Senin, 14 Juli 2014

Cita-Cita kok Setinggi Tanah???

Sering dengar kata-kata "gantungkan cita-citamu setinggi langit"?, atau waktu kecil dulu sering dinasihati seperti ini oleh orang tua, "Gantungkan cita-citamu setinggi langit ya, Nak!". Pasti sering, ya minimal pernah walaupun mungkin baru 1 kali seumur hidup. "Gantungkan cita-citamu setinggi langit" itu ucapan Bung Karno. Di masa kini, dengan teknologi yang makin canggih dan sumber daya manusia yang makin cerdas serta kreatif, cita-cita yang digantung setinggi langit itu menjadi bukan hal mustahil untuk digapai. Kalau dipikir-pikir, tinggal naik pesawat terbang saja maka kita sudah setinggi langit. Jangankan setinggi langit, pergi ke bulan saja bukan hal mustahil.

Berarti "gantungkan cita-citamu setinggi langit" sudah familiar dan tidak mengherankan lagi. Bagaimana kalau cita-citanya setinggi tanah?. Sebetulnya itu judul film, "Cita-Citaku Setinggi Tanah", disutradari dan diproduseri oleh Eugene Panji, berhasil terpilih menjadi 5 besar di Berlin International Film Festival 2013, mengalahkan 1500 film lainnya yang ikut berpartisipasi dalam ajang tersebut.

Project Pertama KAF Project

Untuk menyeimbangkan otak kanan dan otak kiri, saya mencoba membuat sebuah gerakan yang saya beri nama KAF Project, tujuannya mengajak berbagi kebaikan agar diri lebih bermanfaat dan bernilai lebih untuk sesama, minimal lingkungan terdekat. Tidak muluk-muluk, berbagi kebaikan itu bisa dimulai dari hal paling sederhana atau paling mudah dilakukan, misalnya sharing info lowongan kerja via BBM.

KAF Project didirikan pada 28 Januari 2013, tapi baru pada Januari 2014 saya tergerak untuk melakukan sebuah project berbagi yang lebih jelas dan terarah. Jadilah nonton bareng anak yatim di panti asuhan Al-Muhajirin Pondok Cabe sebagai the first project, terselenggara 20 Juni 2014 silam. Seorang teman yang baik hati, Frieda Fania, bersedia membantu, semoga dia juga bersedia bergabung di KAF Project biar saya gak walk alone, hehehe....

Ide nobar muncul ketika saya dapat info tentang sebuah komunitas, Beling alias Bioskop Edukasi Keliling. Sebuah komunitas yang kerjanya keliling-keliling ke berbagai daerah, dari yang mudah dijangkau hingga ke pelosok nusantara, untuk memutarkan film secara gratis kepada anak-anak penduduk setempat. Tim Beling tak pernah datang dengan tangan hampa, selain membawa film yang mendidik, mereka juga memberikan pertanyaan seputar film yang ditonton kemudian membagi-bagikan hadiah.


Akhirnya saya gandeng tim Beling dalam project pertama ini, project yang kami beri tajuk Sharing Edukasi Bareng Bioskop Edukasi Keliling (SEBAR BELING), film yang akan diputar adalah Cita-Citaku Setinggi Tanah. Tak perlu mengeluarkan biaya sepeser pun untuk mengundang Beling, bahkan biaya transportasi yang awalnya akan saya tanggung pun mereka sarankan untuk disalurkan saja ke anak-anak di panti.  Eeeits jangan salah!, walaupun priceless tapi kualitas layanan mereka sangat memuaskan. Kata-kata "gratis gak boleh protes, kalo gak enak terima aja" tidak berlaku bagi mereka.

Cita-Cita kok Setinggi Tanah?


Film Cita-Citaku Setinggi Tanah mengisahkan 4 orang siswa SD yang berasal dari keluarga sederhana di Muntilan, Jawa Tengah. Agus, Puji, Jono, dan Mey dengan cita-cita mereka. Mey bercita-cita menjadi artis terkenal, dia sering berlatih acting, ibunya sangat mendukung dengan menitipkan foto-foto putrinya ke kerabat mereka yang bekerja sebagai asisten artis di Jakarta sambil berharap putrinya diajak casting dan kelak bisa menjadi artis ternama. Jono bercita-cita menjadi prajurit, Jono selalu bermain perang-perangan, bakat leadershipnya tersalurkan dengan selalu menjadi ketua kelas. Puji, cita-citanya sederhana, ingin membantu dan membahagiakan orang lain. Dan Agus, yang paling menjadi sorotan karena cita-citanya dianggap tidak biasa, cita-citanya ingin makan di restoran Padang.

