseorang yang kita ketahui, sesungguhnya kita berutang pelajaran berharga.

- See more at: http://artikelkomputerku.blogspot.com/2010/10/cara-memasang-banner-di-bawah-posting.html#sthash.TrMBEyDs.dpuf

Selasa, 22 Oktober 2013

Escape Plan & Ethnography

Minggu, 20 Oktober 2013, kemarin saya hang out bareng teman-teman ke PIM. Awalnya cuma niat makan-makan, tapi pas lewat XXI dan melirik film-filmnya, jadi lanjut nonton di XXI PIM 2. Sebetulnya pengen banget nonton Manusia Setengah Salmon, berhubung yang lain ngajakin nonton Escape Plan ya jadinya saya nonton Escape Plan juga. Alhamdulillah filmnya bagus, sama sekali tidak mengecewakan, jadi gak bikin nyesel karena menunda nonton Manusia Setengah Salmon.

Setelah beradu akting dalam film The Expendables, Sylvester Stallone dan Arnold Schwarzenegger reunian lagi di film yang awalnya berjudul The Tomb ini, entah kenapa kok judulnya diganti. Selain 'si Rocky Balboa' dan 'si Terminator', Jim Caviezel, Faran Tahir, 50 Cent, Amy Rian, serta bintang-bintang ternama lainnya ikut berperan di film yang disutradarai Mikael Hafstrom. Banyak adegan kekerasan di film ini, ibu-ibu setengah baya yang duduk persis di samping saya saja berkali-kali menutup matanya dan memeluk pundak suaminya demi menghindari adegan kekerasan tersebut.

Escape Plan berkisah tentang Ray Breslin (diperankan oleh Sylvester Stallone), seorang ahli di bidang keamanan sekaligus arsitek penjara yang brillian dan terkemuka, pekerjaannya adalah keluar masuk penjara sebagai seorang napi kemudian meloloskan diri untuk menguji seberapa ketat tingkat keamanan dan penjagaan di penjara tersebut. Hebatnya, saat berada di dalam penjara, Breslin, yang gemar mengamati rutinitas para sipir dan detail bangunan penjara, nampak layaknya seorang napi biasa, tak seorangpun sipir dan petugas penjara yang mengetahui bahwa sebetulnya Breslin adalah seorang analisator ulung yang menyusup untuk menganalisa kelemahan-kelemahan sistem keamanan dan penjagaan di penjara tersebut. Sempat terlintas di pikiran saya, andaikan Breslin 'diundang' ke Indonesia untuk menganalisa kelemahan-kelemahan sistem keamanan dan penjagaan di penjara-penjara Indonesia, pasti keren banget!. 

Hingga suatu ketika, Breslin menerima tawaran dari seorang agen CIA untuk menguji tingkat keamanan dan penjagaan sebuah penjara rahasia. Sayangnya, Breslin dijebak dan dijebloskan di penjara rahasia tersebut. Di penjara rahasia yang sistem keamanan dan penjagaannya super duper ketat sekaligus kejam itulah Breslin berkenalan dengan Emil Rottmayer (diperankan oleh Arnold Schwarzenegger), kemudian mereka bekerja sama meloloskan diri. Menjelang akhir film, diketahui ternyata penjara rahasia itu dibangun berdasarkan catatan-catatan hasil analisa Breslin yang dibukukan.

Kejelian Breslin dalam mengamati rutinitas para sipir dan detail bangunan penjara hingga ke lekuk-lekuk terkecil berhasil memukau penonton. Sekumpulan napi asal Timur Tengah yang beragama Islam, diperlihatkan sedang sholat berjama'ah dan mengucapkan Assalamu'alaikum, membuat pikiran saya berasosiasi bahwa penjara rahasia tersebut serupa dengan Guantanamo.
ESCAPE PLAN

