Selasa, 24 Juni 2014

Balada (Tukang) Pompa

Ini curhat bukan sembarang curhat. Keliatannya curhat sepele, tapi yang namanya curhat cerdas ujung-ujungnya tetap ada unsur sharing something useful.

Begini ceritanya...

Sabtu jam 07.00, masih terlalu pagi untuk ukuran weekend, tapi sudah ada yang ngetok-ngetok pintu kamar sambil bilang, "Airnya kok kecil sih keluarnya?". Karena malas beranjak dari kasur dan gulungan bed cover, kuabaikan suara itu. Jam 09.00, baru selesai mandi pagi, baru beberapa langkah keluar kamar mandi dan tubuh masih dililit handuk. PRT teriak-teriak, "Pompanya bau kebakar. Bau banget". Tanpa pikir panjang, langsung mendekat ke arah pompa dan bau terbakarnya memang benar-benar menyengat.

Panik, bingung, kebetulan orang tuaku sedang keluar kota. Akhirnya kutelepon orang tuaku, mereka suruh cabut steker (colokan listrik) pompa dan toren (tangki) air supaya tidak terbakar. Sebelum dicabut, buru-buru kukumpulkan ember-ember yang ada untuk menampung air, bathtub yang biasanya jadi tempat berendam beralih fungsi menjadi tempat menampung air.

Berhubung tukang servis pompa di sekitar rumah sering getok, kupanggillah tukang listrik yang sudah terpercaya dan memang pernah beberapa kali servis instalasi listrik di rumahku. Ya namanya tukang servis listrik, bukan tukang servis pompa, dia hanya berhasil mendeteksi bahwa yang rusak dinamonya, harus beli baru, sebab jika digulung dan dipasang lagi maka besok-besok akan terbakar lagi, pompanya akan mati lagi.

Berdasarkan hasil diskusi dengan kedua orang tuaku via telepon dan BBM, akhirnya diputuskan untuk membeli pompa baru. Lengkap 1 set : pompa, dinamo, mesin jet seharga Rp.3.000.000 plus Rp. 200.000 ongkos tukang yang akan memasang pompa. Singkat cerita, jam 20.00 terpasanglah pompa air baru dan air mengalir kembali.

Eiiits!, cerita belum selesai, he..he..he.... Jam 02.00 dini hari, pompa bermasalah lagi, pompa berbunyi keras dan air tidak mengalir. Dini hari itu juga, dengan mata setengah terpejam, kucabut steker (colokan listrik) pompa dan toren (tangki) air. Sialnya, air yang kemarin ditampung sampai berember-ember sudah terpakai dan tinggal tersisa 1 ember berukuran sedang. Terpaksa pagi-pagi ngetok-ngetok rumah tetangga sebelah untuk minta air. Please deh!, selain ganggu kebiasaanku bangun siang setiap weekend atau libur, ini juga ganggu bobo' cantik orang lain.

Tukang yang pasang pompa kupanggil lagi, dia bilang kerusakannya di mesin jet yang di bawah tanah, harus diganti dengan mesin jet baru yang ada di 1 set pompa yang kemarin dibeli, ongkosnya Rp. 350.000.

"Loh kok gak sekalian diperiksa waktu pasang pompa kemarin?, kalau begini kan double ongkos."

"Kemarin gak ada tanda-tanda mesin jetnya rusak, Mbak!. Lagian kemarin atau sekarang ya tetap ada ongkosnya, sama 350.000 juga," kilah si tukang pompa.

OK!, daripada berdebat panjang lebar, lebih baik perbaiki pompanya. Setelah pompa selesai diperbaiki, air kembali mengalir, sebelum pulang si tukang pompa kasih 'pesan sponsor'. "Kaya'nya sumurnya bermasalah tuh, Mbak. Harus didalemin lagi. Ongkosnya 6.000.000, air jadi lebih banyak, gak keruh, bisa langsung diminum. Kalo sama saya yaaa...5.000.000 aja deh buat Mbak, harga special."