Di akhir film terungkap alasan Agus bercita-cita makan di restoran Padang. Menurutnya, yang tiada hari tanpa makan tahu karena ayahnya bekerja di pabrik tahu, makan di restoran Padang merupakan sebuah kemewahan. Selain dari sisi harga, petugas restoran Padang melayani pembeli layaknya seorang raja, makanan berpiring-piring diantar dan ditumpuk di atas meja tepat di hadapan sang pembeli. Tak dapat dipungkiri, masakan di restoran Padang memang lezat menggiurkan. Saat jam istirahat makan siang tiba, saya paling doyan menyantap sepiring nasi putih hangat yang dibanjiri kuah ayam kalio dengan sepotong daging rendang dan sambal hijau plus segelas es teh manis.

Setelah menonton, teman-teman dari panti Al-Muhajirin bertanya-tanya, "Cita-citanya kok setinggi tanah ya?", pertanyaan serupa yang juga muncul di pikiran saya.

Cita-Cita yang SMART

Terkait pertanyaan "Cita-citanya kok setinggi tanah ya?", saya teringat pelajaran yang saya kenal dan hafalkan teorinya ketika SMA dulu tapi baru mulai saya praktikkan saat sudah terjun ke dunia kerja. Jurus ampuh dalam menyusun rencana, jurus SMART : specific, measurable, achievable, realistic, timebound. Melalui film Cita-Citaku Setinngi Tanah, saya kembali belajar tentang jurus SMART.


Menurut saya, cita-cita Agus yang hanya setinggi tanah, yang hanya ingin makan di restoran Padang, dan kedengarannya tidak biasa inilah justru cita-cita yang SMART.

Jika dibandingkan dengan cita-cita Puji yang ingin membantu dan membahagiakan orang lain, cita-cita Agus lebih specific. Oleh karena specific atau jelas, maka cita-cita tersebut menjadi measurable atau dapat diukur. Memang tidak disebutkan berapa uang yang dibutuhkan untuk seporsi nasi Padang impian Agus, tetapi dengan jelas diceritakan bagaimana usaha Agus demi mendapatkan sejumlah uang untuk bisa makan di restoran Padang, mulai dari membuat celengan bambu, menyisihkan uang jajan, hingga bekerja sebagai pengantar ayam, dan betapa rajinnya Agus menghitung tabungannya yang makin hari makin bertambah.

Dari usaha Agus yang gigih dan tabungannya yang makin hari makin bertambah, terlihat bahwa cita-cita makan di restoran Padang sangat achievable dan realistic atau dapat dicapai, dapat menjadi kenyataan. Untuk hal timebound atau batas waktu juga tidak disebutkan namun dugaan saya pastilah jangka waktu pencapaiannya lebih jelas dibanding cita-cita Mey, sebab jika uang sudah terkumpul dan cukup untuk membayar seporsi nasi Padang maka bisa langsung makan di restoran Padang, tercapailah cita-cita Agus, sedangkan Mey masih belum jelas kapan panggilan casting datang padanya.

Intinya, Cita-Cita Ituuu...

Film ini ringan dan bermakna dalam. Intinya, cita-cita bukan untuk ditulis saja, tapi untuk diwujudkan. Silakan bermimpi dan menggantungkan cita-cita, terserah setinggi apa, pastikan jangan tertidur demi mewujudkannya. Juga tak perlu terlalu resah pada kerikil-kerikil yang ditemui saat proses pencapaian cita-cita, sebab rejeki tak pernah pergi, hanya menunggu waktu untuk kembali. Itu bukan kata saya, itu kata Mbah Tapak, sosok yang muncul selintas saja tapi selalu meninggalkan quotes renyah.