Ethnography

Apa itu ethnography?. Mungkin belum banyak yang mengetahuinya. Ethnography, lahir dari antropologi dan sangat sering diterapkan dalam riset ilmu-ilmu sosial, adalah sebuah metode penelitian kualitatif dimana si peneliti (ethnographer) harus tinggal dan hidup bersama-sama dengan objek penelitian dalam waktu tertentu. Ethnography pada awalnya digunakan para antropolog untuk meneliti kebudayaan dan pola kehidupan suku-suku terasing yang hidup di pedalaman. Waktu yang dihabiskan untuk sebuah ethnography terbilang cukup lama jika dibandingkan dengan proses pengumpulan data pada penelitian kuantitatif (statistik, kuesioner, dll), kadang hingga bertahun-tahun, ini dibutuhkan untuk membangun kedekatan antara ethnographer dengan objek penelitiannya. Selain itu, ethnographer juga wajib terjun langsung ke dalam area objek penelitiannya. Jika sudah terjalin keakraban antara ethnographer dan objek penelitiannya, maka ethnographer dapat melakukan penelitian secara holistik, mendalam, serta detail. Jika sudah tidak ada kecanggungan antara ethnographer dan objek penelitiannya (biasanya manusia), maka hasil pengamatan yang didapat akan lebih natural dan akurat.

Saat ini, ethnography sudah diterapkan di berbagai bidang, misalnya ethnography marketing dan ethnography komunikasi. Apa enaknya menjadi seorang ethnographer?. Menurut saya, yang kebetulan senang main detektif-detektifan sejak masih bocah, ethnographer itu setengah detektif sebab harus mampu menyamar dan menguak hal-hal baru yang belum diketahui banyak orang, tentunya hal-hal baru tersebut harus akurat dan sanggup membuat orang lain tercengang sambil bilang "Wow!".

Ray Breslin = Ethnographer

Selesai nonton, masih di PIM sambil menikmati setangkup sandwich tuna hangat nan lezat Tous les Jours, saya mulai 'mereview' film yang barusan saya tonton. Menurut saya, Ray Breslin dapat dikatakan sebagai seorang ethnographer. Dengan wawasan yang begitu luas mengenai seluk beluk penjara serta kemampuan mengamati yang begitu tajam, Breslin sengaja keluar masuk bui berkali-kali untuk mengamati langsung rutinitas para sipir, rutinitas para napi, detail bangunan penjara sampai ke lekuk-lekuk terkecil, hingga sistem keamanan dan penjagaannya. Secara tidak langsung, film Escape Plan juga mengulas tentang ethnography.

Terlepas dari ethnography, film ini sangat layak ditonton oleh penggemar film action dengan catatan tanpa membawa anak kecil. Seru abiiizzz!!!.

- See more at: http://artikelkomputerku.blogspot.com/2010/10/cara-memasang-banner-di-bawah-posting.html#sthash.TrMBEyDs.dpuf

Passion, Konsistensi, dan Kegigihan*



Sering iri lihat teman-teman yang kerjanya berdasarkan passion, kelihatannya enjoy banget. Contohnya, teman saya yang hobi fotografi sejak SMP sekarang berprofesi sebagai fotografer, setiap kerja wajahnya selalu bahagia karena melakukan apa yang dia sukai.

Sering iri juga lihat teman-teman yang jadi wirausahawan, jam kerjanya fleksibel. Di saat orang-orang, termasuk saya, dikejar-kejar waktu dan berdesak-desakan di bis setiap berangkat dan pulang kerja, rutin dari Senin sampai Jum'at, teman-teman wirausahawan leluasa menentukan waktu bekerja mereka.

Tak terasa tantangan ngeblog 30 hari nonstop sudah memasuki hari ke-22, artinya sudah 3 minggu terakhir ini saya mencoba menjadi seorang penulis, profesi yang katanya santai, bekerja tanpa batas ruang dan waktu. Kebetulan saya sangat suka menulis. Sudah hampir sebulan ini, saya juga mulai berani mencoba menjadi seorang wirausahawan.

