Minggu, 27 Juli 2014

Lebaran dan Sebongkah Penyesalan

Meski hanya sedetik, tiada dayaku menghentikan laju sang waktu. Kulihat Ramadhan segera berlalu, berganti Syawal di hari yang baru.
 
Ramadhan, bulan istimewa, kusambut dengan suka cita, kuantar perginya dengan air mata.
Ramadhan, bulan penuh ampunan, bulan turunnya Al-Qur'an, saat hamparan rahmat dibentangkan, dan do'a-do'a terkabulkan.
 
Ampuni aku, ya Alloh!. Apalah pencapaianku di Ramadhan tahun ini?. Tak lebih baik dari Ramadhan sebelumnya. Mungkin hanya sebatas berkurangnya berat badan.
 
Di 10 hari awal Ramadhan, luapan kegembiraan datangnya bulan suci memenuhi hati, namun fokusku pada tugas-tugas kantor yang tiada henti. Di 10 hari tengah Ramadhan, tak kusadari kapankah Nuzulul Qur'an, 17 Ramadhan berlalu tanpa peringatan, aku masih tenggelam dalam himpitan tugas-tugas kantor. Di 10 hari akhir Ramadhan, jangankan i'tikaf, tarawih makin sering terlewat. Lalu lintas yang kian padat membuatku membuang lebih banyak waktu berdesakan di dalam bis Transjakarta. Akhir pekanku kian sibuk dengan berbagai tuntutan, mulai dari deadline pekerjaan yang harus rampung sebelum cuti hingga permintaan membantu ibu membuat kue Lebaran dan berbenah rumah karena PRT sudah mudik ke kampung halaman.
 
Kini, gema takbir sayup-sayup terdengar, hasil sidang itsbat sudah diumumkan, besok Lebaran. Dalam suka cita sambut kemenangan, melintaslah tanya, pantaskah aku disebut pemenang?, layakkah aku larut dalam kegembiraan?. Terseliplah sebait do'a dalam balutan tekad kuat, semoga Alloh sudi berikan kesempatan untukku jumpa Ramadhan tahun depan, semoga aku mampu melapangkan lebih banyak waktu untuk bermesraan dengan Ramadhan di tahun mendatang.
 
Selamat Idul Fitri. Taqobbalallohu minna wa minkum, minal 'aidin wal faidzin. Semoga Alloh terima ibadah kita selama bulan Ramadhan, mohon maaf lahir dan batin.

- See more at: http://artikelkomputerku.blogspot.com/2010/10/cara-memasang-banner-di-bawah-posting.html#sthash.TrMBEyDs.dpuf

Rabu, 16 Juli 2014

Yang Papa Di Antara Kaya Raya

Perjalanan menuju ke kantor di pagi hari dan kembali ke rumah di sore hari tak pernah tanpa berjibaku dengan kemacetan. Ribuan kendaraan tumpah ruah ke jalan, orang-orang yang sudah paham situasi ini mencoba berdamai dengan keadaan, meski stress mereka tak tertutupi. Di situasi tertentu, misalnya hujan yang biasanya diikuti dengan genangan air di jalan, kemacetan bisa makin menggila.

Saya menyiasati kemacetan dengan nebeng motor teman setiap pagi, saat pulang di sore atau malam hari barulah naik Transjakarta. Selain menyiasati kemacetan, cara ini cukup ampuh mengusir bosan. Teman saya biasanya menempuh jalur alternatif, bukan jalur yang biasa dilewati Transjakarta, jadi saya bisa melihat pemandangan yang berbeda.

Jalan yang biasa kami lewati adalah Jalan Kartika Utama, Pondok Indah. Deretan rumah mewah lengkap dengan beberapa buah mobil berjajar di garasi dan beberapa orang satpam berjaga. Sambil melintas, kadang saya bergumam, entah butuh berapa banyak PRT untuk mengurus rumah sebesar ini, belum termasuk tukang kebun dan supir. Sering terucap do'a di dalam hati, semoga saya punya uang yang sangat banyak agar kelak bisa membangun rumah 10x lebih besar dan lebih mewah dari rumah-rumah yang setiap pagi saya lintasi ini. Sebab rumah besar yang saya tempati sekarang bukanlah milik saya, tapi milik orangtua, hehehe....