- See more at: http://artikelkomputerku.blogspot.com/2010/10/cara-memasang-banner-di-bawah-posting.html#sthash.TrMBEyDs.dpuf

Selasa, 24 Juni 2014

Balada (Tukang) Pompa

Ini curhat bukan sembarang curhat. Keliatannya curhat sepele, tapi yang namanya curhat cerdas ujung-ujungnya tetap ada unsur sharing something useful.

Begini ceritanya...

Sabtu jam 07.00, masih terlalu pagi untuk ukuran weekend, tapi sudah ada yang ngetok-ngetok pintu kamar sambil bilang, "Airnya kok kecil sih keluarnya?". Karena malas beranjak dari kasur dan gulungan bed cover, kuabaikan suara itu. Jam 09.00, baru selesai mandi pagi, baru beberapa langkah keluar kamar mandi dan tubuh masih dililit handuk. PRT teriak-teriak, "Pompanya bau kebakar. Bau banget". Tanpa pikir panjang, langsung mendekat ke arah pompa dan bau terbakarnya memang benar-benar menyengat.

Panik, bingung, kebetulan orang tuaku sedang keluar kota. Akhirnya kutelepon orang tuaku, mereka suruh cabut steker (colokan listrik) pompa dan toren (tangki) air supaya tidak terbakar. Sebelum dicabut, buru-buru kukumpulkan ember-ember yang ada untuk menampung air, bathtub yang biasanya jadi tempat berendam beralih fungsi menjadi tempat menampung air.

Berhubung tukang servis pompa di sekitar rumah sering getok, kupanggillah tukang listrik yang sudah terpercaya dan memang pernah beberapa kali servis instalasi listrik di rumahku. Ya namanya tukang servis listrik, bukan tukang servis pompa, dia hanya berhasil mendeteksi bahwa yang rusak dinamonya, harus beli baru, sebab jika digulung dan dipasang lagi maka besok-besok akan terbakar lagi, pompanya akan mati lagi.

Berdasarkan hasil diskusi dengan kedua orang tuaku via telepon dan BBM, akhirnya diputuskan untuk membeli pompa baru. Lengkap 1 set : pompa, dinamo, mesin jet seharga Rp.3.000.000 plus Rp. 200.000 ongkos tukang yang akan memasang pompa. Singkat cerita, jam 20.00 terpasanglah pompa air baru dan air mengalir kembali.

Eiiits!, cerita belum selesai, he..he..he.... Jam 02.00 dini hari, pompa bermasalah lagi, pompa berbunyi keras dan air tidak mengalir. Dini hari itu juga, dengan mata setengah terpejam, kucabut steker (colokan listrik) pompa dan toren (tangki) air. Sialnya, air yang kemarin ditampung sampai berember-ember sudah terpakai dan tinggal tersisa 1 ember berukuran sedang. Terpaksa pagi-pagi ngetok-ngetok rumah tetangga sebelah untuk minta air. Please deh!, selain ganggu kebiasaanku bangun siang setiap weekend atau libur, ini juga ganggu bobo' cantik orang lain.

Tukang yang pasang pompa kupanggil lagi, dia bilang kerusakannya di mesin jet yang di bawah tanah, harus diganti dengan mesin jet baru yang ada di 1 set pompa yang kemarin dibeli, ongkosnya Rp. 350.000.

"Loh kok gak sekalian diperiksa waktu pasang pompa kemarin?, kalau begini kan double ongkos."

"Kemarin gak ada tanda-tanda mesin jetnya rusak, Mbak!. Lagian kemarin atau sekarang ya tetap ada ongkosnya, sama 350.000 juga," kilah si tukang pompa.

OK!, daripada berdebat panjang lebar, lebih baik perbaiki pompanya. Setelah pompa selesai diperbaiki, air kembali mengalir, sebelum pulang si tukang pompa kasih 'pesan sponsor'. "Kaya'nya sumurnya bermasalah tuh, Mbak. Harus didalemin lagi. Ongkosnya 6.000.000, air jadi lebih banyak, gak keruh, bisa langsung diminum. Kalo sama saya yaaa...5.000.000 aja deh buat Mbak, harga special."