Di awal-awal, saya merasa sangat bersemangat, tapi di pertengahan saya sempat mengalami penurunan semangat. Setiap hari harus punya ide untuk membuat tulisan, harus punya waktu khusus untuk menulis, setiap posting pasti harus bersabar menghadapi koneksi internet, deg-degan saat kepepet deadline (hampir jam 24.00 tapi belum berhasil posting) berulang kali terjadi, sudah posting dan berharap tulisan terpilih menjadi headline taapiii...sampai saat ini belum ada satupun tulisan saya yang terpilih menjadi headline.

Beberapa hari yang lalu, sempat nongkrong bareng teman saya yang jadi fotografer dan yang punya usaha sablon kaos. Di sinilah kita baru sempat ngobrol mendalam soal bekerja sesuai passion dan berwirausaha. Sebenarnya kita hanya bertukar cerita tentang profesi masing-masing, namun saya merasa mendapat petuah dari mereka berdua.

Bekerja sesuai passion, siapapun bisa. Tinggal kenali dan tentukan apa passion kita, kemudian mulailah!. Semua nampak menyenangkan, tapi passion saja belum cukup untuk meraih sukses, konsistensi dan kegigihan sangat dibutuhkan. Bukan tak mungkin dalam pekerjaan yang sesuai passion tersebut kita harus menghadapi rintangan, di saat inilah konsistensi dan kegigihan berperan penting.

Lain lagi dengan petuah dari teman yang jadi wirausahawan. Menurutnya, berwirausaha itu bagaikan menjadi petani, menanam hari ini dan panen berbulan-bulan kemudian, itupun dengan syarat jika kita rajin dan pintar merawat padi-padi kita, termasuk menjaganya dari serangan hama. Layaknya petani sungguhan, wirausahawan juga dihadapkan pada risiko gagal panen dan mengalami paceklik.

Apa yang saya dapat dari pengalaman selama 3 minggu menjadi penulis?, mungkin belum banyak, tapi saya memahami bahwa menjadi penulis tidak sesantai yang dibayangkan. Lomba ngeblog 30 hari nonstop ini mengajarkan saya untuk disiplin dalam menulis, rajin menulis, fokus dan konsisten menulis. Mampu menulis tanpa batasan ruang dan waktu itu juga butuh latihan, penulis profesional tidak bekerja suka-suka.

Saya beruntung ngobrol-ngobrol sama mereka, beruntung juga karena ikut lomba 30 hari nonstop ngeblog.

*tulisan ini pernah diposting di http://iamintannisa.blogdetik.com/ , lomba 30 Hari Non Stop Ngeblog

- See more at: http://artikelkomputerku.blogspot.com/2010/10/cara-memasang-banner-di-bawah-posting.html#sthash.TrMBEyDs.dpuf

Senin, 21 Oktober 2013

Sama Kamu, Apa Untungnya?*



Temenan sama kamu… Apa untungnya?.
Pacaran sama kamu… Apa untungnya?.
Nikah sama kamu… Apa untungnya?.


Pertanyaan-pertanyaan barusan terdengar agak menyebalkan. Kalau yang bertanya seorang cewek, besar kemungkinan bakal mendapat cap cewek matre. Kenapa sih sebuah relationship harus dilihat dari untung dan rugi?. Bukankah pertemanan, cinta kasih, dan ikatan pernikahan seharusnya dilandaskan pada ketulusan?, bukan kebendaan. Untung rugi, kok kesannya seperti orang berjualan.
 
Coba kita ingat-ingat nasehat orang tua, mungkin sering dinasehatkan kepada kita dulu. Hati-hati memilih teman. Berteman dengan tukang parfum, ikut mendapat bau wanginya. Berteman dengan tukang ikan, bisa kecipratan bau amisnya. Mohon maaf!, tidak bermaksud membeda-bedakan jenis pekerjaan. 

Sekarang coba kita renungkan, nasehat orang tua kita dahulu dengan pertanyaan-pertanyaan yang menyebalkan tadi. Semakin kita dewasa, tentunya semakin bijak kita menerjemahkan setiap kata. Dalam berteman, kita diperbolehkan memilih. Arti kata memilih di sini dapat diartikan secara luas, namun arti yang paling bijak adalah memilah teman manakah yang bisa membawa pengaruh positif pada diri kita, bukan yang justru merusak.