Nek Sairah dan Kek Anani

Ada sebuah pemandangan yang selalu menarik perhatian dan mengusik nurani saya. Pemandangan yang kontras dengan deretan rumah-rumah mewah. Sepasang kakek nenek renta, mendorong gerobak berwarna hijau, menjajakan papan cucian. Entah siapa yang mau membeli papan cucian, rumah-rumah sebesar ini pasti dilengkapi mesin cuci. Sehari, seminggu, sebulan...akhirnya saya benar-benar terusik. Saya turun dari motor, menghampiri dan membuka obrolan dengan mereka.

Sejak saat itu, saya mengenal Kek Anani dan Nek Sairah. Sejak saat itu juga, kalau sedang tidak terburu-buru akibat kesiangan, saya sempatkan turun dari motor untuk menyapa dan memberikan selembar Rp.10.000 untuk keduanya. Dari obrolan super singkat rutin itulah saya mengetahui bahwa mereka perantau dari Pemalang yang gagal mengecap indahnya ibukota, mereka berdua tinggal di bedeng tidak jauh dari tempat gerobak mereka mangkal, sementara anak-anak mereka masih tertinggal di Pemalang dalam hidup yang susah.

Di antara rumah-rumah besar nan mewah, sepasang kakek nenek setiap pagi mengais rejeki dengan berjualan papan cucian. Hidup mereka serba kekurangan.

Kek Anani terserang stroke, sekitar 2 tahun lalu, akibatnya pendengaran dan penglihatannya terganggu. Itulah alasan mengapa Nek Sairah tidak berjualan di pasar. Kek Anani tidak kuat lagi berjalan agak jauh, tidak mungkin ditinggal sendiri di bedeng tanpa ada yang menjaga. Memang setiap hari Nek Sairahlah yang mendorong gerobak, sedangkan Kek Anani berjalan terseok-seok dan terbungkuk-bungkuk mengikuti dari belakang.

Banyak hal yang sudah tidak diingat Nek Sairah, misalnya berapa usia mereka berdua dan kapan tepatnya mereka datang ke Jakarta. Hal yang jelas diingatnya adalah harga papan cucian yang dijajakannya, Rp. 80.000, dan Rp. 5.000 miliknya dari setiap papan cucian yang laku terjual, selebihnya harus disetor kembali ke produsen papan cucian. Meski tak menolak jika diberi uang, tapi Nek Sairah dan Kek Anani enggan menengadahkan tangan, enggan meminta-minta.

Sejak stroke, sekitar 2 tahun yang lalu, Kek Anani mengalami gangguan penglihatan dan pendengaran. Tubuhnya melemah, tak kuat lagi berjalan jauh. Saat menjajakan papan cucian, sering ia terlihat sempoyongan.

Selama ini, mereka belum pernah terjamah oleh program-program bantuan apapun dari pemerintah yang ditujukan untuk orang miskin. Ketika saya tanya, apa yang paling dibutuhkannya?. Nek Sairah bilang mereka sangat butuh uang untuk pengobatan Kek Anani. Sejak terkena stroke, Kek Anani tak pernah menjalani pengobatan khusus untuk penderita stroke, kalaupun berobat paling hanya ke puskesmas. Dokter menganjurkan Kek Anani makan makanan sehat dan bergizi, minum susu, serta minum obat secara teratur, tapi kenyataan mengharuskan Kek Anani makan seadanya saja tanpa minum susu, apalagi obat.

***

Pernah suatu kali saya foto Kek Anani dan Nek Sairah, lalu fotonya saya posting di Facebook. Seorang teman yang berprofesi sebagai jurnalis dan penulis buku, Mbak Eni namanya, tergerak hatinya untuk membantu. Kebetulan almarhumah ibunda Mbak Eni dulu pernah menderita stroke, itulah yang menggerakkannya merintis Rumah Stroke Indonesia.