Perasaanku langsung gak enak, hidungku ini seperti langsung mencium gelagat jahat dari si tukang pompa. Benar saja, besoknya, pas mau wudhu untuk sholat subuh, lagi-lagi air tidak mengalir. Saking geramnya, aku langsung kontak toko tempat membeli pompa. Setelah konfirmasi dengan Cik penjual pompa, barulah diketahui bahwa dugaanku benar, tukang pompa melakukan kecurangan.

Mesin jet seharusnya diperiksa saat pemasangan pompa baru, biar kalau rusak sekalian bisa langsung diganti. Ongkos servis dan ganti mesin jet juga hanya Rp. 200.000, bukan Rp. 350.000. Cik penjual pompa heran kenapa pas pompa mati (lagi) kok langsung kontak tukang pompa, seharusnya kontak ke toko dulu, toh masih ada garansi toko, jadi seharusnya gratis. Untunglah Cik tipe pedagang yang enggan mengecewakan pelanggan, dipanggilnya tukang servis penipu itu, disuruh membetulkan pompa di bawah pengawasannya, jadi dia gak berani tipu-tipu lagi.

So, air merupakan hal vital dalam kehidupan, pompa mati dan air tidak mengalir sehari saja pasti terasa susahnya. Tidak semua tukang servis pompa senang getok dan tipu-tipu, tapi alangkah baiknya kalau kita tetap selektif memilih. Bisa jadi tokonya (owner) tidak bermasalah tapi tukang servisnya yang cari masalah, dalam kasus saya ini kebetulan tukang servisnya bukan pegawai tetap di toko tersebut, hanya tukang servis lepas yang diajak kerja sama dengan sistem bagi hasil. Seharusnya sih sempatkan waktu untuk searching tentang masalah-masalah pompa air, supaya nyambung dan gak bego-bego banget pas ngomong sama tukang pompa. Andai tidak berselang lama setelah pemasangan atau servis ternyata barang rusak lagi, lebih aman kontak tokonya saja.

- See more at: http://artikelkomputerku.blogspot.com/2010/10/cara-memasang-banner-di-bawah-posting.html#sthash.TrMBEyDs.dpuf

Senin, 14 April 2014

Bekal Makan Siang

Mendekati jam makan siang, yang di kantor pasti sudah mulai mikir-mikir mau makan siang apa hari ini (yang enak, bersih, dan beda dari hari kemarin, supaya gak bosen), mahasiswa yang di kampus juga pasti lagi mikir-mikir enaknya makan apa siang ini (yang murah tapi porsinya banyak supaya kenyang, kalau bisa saking kenyangnya sampai gak perlu makan malam lagi). Mungkin begitu juga anak-anak sekolah, pas bel istirahat menjerit mereka langsung menyerbu kantin, pesan makanan sesuai keinginan, entah berapa orang dari mereka yang ingat pesan mama : "Jangan jajan sembarangan!", "Pilih makanan yang bersih ya!", "Kalau jajan tuh makanan sehat dong!".

Oh ya!, ngomong-ngomong soal makan siang, tanggal 12 April adalah Hari Bawa Bekal Nasional. Baru tau ya?!, sama dong!, saya juga baru tau, maklum baru dideklarasikan tahun 2013. Dilihat dari aksi kampanye yang diselenggarakan di 4 kota (Jakarta, Medan, Pontianak, Makassar), target segmen Gerakan Ayo Bawa Bekal adalah anak-anak sekolah, di Jakarta pun acara digelar di SDN 01 Menteng. Tujuannya tentulah seputar gizi dan kesehatan, selain lebih hemat, dengan membawa bekal pastilah asupan gizi, kebersihan dan kesehatan makanan yang dikonsumsi lebih terjamin. Kenyataannya agak berbeda, bukan cuma anak-anak sekolah yang bawa bekal, tapi mahasiswa dan orang kerja juga ada yang masih bawa bekal.

Bekal Jaman SD vs Bekal ke Kantor

Waktu SD, saya hampir tak pernah jajan dan tak pernah bawa uang jajan ke sekolah, setiap hari saya bawa bekal. Kadang-kadang bosan juga, tapi ibu saya tak pernah bosan menyiapkan kotak makan berisi bekal untuk saya makan saat istirahat.