Sindentosca aja bilang : “persahabatan bagai kepompong, merubah ulat menjadi kupu-kupu”, bermakna bahwa persahabatan yang baik dapat mengubah seseorang yang biasa (diibaratkan dengan ulat) menjadi lebih baik (diibaratkan dengan kupu-kupu). Lagu yang kedengarannya simpel dan easy listening tapi sebetulnya bermakna sangat dalam dan luas. 

Ada yang kenal istilah co-branding?. Istilah ini sangat populer di dunia marketing dan branding. Arti co-branding, secara garis besar, ialah bergabungnya lebih dari satu brand yang bertujuan untuk menaikkan image (citra) brand, saling melengkapi, dan menaikkan daya jual. Jika diformulasikan ke dalam rumus matematika, 1 + 1 = minimal 3, itu baru co-branding yang menguntungkan kedua belah pihak. Perlu diketahui bahwa brand tidak terbatas pada merek, diri kita sendiri juga merupakan sebuah brand atau yang dikenal dengan personal branding.

Disadari atau tidak, saat kita memutuskan berteman dengan seseorang, maka kita berco-branding dengan orang tersebut. Suka atau tidak, saat kita memutuskan berpacaran dengan seseorang, maka kita berco-branding dengannya. Begitupun dengan pernikahan. Maka tak jarang ada bisik-bisik, “Eh!, si Fulan tuh anak bandel loowh… Buktinya temen-temennya pada hobi nyontek, cabut, ngerokok, minum”. Atau ketika ada perempuan baik-baik berpacaran dengan seorang playboy, “Kok mau ya pacaran sama si Anu, dia kan playboy kelas kambing, hobinya mainin cewek, jaangaan-jangaaan…ceweknya juga bersedia dimain-mainin”. Saat gadis remaja bersedia menikah dengan lelaki hampir paruh baya yang berlimpah harta dan berdarah biru pula, lantas di pesta pernikahannya sayup-sayup terdengar, “Jelas aja mau nikah sama Pak Tua itu, biar tua tapi tajir, pengen ngangkat status juga tuh biar ikut-ikutan ningrat”.

Banyak co-branding lain yang bersifat positif dan juga berdampak positif. Selamat memilah dan memilih teman, rekan kerja, klien, pacar, suami, istri, atau siapapun yang akan mengiringi langkah kita dengan sebijak mungkin. Namun pada hakikatnya, semua manusia sama derajatnya di mata Tuhan.

*tulisan ini pernah diposting di http://iamintannisa.blogdetik.com/ , lomba 30 Hari Non Stop Ngeblog

- See more at: http://artikelkomputerku.blogspot.com/2010/10/cara-memasang-banner-di-bawah-posting.html#sthash.TrMBEyDs.dpuf

Mulutmu Harimaumu*



Mulutmu harimaumu, kata-kata bijak yang sering kita dengar sejak masih duduk di bangku SD. Layaknya 'ada ubi ada talas, ada budi ada balas' dan 'ada gula ada semut', 'mulutmu harimaumu' biasa muncul di pelajaran Bahasa Indonesia atau mata pelajaran yang memuat unsur budi pekerti dan moral. Mungkin tak hanya anak SD yang mengetahui 'mulutmu harimaumu', orang-orang dewasa yang sudah belasan tahun lulus SD pun mengetahuinya.

Mengetahui, ya cuma mengetahui, tapi belum tentu benar-benar memahami apalagi menerapkan. Oh ya!, seiring pesatnya perkembangan teknologi komunikasi, zaman sekarang mulut punya berbagai wujud, di antaranya kicauan di Twitter, bentuknya memang tulisan tak lebih dari 140 karakter tapi sadar atau tidak itulah kata-kata yang keluar dari mulut kita dan mampu mewakili pikiran, perasaan, serta kualitas diri.