Melalui Rumah Stroke Indonesia, kita yang peduli bisa menyalurkan bantuan untuk para penderita stroke di seluruh tanah air. Di bulan Ramadhan ini ada program parcel untuk penderita stroke yang tidak mampu, isinya berupa berbagai kebutuhan penderita stroke, mulai dari pampers dewasa, susu, gula dan kue kering rendah kalori, beras merah, hingga kursi roda. Untuk informasi pengiriman bantuan, silakan hubungi Mbak Eni via enisetiati_penulis@yahoo.co.id.

Semoga curhat ringan saya ini berdampak besar bagi Kek Anani dan Nek Sairah. Terakhir menyapa mereka, sekitar 2 hari yang lalu, mata Nek Sairah sayu menatap sambil berkata bahwa mereka tidak pernah mudik, tidak juga menyantap ketupat dan opor ayam, tidak ada uang, di hari Lebaran pun tetap menjajakan papan cucian.

Kek Anani dan Nek Sairah, menjajakan papan cucian setiap pagi.

- See more at: http://artikelkomputerku.blogspot.com/2010/10/cara-memasang-banner-di-bawah-posting.html#sthash.TrMBEyDs.dpuf

Senin, 14 Juli 2014

Cita-Cita kok Setinggi Tanah???

Sering dengar kata-kata "gantungkan cita-citamu setinggi langit"?, atau waktu kecil dulu sering dinasihati seperti ini oleh orang tua, "Gantungkan cita-citamu setinggi langit ya, Nak!". Pasti sering, ya minimal pernah walaupun mungkin baru 1 kali seumur hidup. "Gantungkan cita-citamu setinggi langit" itu ucapan Bung Karno. Di masa kini, dengan teknologi yang makin canggih dan sumber daya manusia yang makin cerdas serta kreatif, cita-cita yang digantung setinggi langit itu menjadi bukan hal mustahil untuk digapai. Kalau dipikir-pikir, tinggal naik pesawat terbang saja maka kita sudah setinggi langit. Jangankan setinggi langit, pergi ke bulan saja bukan hal mustahil.

Berarti "gantungkan cita-citamu setinggi langit" sudah familiar dan tidak mengherankan lagi. Bagaimana kalau cita-citanya setinggi tanah?. Sebetulnya itu judul film, "Cita-Citaku Setinggi Tanah", disutradari dan diproduseri oleh Eugene Panji, berhasil terpilih menjadi 5 besar di Berlin International Film Festival 2013, mengalahkan 1500 film lainnya yang ikut berpartisipasi dalam ajang tersebut.

Project Pertama KAF Project

Untuk menyeimbangkan otak kanan dan otak kiri, saya mencoba membuat sebuah gerakan yang saya beri nama KAF Project, tujuannya mengajak berbagi kebaikan agar diri lebih bermanfaat dan bernilai lebih untuk sesama, minimal lingkungan terdekat. Tidak muluk-muluk, berbagi kebaikan itu bisa dimulai dari hal paling sederhana atau paling mudah dilakukan, misalnya sharing info lowongan kerja via BBM.

KAF Project didirikan pada 28 Januari 2013, tapi baru pada Januari 2014 saya tergerak untuk melakukan sebuah project berbagi yang lebih jelas dan terarah. Jadilah nonton bareng anak yatim di panti asuhan Al-Muhajirin Pondok Cabe sebagai the first project, terselenggara 20 Juni 2014 silam. Seorang teman yang baik hati, Frieda Fania, bersedia membantu, semoga dia juga bersedia bergabung di KAF Project biar saya gak walk alone, hehehe....

Ide nobar muncul ketika saya dapat info tentang sebuah komunitas, Beling alias Bioskop Edukasi Keliling. Sebuah komunitas yang kerjanya keliling-keliling ke berbagai daerah, dari yang mudah dijangkau hingga ke pelosok nusantara, untuk memutarkan film secara gratis kepada anak-anak penduduk setempat. Tim Beling tak pernah datang dengan tangan hampa, selain membawa film yang mendidik, mereka juga memberikan pertanyaan seputar film yang ditonton kemudian membagi-bagikan hadiah.