Perasaanku langsung gak enak, hidungku ini seperti langsung mencium gelagat jahat dari si tukang pompa. Benar saja, besoknya, pas mau wudhu untuk sholat subuh, lagi-lagi air tidak mengalir. Saking geramnya, aku langsung kontak toko tempat membeli pompa. Setelah konfirmasi dengan Cik penjual pompa, barulah diketahui bahwa dugaanku benar, tukang pompa melakukan kecurangan.

Mesin jet seharusnya diperiksa saat pemasangan pompa baru, biar kalau rusak sekalian bisa langsung diganti. Ongkos servis dan ganti mesin jet juga hanya Rp. 200.000, bukan Rp. 350.000. Cik penjual pompa heran kenapa pas pompa mati (lagi) kok langsung kontak tukang pompa, seharusnya kontak ke toko dulu, toh masih ada garansi toko, jadi seharusnya gratis. Untunglah Cik tipe pedagang yang enggan mengecewakan pelanggan, dipanggilnya tukang servis penipu itu, disuruh membetulkan pompa di bawah pengawasannya, jadi dia gak berani tipu-tipu lagi.

So, air merupakan hal vital dalam kehidupan, pompa mati dan air tidak mengalir sehari saja pasti terasa susahnya. Tidak semua tukang servis pompa senang getok dan tipu-tipu, tapi alangkah baiknya kalau kita tetap selektif memilih. Bisa jadi tokonya (owner) tidak bermasalah tapi tukang servisnya yang cari masalah, dalam kasus saya ini kebetulan tukang servisnya bukan pegawai tetap di toko tersebut, hanya tukang servis lepas yang diajak kerja sama dengan sistem bagi hasil. Seharusnya sih sempatkan waktu untuk searching tentang masalah-masalah pompa air, supaya nyambung dan gak bego-bego banget pas ngomong sama tukang pompa. Andai tidak berselang lama setelah pemasangan atau servis ternyata barang rusak lagi, lebih aman kontak tokonya saja.

- See more at: http://artikelkomputerku.blogspot.com/2010/10/cara-memasang-banner-di-bawah-posting.html#sthash.TrMBEyDs.dpuf

Senin, 14 April 2014

Bekal Makan Siang

Mendekati jam makan siang, yang di kantor pasti sudah mulai mikir-mikir mau makan siang apa hari ini (yang enak, bersih, dan beda dari hari kemarin, supaya gak bosen), mahasiswa yang di kampus juga pasti lagi mikir-mikir enaknya makan apa siang ini (yang murah tapi porsinya banyak supaya kenyang, kalau bisa saking kenyangnya sampai gak perlu makan malam lagi). Mungkin begitu juga anak-anak sekolah, pas bel istirahat menjerit mereka langsung menyerbu kantin, pesan makanan sesuai keinginan, entah berapa orang dari mereka yang ingat pesan mama : "Jangan jajan sembarangan!", "Pilih makanan yang bersih ya!", "Kalau jajan tuh makanan sehat dong!".

Oh ya!, ngomong-ngomong soal makan siang, tanggal 12 April adalah Hari Bawa Bekal Nasional. Baru tau ya?!, sama dong!, saya juga baru tau, maklum baru dideklarasikan tahun 2013. Dilihat dari aksi kampanye yang diselenggarakan di 4 kota (Jakarta, Medan, Pontianak, Makassar), target segmen Gerakan Ayo Bawa Bekal adalah anak-anak sekolah, di Jakarta pun acara digelar di SDN 01 Menteng. Tujuannya tentulah seputar gizi dan kesehatan, selain lebih hemat, dengan membawa bekal pastilah asupan gizi, kebersihan dan kesehatan makanan yang dikonsumsi lebih terjamin. Kenyataannya agak berbeda, bukan cuma anak-anak sekolah yang bawa bekal, tapi mahasiswa dan orang kerja juga ada yang masih bawa bekal.