Kembali ke laptop, eeeh bukan!, sorry!, maksudnya kembali ke 'mulutmu harimaumu', kata-kata bijak yang senantiasa mengingatkan kita untuk berhati-hati dalam berucap, sebab ucapan yang tak dijaga dapat membahayakan diri sendiri. Sekarang-sekarang ini marak perang statement, tuding menuding, adu mulut yang terjadi di media cetak dan media elektronik, khususnya TV. Media sosial juga tak luput menjadi sarana menjelek-jelekkan dan menghina pihak lain.

Sepertinya di zaman sekarang ini orang-orang banyak yang mengumbar harimaunya, entah mereka lupa atau mungkin tak pernah serius belajar tentang 'mulutmu harimaumu' saat masih sekolah dulu. Ada sosok fenomenal, enggan saya mention tapi kalau dijadikan tebakan berhadiah pastilah banyak orang yang bisa menerka siapa gerangan dan tentunya banyak yang harus diberi hadiah, saya belajar banyak hal dari sosok yang sering dan berani mengumbar harimaunya. Akhir-akhir ini, orang-orang tak mau lagi memberi tanggapan apapun atas aksinya yang sudah kesekian kali mengumbar harimau, seolah memahami kebiasaannya, ya memang begitulah orangnya. Justru pembiaran atau pemakluman dari orang-orang inilah yang menjadi harimau yang perlahan-lahan melumat dirinya.

Pemakluman kadang tidak berarti memaafkan. Pemakluman bisa berarti bahwa image (citra) buruk kita sudah terbentuk dan melekat di benak masyarakat. Citra buruk kita juga dapat mencemarkan nama baik keluarga, orang-orang terdekat, bahkan profesi yang kita tekuni. Maka itu, tetaplah berhati-hati dalam berucap, sebab membersihkan citra diri yang terlanjur identik dengan kesan negatif tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, butuh usaha dan kesungguhan untuk membuktikan bahwa citra diri kita sudah lebih baik dan bersih dari kesan negatif yang selama ini melekat.

Satu hal yang teramat bijak, sebelum kita memberi nasehat kepada orang lain, sebijak apapun nasehat itu, nasehatilah diri sendiri terlebih dahulu.

*tulisan ini pernah diposting di http://iamintannisa.blogdetik.com/ , lomba 30 Hari Non Stop Ngeblog 

- See more at: http://artikelkomputerku.blogspot.com/2010/10/cara-memasang-banner-di-bawah-posting.html#sthash.TrMBEyDs.dpuf

Kaki Lima & Image Building*



Cerita tentang makan malam di Surabaya. Pas jalan-jalan, pas ngeliat warung makan kaki lima yang lumayan rame, saya berasumsi pasti makanannya enak dan harganya murah. Akhirnya saya makan di warung kaki lima itu, pilih-pilih lauk sebentar, daaan…terkejut pas sampai di depan kasir. Melihat bon dan harga-harga makanan, mata saya melotot, kening saya berkerut. Maahaaaal banget!!!. Sepotong ayam goreng ukuran standar dibanderol Rp. 35.000, seiris paru ukuran sedang berharga Rp. 25.000. Soal rasa, cukup enak tapi tidak istimewa, layaknya rasa makanan warung kaki lima.

Selesai makan, perut terasa kenyang tapi hati terasa sedikit dongkol. Saya mulai berpikir kalau saya digetok, tapi pas bayar di kasir tadi iseng-iseng melirik bon milik pengunjung lain dan harganya kurang lebih sama. Yang membingungkan, beberapa pengunjungnya terlihat berbaju sangat sederhana, menguping dari obrolan mereka yang berbahasa Jawa, kalau tidak salah pekerjaan mereka adalah tukang ojek yang, mohon maaf!, sangat jarang mau makan makanan dengan harga semahal ini.