Ada masa-masa dimana membawa bekal itu seperti membawa beban. Tas saya sudah penuh dengan buku-buku dan peralatan sekolah, jika ditambah kotak makan maka sama artinya menambah berat beban yang harus saya sandang. Saat jam istirahat tiba, makanannya sudah dingin, beda dengan makanan teman-teman yang baru dibeli di kantin, fresh from the oven. Kadang saya memilih untuk jajan di kantin bareng teman-teman dan tidak memakan bekal, sampai di rumah pasti dimarahi ibu karena dianggap tidak menghargai masakan ibu. Ya memang special effort bagi ibu untuk bangun pagi-pagi lalu menyiapkan bekal, wajar kalau reaksinya berupa marah saat bekal tidak saya makan.

Lain dulu lain sekarang, saat saya sudah bekerja. Tiap akan membayar menu makan siang yang sudah dipesan di kantin, kok rasanya berat mengeluarkan uang, resleting dompet seakan-akan mendadak nyangkut dan uangnya susah dikeluarkan. Maklum, bayarnya pakai uang sendiri, waktu sekolah kan tinggal minta uang jajan sama orang tua, hehehehe.... Beruntung, ibu saya (masih) tidak bosan menyiapkan kotak makan berisi bekal untuk saya makan saat istirahat, jadilah saya sering membawa bekal ke kantor. Tidak setiap hari memang, ada kalanya saya ingin santap makanan hangat dan segar, biasanya saya memilih seporsi soto ayam Lamongan plus nasi, tapi lebih sering membawa bekal ketimbang beli. Rupanya saya tidak sendiri, beberapa orang teman juga membawa bekal dari rumah, bahkan yang laki-laki juga tidak malu membawa bekal. Ada yang disiapkan oleh ibunya, sama seperti saya, tapi ada juga yang mau memasak dan menyiapkan sendiri bekalnya.

Selain lebih hemat, membawa bekal juga menolong kami ketika hujan. Kalau hujan biasanya malas harus berpayung ria ke kantin, apalagi kalau hujannya deras, bisa-bisa habis makan nanti basah semua pakaian dan sepatu. Saat antrean pekerjaan menumpuk dan berat beranjak dari meja kerja, cukup buka kotak makan dan santap siang sambil tetap melanjutkan pekerjaan di depan komputer. Oh ya, karena status kami masih trainee dan hasil Medical Check Up di akhir tahun nanti akan ikut menentukan dapat diangkat atau tidaknya kami menjadi karyawan tetap, maka membawa bekal juga menyelamatkan dari godaan bebek goreng, sate kambing, soto betawi full jeroan yang berisiko kolesterol.

Itulah cerita tentang membawa bekal makan siang. Jangan lupa berterima kasih kepada orang yang tak pernah bosan menyiapkan bekal. Suatu hari nanti, entah berapa lama lagi, barangkali tiba giliran saya berpindah posisi menjadi orang yang bertugas menyiapkan bekal untuk anak-anak atau suami tercinta.

- See more at: http://artikelkomputerku.blogspot.com/2010/10/cara-memasang-banner-di-bawah-posting.html#sthash.TrMBEyDs.dpuf

Jumat, 11 April 2014

Tolooong! Amygdala-ku Dibajak...

Ada yang ngerti apa itu pembajakan amygdala (amygdala hijacking)?. Amygdala itu apa ya?, sejenis makanan atau tipe gadget terbaru ya?. Sebagian orang mungkin sudah familiar dengan amygdala, tapi sebagian orang lainnya mungkin baru pertama kali mengenal amygdala saat membaca tulisan saya ini. Saya pun belum lama mengenal amygdala, dikenalkan oleh Pak Anthony Dio Martin pada suatu hari di daerah Puncak.

Amygdala merupakan bagian otak yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan memori yang terkait dengan emosi. Memori yang disimpan di amygdala awalnya berupa informasi (bisa berupa pengalaman, wawasan, pengetahuan) yang masuk melalui panca indera dan dimaknai dengan emosi, misalnya rasa takut, marah, curiga, dan lain sebagainya. Saat kita mengalami (melihat, mendengar, mencium, merasa, atau meraba) suatu hal, maka hal tersebut menjadi sebuah informasi yang ditangkap oleh panca indera kemudian dialirkan ke 2 jalur, yang pertama ke thalamus lalu lanjut ke neo cortex, yang kedua ke amygdala. Informasi dari thalamus ke amygdala dapat bergerak dalam satuan 12/1000 detik, lebih cepat dari sekali bernapas, sehingga amygdala mampu merespon secepat kilat meskipun neo cortex belum menerima dan mengenali keseluruhan informasi yang mengalir dari thalamus.