Bekal Jaman SD vs Bekal ke Kantor

Waktu SD, saya hampir tak pernah jajan dan tak pernah bawa uang jajan ke sekolah, setiap hari saya bawa bekal. Kadang-kadang bosan juga, tapi ibu saya tak pernah bosan menyiapkan kotak makan berisi bekal untuk saya makan saat istirahat.

Ada masa-masa dimana membawa bekal itu seperti membawa beban. Tas saya sudah penuh dengan buku-buku dan peralatan sekolah, jika ditambah kotak makan maka sama artinya menambah berat beban yang harus saya sandang. Saat jam istirahat tiba, makanannya sudah dingin, beda dengan makanan teman-teman yang baru dibeli di kantin, fresh from the oven. Kadang saya memilih untuk jajan di kantin bareng teman-teman dan tidak memakan bekal, sampai di rumah pasti dimarahi ibu karena dianggap tidak menghargai masakan ibu. Ya memang special effort bagi ibu untuk bangun pagi-pagi lalu menyiapkan bekal, wajar kalau reaksinya berupa marah saat bekal tidak saya makan.

Lain dulu lain sekarang, saat saya sudah bekerja. Tiap akan membayar menu makan siang yang sudah dipesan di kantin, kok rasanya berat mengeluarkan uang, resleting dompet seakan-akan mendadak nyangkut dan uangnya susah dikeluarkan. Maklum, bayarnya pakai uang sendiri, waktu sekolah kan tinggal minta uang jajan sama orang tua, hehehehe.... Beruntung, ibu saya (masih) tidak bosan menyiapkan kotak makan berisi bekal untuk saya makan saat istirahat, jadilah saya sering membawa bekal ke kantor. Tidak setiap hari memang, ada kalanya saya ingin santap makanan hangat dan segar, biasanya saya memilih seporsi soto ayam Lamongan plus nasi, tapi lebih sering membawa bekal ketimbang beli. Rupanya saya tidak sendiri, beberapa orang teman juga membawa bekal dari rumah, bahkan yang laki-laki juga tidak malu membawa bekal. Ada yang disiapkan oleh ibunya, sama seperti saya, tapi ada juga yang mau memasak dan menyiapkan sendiri bekalnya.

Selain lebih hemat, membawa bekal juga menolong kami ketika hujan. Kalau hujan biasanya malas harus berpayung ria ke kantin, apalagi kalau hujannya deras, bisa-bisa habis makan nanti basah semua pakaian dan sepatu. Saat antrean pekerjaan menumpuk dan berat beranjak dari meja kerja, cukup buka kotak makan dan santap siang sambil tetap melanjutkan pekerjaan di depan komputer. Oh ya, karena status kami masih trainee dan hasil Medical Check Up di akhir tahun nanti akan ikut menentukan dapat diangkat atau tidaknya kami menjadi karyawan tetap, maka membawa bekal juga menyelamatkan dari godaan bebek goreng, sate kambing, soto betawi full jeroan yang berisiko kolesterol.

Itulah cerita tentang membawa bekal makan siang. Jangan lupa berterima kasih kepada orang yang tak pernah bosan menyiapkan bekal. Suatu hari nanti, entah berapa lama lagi, barangkali tiba giliran saya berpindah posisi menjadi orang yang bertugas menyiapkan bekal untuk anak-anak atau suami tercinta.

- See more at: http://artikelkomputerku.blogspot.com/2010/10/cara-memasang-banner-di-bawah-posting.html#sthash.TrMBEyDs.dpuf

Jumat, 11 April 2014

Tolooong! Amygdala-ku Dibajak...

Ada yang ngerti apa itu pembajakan amygdala (amygdala hijacking)?. Amygdala itu apa ya?, sejenis makanan atau tipe gadget terbaru ya?. Sebagian orang mungkin sudah familiar dengan amygdala, tapi sebagian orang lainnya mungkin baru pertama kali mengenal amygdala saat membaca tulisan saya ini. Saya pun belum lama mengenal amygdala, dikenalkan oleh Pak Anthony Dio Martin pada suatu hari di daerah Puncak.