Akhirnya saya gandeng tim Beling dalam project pertama ini, project yang kami beri tajuk Sharing Edukasi Bareng Bioskop Edukasi Keliling (SEBAR BELING), film yang akan diputar adalah Cita-Citaku Setinggi Tanah. Tak perlu mengeluarkan biaya sepeser pun untuk mengundang Beling, bahkan biaya transportasi yang awalnya akan saya tanggung pun mereka sarankan untuk disalurkan saja ke anak-anak di panti Eeeits jangan salah!, walaupun priceless tapi kualitas layanan mereka sangat memuaskan. Kata-kata "gratis gak boleh protes, kalo gak enak terima aja" tidak berlaku bagi mereka.

Cita-Cita kok Setinggi Tanah?


Film Cita-Citaku Setinggi Tanah mengisahkan 4 orang siswa SD yang berasal dari keluarga sederhana di Muntilan, Jawa Tengah. Agus, Puji, Jono, dan Mey dengan cita-cita mereka. Mey bercita-cita menjadi artis terkenal, dia sering berlatih acting, ibunya sangat mendukung dengan menitipkan foto-foto putrinya ke kerabat mereka yang bekerja sebagai asisten artis di Jakarta sambil berharap putrinya diajak casting dan kelak bisa menjadi artis ternama. Jono bercita-cita menjadi prajurit, Jono selalu bermain perang-perangan, bakat leadershipnya tersalurkan dengan selalu menjadi ketua kelas. Puji, cita-citanya sederhana, ingin membantu dan membahagiakan orang lain. Dan Agus, yang paling menjadi sorotan karena cita-citanya dianggap tidak biasa, cita-citanya ingin makan di restoran Padang.

Di akhir film terungkap alasan Agus bercita-cita makan di restoran Padang. Menurutnya, yang tiada hari tanpa makan tahu karena ayahnya bekerja di pabrik tahu, makan di restoran Padang merupakan sebuah kemewahan. Selain dari sisi harga, petugas restoran Padang melayani pembeli layaknya seorang raja, makanan berpiring-piring diantar dan ditumpuk di atas meja tepat di hadapan sang pembeli. Tak dapat dipungkiri, masakan di restoran Padang memang lezat menggiurkan. Saat jam istirahat makan siang tiba, saya paling doyan menyantap sepiring nasi putih hangat yang dibanjiri kuah ayam kalio dengan sepotong daging rendang dan sambal hijau plus segelas es teh manis.

Setelah menonton, teman-teman dari panti Al-Muhajirin bertanya-tanya, "Cita-citanya kok setinggi tanah ya?", pertanyaan serupa yang juga muncul di pikiran saya.

Cita-Cita yang SMART

Terkait pertanyaan "Cita-citanya kok setinggi tanah ya?", saya teringat pelajaran yang saya kenal dan hafalkan teorinya ketika SMA dulu tapi baru mulai saya praktikkan saat sudah terjun ke dunia kerja. Jurus ampuh dalam menyusun rencana, jurus SMART : specific, measurable, achievable, realistic, timebound. Melalui film Cita-Citaku Setinngi Tanah, saya kembali belajar tentang jurus SMART.


Menurut saya, cita-cita Agus yang hanya setinggi tanah, yang hanya ingin makan di restoran Padang, dan kedengarannya tidak biasa inilah justru cita-cita yang SMART.

Jika dibandingkan dengan cita-cita Puji yang ingin membantu dan membahagiakan orang lain, cita-cita Agus lebih specific. Oleh karena specific atau jelas, maka cita-cita tersebut menjadi measurable atau dapat diukur. Memang tidak disebutkan berapa uang yang dibutuhkan untuk seporsi nasi Padang impian Agus, tetapi dengan jelas diceritakan bagaimana usaha Agus demi mendapatkan sejumlah uang untuk bisa makan di restoran Padang, mulai dari membuat celengan bambu, menyisihkan uang jajan, hingga bekerja sebagai pengantar ayam, dan betapa rajinnya Agus menghitung tabungannya yang makin hari makin bertambah.

Dari usaha Agus yang gigih dan tabungannya yang makin hari makin bertambah, terlihat bahwa cita-cita makan di restoran Padang sangat achievable dan realistic atau dapat dicapai, dapat menjadi kenyataan. Untuk hal timebound atau batas waktu juga tidak disebutkan namun dugaan saya pastilah jangka waktu pencapaiannya lebih jelas dibanding cita-cita Mey, sebab jika uang sudah terkumpul dan cukup untuk membayar seporsi nasi Padang maka bisa langsung makan di restoran Padang, tercapailah cita-cita Agus, sedangkan Mey masih belum jelas kapan panggilan casting datang padanya.