Karena penasaran, saya kembali lagi ke sana bersama saudara saya yang tinggal di Surabaya. Sama seperti kemarin, pas mau pilih-pilih lauk penjualnya tanya “Mau ikan apa?” dan (sama seperti kemarin juga) saya jawab “Bukan ikan, saya maunya ayam”. Ketika sampai di depan kasir, disodorkan bon dengan harga sama mahalnya dengan harga kemarin. Saudara saya yang orang Surabaya tiba-tiba berbicara dengan petugas kasir, berbahasa Jawa yang saya kurang paham artinya karena ngomongnya cepet banget. Dan tiba-tiba… AJAIB!, harganya dimurahin.
 
Menurut analisa saudara saya, pertanyaan penjual “Mau ikan apa?” yang saya jawab “Bukan ikan, saya maunya ayam” sukses mengidentifikasi bahwa saya bukan orang asli Surabaya. Dalam bahasa Jawa, ikan berarti lauk, tahu dan tempe juga disebut ikan bahkan ayam disebut ikan ayam, sedangkan ikan (yang bisa berenang) disebut iwak. Bermula dari sana, maka digetoklah dan rugilah saya.

Keesokannya, saya dan keluarga melanjutkan perjalan ke Semarang, pas cari tempat makan malam di Simpang Lima, sengaja kami hindari warung kaki lima. Awalnya cari restoran siap saji yang fixed price, tapi belum ketemu resto siap saji, mata saya melihat papan di depan deretan warung kaki lima. Papan itu bertuliskan : “APABILA KONSUMEN MERASA DIRUGIKAN DENGAN HARGA YANG TIDAK WAJAR HARAP HUBUNGI…”.

Akhirnya kami putuskan makan di warung kaki lima dan ternyata harga yang harus kami bayar adalah harga normal, bahkan murah jika dibandingkan harga di warung kaki lima Jakarta, rasanya enak. Setelah makan, perut kenyang hati pun senang.

Salut untuk kota Semarang yang menjaga image-nya dengan cara yang sederhana namun mengesankan. Semarang berhasil memberi rasa aman kepada para pendatang yang berwisata kuliner. Saya jadi teringat kejadian beberapa hari sebelum kami berangkat ke Surabaya. Adik saya nongkrong di JCo Cinere Mall, karena terlalu banyak barang bawaan, tasnya tertinggal. Awalnya adik saya tidak menyadari, hingga sudah malam, kira-kira pukul 22.00, dia menerima telepon yang semula enggan dijawab sebab nomernya tak dikenal. Beberapa kali telepon tak dijawab itu kemudian disusul oleh SMS dari salah seorang pelayan kafe tersebut, menanyakan apakah tasnya tertinggal?, jika iya maka bisa diambil besok.

Keesokannya, kami kembali ke JCo Cinere Mall untuk mengambil tas yang tertinggal. Pelayannya didampingi store manager mengembalikan tas tersebut, isinya utuh termasuk uang Rp. 200.000, dompet, KTP, dan ATM. Pelayan dan store manager juga menolak dengan halus tanda terima kasih (uang) yang kami berikan.

Image Building

Waktu itu saya hanya berpikir, crew JCo Cinere Mall ini adalah orang-orang yang jujur, namun setelah makan malam di Simpang Lima Semarang, saya jadi berpikir bahwa lebih dari sekedar kejujuran yang dijunjung tinggi, melainkan image yang dibentuk. Pengunjung mendapatkan rasa aman ketika nongkrong di JCo Cinere Mall, barang tertinggal pun dikembalikan, kemudian pengalaman ini bisa menjadi cerita dari mulut ke mulut (word of mouth) yang beredar. Terbentuklah citra baik : JCo Cinere adalah kafe yang memberi kenyamanan dan rasa aman kepada customernya.

Inspirasi buat saya, citra / image dapat dan boleh dibentuk. Berbuat baiklah!, selain sesuai dengan ajaran agama, perbuatan baik yang kita lakukan akan berdampak baik pada citra diri.

*tulisan ini pernah diposting di http://iamintannisa.blogdetik.com/ , lomba 30 Hari Non Stop Ngeblog 

- See more at: http://artikelkomputerku.blogspot.com/2010/10/cara-memasang-banner-di-bawah-posting.html#sthash.TrMBEyDs.dpuf