Amygdala merupakan bagian otak yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan memori yang terkait dengan emosi. Memori yang disimpan di amygdala awalnya berupa informasi (bisa berupa pengalaman, wawasan, pengetahuan) yang masuk melalui panca indera dan dimaknai dengan emosi, misalnya rasa takut, marah, curiga, dan lain sebagainya. Saat kita mengalami (melihat, mendengar, mencium, merasa, atau meraba) suatu hal, maka hal tersebut menjadi sebuah informasi yang ditangkap oleh panca indera kemudian dialirkan ke 2 jalur, yang pertama ke thalamus lalu lanjut ke neo cortex, yang kedua ke amygdala. Informasi dari thalamus ke amygdala dapat bergerak dalam satuan 12/1000 detik, lebih cepat dari sekali bernapas, sehingga amygdala mampu merespon secepat kilat meskipun neo cortex belum menerima dan mengenali keseluruhan informasi yang mengalir dari thalamus.

Ada kalanya kita mengalami hal yang memicu memori dan emosi tertentu, saat kita lekas ambil tindakan, itu berarti amygdala sedang bekerja. Orang awam menyebutnya reflek. Misalnya, pedagang kaki lima (PKL) yang sedang berjualan di trotoar, kemudian mendengar sirine atau melihat mobil Sat Pol PP melintas di kejauhan, para PKL langsung bubar dan lari tunggang langgang karena takut dirazia Sat Pol PP, takut gerobaknya disita dan tidak bisa jualan lagi.

Amygdala dikaruniakan Tuhan kepada makhlukNya sebagai alat pendorong untuk sigap bertindak dan merespon suatu kejadian, jika kejadian tersebut berbahaya maka dapat segera melakukan tindakan untuk melindungi diri. Pada dasarnya, respon sigap dari amygdala berdampak positif, namun yang namanya pembajakan biasanya berdampak negatif.

Amygdala Hijacking di Suatu Pagi

Tadi pagi, baru saja saya jadi korban amygdala hijacking, tapi syukurnya dalam taraf sangat ringan, kerugiannya pun sangat kecil. Sehabis mandi pagi, akan berpakaian dan siap berangkat kerja, tiba-tiba saya melihat celana tidur yang biasa saya pakai tergeletak di atas tumpukan pakaian-pakaian bekas. Pakaian-pakaian itu biasanya akan dipensiunkan, entah dijadikan serbet karena sudah sobek dan lusuh atau akan disumbangkan karena sudah kekecilan.

Rasa kesal langsung menjalar ke dada, celana itu paling enak dipakai, bahannya empuk, adem, dan nyaman walaupun ada sedikit sobek. Pagi itu memang saya sedang uring-uringan, bangun kesiangan gara-gara badan pegal-pegal, kepikiran kerjaan dan kemacetan yang harus saya hadapi, biasanya kalau berangkat agak siang 10 menit saja kondisi jalan sudah berbeda, lebih macet.

"Apa-apaan ini?!, sekalian aja gue cabik-cabik, biar gak jadi disumbangin, gak bisa dijadiin serbet juga," kataku sambil merobek-robek celana.

Setelah celana tercabik-cabik, sedikit rasa puas menyeruak dari hati, dan ibuku bertanya penuh heran. "Kok celananya disobek-sobek?."

"Ini celanaku masih bagus, cuma sobek sedikit aja, kok udah ditumpuk di sini?!," aku nyolot, nada suaraku tinngi.

"Itu mau dijahit, tadi ditaruh sebentar di situ soalnya mau ambil benang sama jarum dulu."

Waduh!, nyesel campur malu. Celana itu akhirnya bener-bener gak bisa disumbangin, gak bisa dijadiin serbet, dan gak bisa dipake lagi. Hiks!.... Ternyata yang bisa dibajak bukan cuma pesawat, FB, Twitter, atau BB, tapi amygdala (otak) juga bisa dibajak. So, jaga baik-baik si amygdala, selektiflah terhadap informasi yang ditangkap panca indera.