Intinya, Cita-Cita Ituuu...

Film ini ringan dan bermakna dalam. Intinya, cita-cita bukan untuk ditulis saja, tapi untuk diwujudkan. Silakan bermimpi dan menggantungkan cita-cita, terserah setinggi apa, pastikan jangan tertidur demi mewujudkannya. Juga tak perlu terlalu resah pada kerikil-kerikil yang ditemui saat proses pencapaian cita-cita, sebab rejeki tak pernah pergi, hanya menunggu waktu untuk kembali. Itu bukan kata saya, itu kata Mbah Tapak, sosok yang muncul selintas saja tapi selalu meninggalkan quotes renyah.

- See more at: http://artikelkomputerku.blogspot.com/2010/10/cara-memasang-banner-di-bawah-posting.html#sthash.TrMBEyDs.dpuf

Selasa, 24 Juni 2014

Balada (Tukang) Pompa

Ini curhat bukan sembarang curhat. Keliatannya curhat sepele, tapi yang namanya curhat cerdas ujung-ujungnya tetap ada unsur sharing something useful.

Begini ceritanya...

Sabtu jam 07.00, masih terlalu pagi untuk ukuran weekend, tapi sudah ada yang ngetok-ngetok pintu kamar sambil bilang, "Airnya kok kecil sih keluarnya?". Karena malas beranjak dari kasur dan gulungan bed cover, kuabaikan suara itu. Jam 09.00, baru selesai mandi pagi, baru beberapa langkah keluar kamar mandi dan tubuh masih dililit handuk. PRT teriak-teriak, "Pompanya bau kebakar. Bau banget". Tanpa pikir panjang, langsung mendekat ke arah pompa dan bau terbakarnya memang benar-benar menyengat.

Panik, bingung, kebetulan orang tuaku sedang keluar kota. Akhirnya kutelepon orang tuaku, mereka suruh cabut steker (colokan listrik) pompa dan toren (tangki) air supaya tidak terbakar. Sebelum dicabut, buru-buru kukumpulkan ember-ember yang ada untuk menampung air, bathtub yang biasanya jadi tempat berendam beralih fungsi menjadi tempat menampung air.

Berhubung tukang servis pompa di sekitar rumah sering getok, kupanggillah tukang listrik yang sudah terpercaya dan memang pernah beberapa kali servis instalasi listrik di rumahku. Ya namanya tukang servis listrik, bukan tukang servis pompa, dia hanya berhasil mendeteksi bahwa yang rusak dinamonya, harus beli baru, sebab jika digulung dan dipasang lagi maka besok-besok akan terbakar lagi, pompanya akan mati lagi.

Berdasarkan hasil diskusi dengan kedua orang tuaku via telepon dan BBM, akhirnya diputuskan untuk membeli pompa baru. Lengkap 1 set : pompa, dinamo, mesin jet seharga Rp.3.000.000 plus Rp. 200.000 ongkos tukang yang akan memasang pompa. Singkat cerita, jam 20.00 terpasanglah pompa air baru dan air mengalir kembali.

Eiiits!, cerita belum selesai, he..he..he.... Jam 02.00 dini hari, pompa bermasalah lagi, pompa berbunyi keras dan air tidak mengalir. Dini hari itu juga, dengan mata setengah terpejam, kucabut steker (colokan listrik) pompa dan toren (tangki) air. Sialnya, air yang kemarin ditampung sampai berember-ember sudah terpakai dan tinggal tersisa 1 ember berukuran sedang. Terpaksa pagi-pagi ngetok-ngetok rumah tetangga sebelah untuk minta air. Please deh!, selain ganggu kebiasaanku bangun siang setiap weekend atau libur, ini juga ganggu bobo' cantik orang lain.

Tukang yang pasang pompa kupanggil lagi, dia bilang kerusakannya di mesin jet yang di bawah tanah, harus diganti dengan mesin jet baru yang ada di 1 set pompa yang kemarin dibeli, ongkosnya Rp. 350.000.