Ada kalanya kita mengalami hal yang memicu memori dan emosi tertentu, saat kita lekas ambil tindakan, itu berarti amygdala sedang bekerja. Orang awam menyebutnya reflek. Misalnya, pedagang kaki lima (PKL) yang sedang berjualan di trotoar, kemudian mendengar sirine atau melihat mobil Sat Pol PP melintas di kejauhan, para PKL langsung bubar dan lari tunggang langgang karena takut dirazia Sat Pol PP, takut gerobaknya disita dan tidak bisa jualan lagi.

Amygdala dikaruniakan Tuhan kepada makhlukNya sebagai alat pendorong untuk sigap bertindak dan merespon suatu kejadian, jika kejadian tersebut berbahaya maka dapat segera melakukan tindakan untuk melindungi diri. Pada dasarnya, respon sigap dari amygdala berdampak positif, namun yang namanya pembajakan biasanya berdampak negatif.

Amygdala Hijacking di Suatu Pagi

Tadi pagi, baru saja saya jadi korban amygdala hijacking, tapi syukurnya dalam taraf sangat ringan, kerugiannya pun sangat kecil. Sehabis mandi pagi, akan berpakaian dan siap berangkat kerja, tiba-tiba saya melihat celana tidur yang biasa saya pakai tergeletak di atas tumpukan pakaian-pakaian bekas. Pakaian-pakaian itu biasanya akan dipensiunkan, entah dijadikan serbet karena sudah sobek dan lusuh atau akan disumbangkan karena sudah kekecilan.

Rasa kesal langsung menjalar ke dada, celana itu paling enak dipakai, bahannya empuk, adem, dan nyaman walaupun ada sedikit sobek. Pagi itu memang saya sedang uring-uringan, bangun kesiangan gara-gara badan pegal-pegal, kepikiran kerjaan dan kemacetan yang harus saya hadapi, biasanya kalau berangkat agak siang 10 menit saja kondisi jalan sudah berbeda, lebih macet.

"Apa-apaan ini?!, sekalian aja gue cabik-cabik, biar gak jadi disumbangin, gak bisa dijadiin serbet juga," kataku sambil merobek-robek celana.

Setelah celana tercabik-cabik, sedikit rasa puas menyeruak dari hati, dan ibuku bertanya penuh heran. "Kok celananya disobek-sobek?."

"Ini celanaku masih bagus, cuma sobek sedikit aja, kok udah ditumpuk di sini?!," aku nyolot, nada suaraku tinngi.

"Itu mau dijahit, tadi ditaruh sebentar di situ soalnya mau ambil benang sama jarum dulu."

Waduh!, nyesel campur malu. Celana itu akhirnya bener-bener gak bisa disumbangin, gak bisa dijadiin serbet, dan gak bisa dipake lagi. Hiks!.... Ternyata yang bisa dibajak bukan cuma pesawat, FB, Twitter, atau BB, tapi amygdala (otak) juga bisa dibajak. So, jaga baik-baik si amygdala, selektiflah terhadap informasi yang ditangkap panca indera.

Oh ya!, tips dari Pak Anthony Dio Martin untuk menghindari amygdala hijacking, berilah jeda selama 6 detik dari waktu kita mengalami sebuah kejadian dengan waktu kita mengambil tindakan. Ya!, 6 detik, hanya 6 detik, tak perlu 6 menit, 6 jam, apalagi 6 hari. Cukup 6 detik yang menyelamatkan dari tindakan merugikan berujung penyesalan.

- See more at: http://artikelkomputerku.blogspot.com/2010/10/cara-memasang-banner-di-bawah-posting.html#sthash.TrMBEyDs.dpuf

Minggu, 09 Maret 2014

Berdayung Sambil Belajar

Masih tentang pengalaman mengalahkan diri sendiri, masih berhubungan dengan kegiatan outdoor training di Waduk Jatiluhur. Ini cerita paling berkesan yang terjadi menjelang berakhirnya outdoor training. Karena tujuan outdoor training ini bukan hanya teamwork building melainkan juga character building, maka ada 2 aktifitas solo track yaitu solo camp dan solo paddle. 