Oh ya!, tips dari Pak Anthony Dio Martin untuk menghindari amygdala hijacking, berilah jeda selama 6 detik dari waktu kita mengalami sebuah kejadian dengan waktu kita mengambil tindakan. Ya!, 6 detik, hanya 6 detik, tak perlu 6 menit, 6 jam, apalagi 6 hari. Cukup 6 detik yang menyelamatkan dari tindakan merugikan berujung penyesalan.

- See more at: http://artikelkomputerku.blogspot.com/2010/10/cara-memasang-banner-di-bawah-posting.html#sthash.TrMBEyDs.dpuf

Minggu, 09 Maret 2014

Berdayung Sambil Belajar

Masih tentang pengalaman mengalahkan diri sendiri, masih berhubungan dengan kegiatan outdoor training di Waduk Jatiluhur. Ini cerita paling berkesan yang terjadi menjelang berakhirnya outdoor training. Karena tujuan outdoor training ini bukan hanya teamwork building melainkan juga character building, maka ada 2 aktifitas solo track yaitu solo camp dan solo paddle. 

Saat solo camp, peserta harus mendirikan tenda kecil untuk dirinya sendiri, tidur sendiri di tenda tersebut, cukup berjarak antara tenda seorang peserta dengan peserta lainnya. Bayangkan!, solo camp di hutan dan waktu itu pas malam Jum'at. Gangguan serangga-serangga hutan juga ikut membuat takut, mulai dari nyamuk dan semut hutan yang gigitannya sakit sekali, katak kecil, suara jangkrik lumayan membunuh sunyi, ulat hijau super gendut yang nemplok anteng di pohon, hinggaaaa...ular. Untunglah panitia membekali peserta dengan lotion anti nyamuk dan minyak tawon, terbukti ampuh menangkal gangguan serangga-serangga hutan. Solo camp memberi kesempatan kepada para peserta untuk merenung dan berpikir sejernih mungkin, apa tujuan diikutkan outdoor training?, apa saja yang didapat dari outdoor training?, lalu apa rencana setelah outdoor training?.

Solo paddle, inilah yang paling berkesan bagi saya. Setiap peserta diberi pelampung (life vest), ban hitam (yang biasa digunakan untuk mengevakuasi korban banjir), dayung, tali tambang, 4 bilah bambu, air minum, dan snack. Peserta disuruh merakit perahu dari ban hitam, tali tambang, dan 4 bilah bambu, kemudian mendayung hingga seberang waduk. Jarak yang harus ditempuh cukup jauh, tapi bis yang akan membawa kami pulang ada di seberang sana, kalau tidak mendayung sampai seberang ya berarti tidak bisa pulang.

Kata instruktur, "Tidak ada kompetisi, tidak ada batasan waktu, sesama peserta dilarang bekerja sama, yang harus kamu lakukan adalah merescue dirimu sendiri. Peradaban menanti kalian di seberang sana!."

Aku, Motivator Terbaikku

Jujur, tak tertahan takut yang saya rasakan. Bingung untuk memulai, saya belum pernah merakit perahu dan tidak paham caranya, saya belum pernah mendayung sendirian, saya tidak bisa berenang. Akhirnya saya coba bicara dengan instruktur.

"Bang!, saya belum pernah merakit perahu, saya gak ngerti caranya, saya gak bisa berenang."

"Peradaban menunggu kamu di seberang sana. Kamu mau pulang kan?!."

"Gimana saya bisa selamat sampai ke seberang kalau perahu saya jelek kaya' gini, Bang?."

"Coba dulu!. Lihat teman-temanmu!, ada yang perahunya sudah berantakan, mereka tetap berjuang sampai ke seberang, mereka juga belum pernah merakit perahu."