"Loh kok gak sekalian diperiksa waktu pasang pompa kemarin?, kalau begini kan double ongkos."

"Kemarin gak ada tanda-tanda mesin jetnya rusak, Mbak!. Lagian kemarin atau sekarang ya tetap ada ongkosnya, sama 350.000 juga," kilah si tukang pompa.

OK!, daripada berdebat panjang lebar, lebih baik perbaiki pompanya. Setelah pompa selesai diperbaiki, air kembali mengalir, sebelum pulang si tukang pompa kasih 'pesan sponsor'. "Kaya'nya sumurnya bermasalah tuh, Mbak. Harus didalemin lagi. Ongkosnya 6.000.000, air jadi lebih banyak, gak keruh, bisa langsung diminum. Kalo sama saya yaaa...5.000.000 aja deh buat Mbak, harga special."

Perasaanku langsung gak enak, hidungku ini seperti langsung mencium gelagat jahat dari si tukang pompa. Benar saja, besoknya, pas mau wudhu untuk sholat subuh, lagi-lagi air tidak mengalir. Saking geramnya, aku langsung kontak toko tempat membeli pompa. Setelah konfirmasi dengan Cik penjual pompa, barulah diketahui bahwa dugaanku benar, tukang pompa melakukan kecurangan.

Mesin jet seharusnya diperiksa saat pemasangan pompa baru, biar kalau rusak sekalian bisa langsung diganti. Ongkos servis dan ganti mesin jet juga hanya Rp. 200.000, bukan Rp. 350.000. Cik penjual pompa heran kenapa pas pompa mati (lagi) kok langsung kontak tukang pompa, seharusnya kontak ke toko dulu, toh masih ada garansi toko, jadi seharusnya gratis. Untunglah Cik tipe pedagang yang enggan mengecewakan pelanggan, dipanggilnya tukang servis penipu itu, disuruh membetulkan pompa di bawah pengawasannya, jadi dia gak berani tipu-tipu lagi.

So, air merupakan hal vital dalam kehidupan, pompa mati dan air tidak mengalir sehari saja pasti terasa susahnya. Tidak semua tukang servis pompa senang getok dan tipu-tipu, tapi alangkah baiknya kalau kita tetap selektif memilih. Bisa jadi tokonya (owner) tidak bermasalah tapi tukang servisnya yang cari masalah, dalam kasus saya ini kebetulan tukang servisnya bukan pegawai tetap di toko tersebut, hanya tukang servis lepas yang diajak kerja sama dengan sistem bagi hasil. Seharusnya sih sempatkan waktu untuk searching tentang masalah-masalah pompa air, supaya nyambung dan gak bego-bego banget pas ngomong sama tukang pompa. Andai tidak berselang lama setelah pemasangan atau servis ternyata barang rusak lagi, lebih aman kontak tokonya saja.

- See more at: http://artikelkomputerku.blogspot.com/2010/10/cara-memasang-banner-di-bawah-posting.html#sthash.TrMBEyDs.dpuf

Senin, 14 April 2014

Bekal Makan Siang

Mendekati jam makan siang, yang di kantor pasti sudah mulai mikir-mikir mau makan siang apa hari ini (yang enak, bersih, dan beda dari hari kemarin, supaya gak bosen), mahasiswa yang di kampus juga pasti lagi mikir-mikir enaknya makan apa siang ini (yang murah tapi porsinya banyak supaya kenyang, kalau bisa saking kenyangnya sampai gak perlu makan malam lagi). Mungkin begitu juga anak-anak sekolah, pas bel istirahat menjerit mereka langsung menyerbu kantin, pesan makanan sesuai keinginan, entah berapa orang dari mereka yang ingat pesan mama : "Jangan jajan sembarangan!", "Pilih makanan yang bersih ya!", "Kalau jajan tuh makanan sehat dong!".