Saat solo camp, peserta harus mendirikan tenda kecil untuk dirinya sendiri, tidur sendiri di tenda tersebut, cukup berjarak antara tenda seorang peserta dengan peserta lainnya. Bayangkan!, solo camp di hutan dan waktu itu pas malam Jum'at. Gangguan serangga-serangga hutan juga ikut membuat takut, mulai dari nyamuk dan semut hutan yang gigitannya sakit sekali, katak kecil, suara jangkrik lumayan membunuh sunyi, ulat hijau super gendut yang nemplok anteng di pohon, hinggaaaa...ular. Untunglah panitia membekali peserta dengan lotion anti nyamuk dan minyak tawon, terbukti ampuh menangkal gangguan serangga-serangga hutan. Solo camp memberi kesempatan kepada para peserta untuk merenung dan berpikir sejernih mungkin, apa tujuan diikutkan outdoor training?, apa saja yang didapat dari outdoor training?, lalu apa rencana setelah outdoor training?.

Solo paddle, inilah yang paling berkesan bagi saya. Setiap peserta diberi pelampung (life vest), ban hitam (yang biasa digunakan untuk mengevakuasi korban banjir), dayung, tali tambang, 4 bilah bambu, air minum, dan snack. Peserta disuruh merakit perahu dari ban hitam, tali tambang, dan 4 bilah bambu, kemudian mendayung hingga seberang waduk. Jarak yang harus ditempuh cukup jauh, tapi bis yang akan membawa kami pulang ada di seberang sana, kalau tidak mendayung sampai seberang ya berarti tidak bisa pulang.

Kata instruktur, "Tidak ada kompetisi, tidak ada batasan waktu, sesama peserta dilarang bekerja sama, yang harus kamu lakukan adalah merescue dirimu sendiri. Peradaban menanti kalian di seberang sana!."

Aku, Motivator Terbaikku

Jujur, tak tertahan takut yang saya rasakan. Bingung untuk memulai, saya belum pernah merakit perahu dan tidak paham caranya, saya belum pernah mendayung sendirian, saya tidak bisa berenang. Akhirnya saya coba bicara dengan instruktur.

"Bang!, saya belum pernah merakit perahu, saya gak ngerti caranya, saya gak bisa berenang."

"Peradaban menunggu kamu di seberang sana. Kamu mau pulang kan?!."

"Gimana saya bisa selamat sampai ke seberang kalau perahu saya jelek kaya' gini, Bang?."

"Coba dulu!. Lihat teman-temanmu!, ada yang perahunya sudah berantakan, mereka tetap berjuang sampai ke seberang, mereka juga belum pernah merakit perahu."

Dalam hati saya bergumam, "Alasan apapun yang gue ajukan, intinya harus tetep merakit perahu dan mendayung sampai seberang. PD ajalah!, habis mau gimana lagi?!."

"OK, Bang!. Itu artinya saya harus tetap mendayung sampai ke seberang. Kalau begitu, tolong kasih saya motivasi supaya saya berani, Bang!."

"Minta motivasi sama saya?. Ngapain?. Motivasi itu ada di dalam diri kamu, bukan dari orang lain. Kalau saya kasih kamu support, saya yakinkan kamu habis-habisan, tapi kamu sendiri gak yakin dan gak mau gerak, kira-kira motivasi dan support dari saya ada gunanya gak?."

Kalimat retoris instruktur tadi membuat takut saya tiba-tiba menguap hilang, entah kemana, dan mulailah saya mendayung. Ternyata tidak semenakutkan yang saya bayangkan, dinikmati saja, lama-lama malah terasa rileks. Terlintas lelucon seorang teman saat kuliah dulu : "Hidup tak seindah cocot Mario Teguh". Tentu bukan salah sang motivator jika ada orang yang tak termotivasi kata-kata mereka, sebab kenyataannya : motivator terbaik adalah diri sendiri.

- See more at: http://artikelkomputerku.blogspot.com/2010/10/cara-memasang-banner-di-bawah-posting.html#sthash.TrMBEyDs.dpuf