Dalam hati saya bergumam, "Alasan apapun yang gue ajukan, intinya harus tetep merakit perahu dan mendayung sampai seberang. PD ajalah!, habis mau gimana lagi?!."

"OK, Bang!. Itu artinya saya harus tetap mendayung sampai ke seberang. Kalau begitu, tolong kasih saya motivasi supaya saya berani, Bang!."

"Minta motivasi sama saya?. Ngapain?. Motivasi itu ada di dalam diri kamu, bukan dari orang lain. Kalau saya kasih kamu support, saya yakinkan kamu habis-habisan, tapi kamu sendiri gak yakin dan gak mau gerak, kira-kira motivasi dan support dari saya ada gunanya gak?."

Kalimat retoris instruktur tadi membuat takut saya tiba-tiba menguap hilang, entah kemana, dan mulailah saya mendayung. Ternyata tidak semenakutkan yang saya bayangkan, dinikmati saja, lama-lama malah terasa rileks. Terlintas lelucon seorang teman saat kuliah dulu : "Hidup tak seindah cocot Mario Teguh". Tentu bukan salah sang motivator jika ada orang yang tak termotivasi kata-kata mereka, sebab kenyataannya : motivator terbaik adalah diri sendiri.

- See more at: http://artikelkomputerku.blogspot.com/2010/10/cara-memasang-banner-di-bawah-posting.html#sthash.TrMBEyDs.dpuf

Senin, 17 Februari 2014

Saya (Belum) Berhasil

Pengalaman mengalahkan diri sendiri selalu menjadi cerita tak terlupakan bahkan bisa menginspirasi orang lain. Alhamdulillah, tanggal 4-7 Februari 2014 kemarin, saya mendapat kesempatan yang sangat berharga : kesempatan untuk mengalahkan diri sendiri. Bagaimana ceritanya?. Apakah seru?, atau malah menegangkan?. Inilah kisahnya.

Pengalaman Pertama

Diterima di program HRDP (Human Resources Development Program) Kompas Gramedia, diwajibkan mengikuti serangkaian training selama 11 bulan, salah satu dari serangkaian training tersebut adalah outdoor training di Waduk Jatiluhur. Untuk menyelenggarakan kegiatan outdoor training ini, Kompas Gramedia bekerja sama dengan Pancawati.

Jujur, ini pengalaman pertama saya mengikuti outdoor training, sebelumnya saya tidak pernah hiking, camping, saya takut ketinggian, saya tidak bisa berenang, saya menderita asma yang bisa kambuh saat terlalu lelah, lambung saya sering sakit kalau makan tidak teratur dan stress, saya juga alergi dingin. Tak terbayangkan, bagaimana tegangnya saya menghadapi outdoor training ini?!. Sebuah hal yang menambah ketegangan saya, pihak penyelenggara tidak memberi tahu aktifitas apa saja yang akan kita lakukan di sana, sedangkan saya tipe orang yang senang bersiap-siap sebelum berkegiatan, melangkah tanpa persiapan bisa membuat saya tidak PD bahkan panik jika terjadi hal-hal yang di luar dugaan.

Benar saja, setiap hari, bahkan setiap sesi, selalu ada kejutan. Hal-hal di luar dugaan, di luar kebiasaan, di luar batas kemampuan diri tak pernah absen mengiringi 3 hari outdoor training saya. Tidak diperbolehkan membawa HP, maka semua gadget harus dikumpulkan ke panitia hingga acara berakhir pada tanggal 7. Lumpur dimana-mana, karena waktu itu cuaca sedang ekstrim, hujan-panas-hujan-panas-hujan yang tak bisa diprediksi. Tidak mandi dan tidak sikat gigi selama 3 hari, sedangkan saya terbiasa mandi minimal 2 kali sehari dan sikat gigi setiap habis makan. Tidur di tenda, di ruang terbuka, di pinggir waduk, bahkan di hutan dengan alas tidur matras setebal kurang dari 2 cm. Setiap hari berpindah tempat, setiap hari hiking berbekal kompas, peta, serta titik koordinat untuk menemukan lokasi camping hari ini.