Oh ya!, ngomong-ngomong soal makan siang, tanggal 12 April adalah Hari Bawa Bekal Nasional. Baru tau ya?!, sama dong!, saya juga baru tau, maklum baru dideklarasikan tahun 2013. Dilihat dari aksi kampanye yang diselenggarakan di 4 kota (Jakarta, Medan, Pontianak, Makassar), target segmen Gerakan Ayo Bawa Bekal adalah anak-anak sekolah, di Jakarta pun acara digelar di SDN 01 Menteng. Tujuannya tentulah seputar gizi dan kesehatan, selain lebih hemat, dengan membawa bekal pastilah asupan gizi, kebersihan dan kesehatan makanan yang dikonsumsi lebih terjamin. Kenyataannya agak berbeda, bukan cuma anak-anak sekolah yang bawa bekal, tapi mahasiswa dan orang kerja juga ada yang masih bawa bekal.

Bekal Jaman SD vs Bekal ke Kantor

Waktu SD, saya hampir tak pernah jajan dan tak pernah bawa uang jajan ke sekolah, setiap hari saya bawa bekal. Kadang-kadang bosan juga, tapi ibu saya tak pernah bosan menyiapkan kotak makan berisi bekal untuk saya makan saat istirahat.

Ada masa-masa dimana membawa bekal itu seperti membawa beban. Tas saya sudah penuh dengan buku-buku dan peralatan sekolah, jika ditambah kotak makan maka sama artinya menambah berat beban yang harus saya sandang. Saat jam istirahat tiba, makanannya sudah dingin, beda dengan makanan teman-teman yang baru dibeli di kantin, fresh from the oven. Kadang saya memilih untuk jajan di kantin bareng teman-teman dan tidak memakan bekal, sampai di rumah pasti dimarahi ibu karena dianggap tidak menghargai masakan ibu. Ya memang special effort bagi ibu untuk bangun pagi-pagi lalu menyiapkan bekal, wajar kalau reaksinya berupa marah saat bekal tidak saya makan.

Lain dulu lain sekarang, saat saya sudah bekerja. Tiap akan membayar menu makan siang yang sudah dipesan di kantin, kok rasanya berat mengeluarkan uang, resleting dompet seakan-akan mendadak nyangkut dan uangnya susah dikeluarkan. Maklum, bayarnya pakai uang sendiri, waktu sekolah kan tinggal minta uang jajan sama orang tua, hehehehe.... Beruntung, ibu saya (masih) tidak bosan menyiapkan kotak makan berisi bekal untuk saya makan saat istirahat, jadilah saya sering membawa bekal ke kantor. Tidak setiap hari memang, ada kalanya saya ingin santap makanan hangat dan segar, biasanya saya memilih seporsi soto ayam Lamongan plus nasi, tapi lebih sering membawa bekal ketimbang beli. Rupanya saya tidak sendiri, beberapa orang teman juga membawa bekal dari rumah, bahkan yang laki-laki juga tidak malu membawa bekal. Ada yang disiapkan oleh ibunya, sama seperti saya, tapi ada juga yang mau memasak dan menyiapkan sendiri bekalnya.

Selain lebih hemat, membawa bekal juga menolong kami ketika hujan. Kalau hujan biasanya malas harus berpayung ria ke kantin, apalagi kalau hujannya deras, bisa-bisa habis makan nanti basah semua pakaian dan sepatu. Saat antrean pekerjaan menumpuk dan berat beranjak dari meja kerja, cukup buka kotak makan dan santap siang sambil tetap melanjutkan pekerjaan di depan komputer. Oh ya, karena status kami masih trainee dan hasil Medical Check Up di akhir tahun nanti akan ikut menentukan dapat diangkat atau tidaknya kami menjadi karyawan tetap, maka membawa bekal juga menyelamatkan dari godaan bebek goreng, sate kambing, soto betawi full jeroan yang berisiko kolesterol.

Itulah cerita tentang membawa bekal makan siang. Jangan lupa berterima kasih kepada orang yang tak pernah bosan menyiapkan bekal. Suatu hari nanti, entah berapa lama lagi, barangkali tiba giliran saya berpindah posisi menjadi orang yang bertugas menyiapkan bekal untuk anak-anak atau suami tercinta.

- See more at: http://artikelkomputerku.blogspot.com/2010/10/cara-memasang-banner-di-bawah-posting.html#sthash.TrMBEyDs.dpuf