Inilah pertama kalinya saya mengerti tentang tenda, ada 2 jenis yaitu La Fuma dan Consina yang masing-masing berbeda cara pemasangannya, saya bisa mendirikan tenda dan membongkarnya kembali. Inilah pertama kalinya saya menggunakan pelampung (life vest) kemudian berenang di waduk, padahal berenang di swimming pool sedalam 3 meter saja saya tidak pernah berani karena tidak bisa berenang. Inilah pertama kalinya saya canoeing, mendayung sampan, yang ternyata enak juga untuk refreshing. Inilah pertama kalinya saya belajar tentang navigasi, menentukan arah dan tujuan menggunakan kompas. Inilah pertama kalinya saya flying fox, takjub rasanya sebab saya takut ketinggian tapi kali ini saya berani dan berhasil flying fox.

Tak dipungkiri, bimbingan dari para instruktur juga mendukung munculnya keberanian saya, bahkan hingga berhasil mengalahkan rasa takut. Meski sepintas dan singkat saja, para instruktur terlebih dahulu mengajari para peserta bagaimana canoeing, hiking, camping, dan mendayung yang aman, tidak dilepas begitu saja. Keamanan dan keselamatan selalu diutamakan oleh para instruktur yang setia mendampingi para peserta selama outdoor training. Memang, konsekuensinya para peserta dituntut untuk cepat menangkap pelajaran baru, jika belum jelas juga maka learning by doing saja.

Apa yang Saya Dapat?

Kompas Gramedia dan tim Pancawati memiliki target agar para peserta outdoor training berani keluar dari zona nyaman dan berhasil melampaui batasan (kemampuan) diri. Apa yang saya dapat dari outdoor training?, lebih dari sekedar berani keluar dari zona nyaman dan berhasil melampaui batasan (kemampuan) diri. Saya berhasil :
- lebih tangguh dan kuat tapi fleksibel
- mengevaluasi diri dari setiap kesalahan yang pernah dilakukan
- mengalahkan rasa takut
- berani dan tenang menghadapi apapun
- lebih percaya diri melewati segala peristiwa meskipun persiapannya minim, sebab kadang kala kita tak punya cukup waktu untuk bersiap-siap tapi kita tetap dituntut untuk mencapai hasil optimal
- siap dan sanggup menghadapi hal-hal di luar dugaan yang mungkin akan banyak sekali terjadi dalam kehidupan dan karier
- mengatakan dan meyakini bahwa AKU BISA!!! kemudian mulai beraksi mencapai tujuan.

Saya (Belum) Berhasil

Saya sudah berhasil dalam banyak hal, bahkan melebihi target Kompas Gramedia dan tim Pancawati, tapi saya tidak pantas berbangga dan berpuas diri. Semua aktifitas selama outdoor training hanyalah simulasi, begitu pula dengan keberhasilan saya, hanya keberhasilan dalam simulasi. Jika saya (dan seluruh peserta outdoor training) berhasil menaklukkan rintangan di pekerjaan dan kehidupan, barulah layak disebut pemenang. Lebih spesifik, jika seluruh peserta outdoor training berhasil lulus program HRDP dan AEDP (Account Executive Development Program), barulah layak disebut pemenang.

Patut diingat, untuk bisa lulus program HRDP dan AEDP harus melewati serangkaian training yang diwarnai oleh in class training yang kadang membosankan, ujian-ujian, 2 kali OJT (on the job training) lengkap dengan tugas-tugas dan penilaian-penilaian, belum termasuk lika-liku, tantangan-tantangan, serta target (khusus AEDP yang tugasnya mencari iklan). So, welcome to the real life!. Selamat berjuang!, jadilah pemenang!.

- See more at: http://artikelkomputerku.blogspot.com/2010/10/cara-memasang-banner-di-bawah-posting.html#sthash.TrMBEyDs.dpuf