Senin, 17 Februari 2014

Saya (Belum) Berhasil

Pengalaman mengalahkan diri sendiri selalu menjadi cerita tak terlupakan bahkan bisa menginspirasi orang lain. Alhamdulillah, tanggal 4-7 Februari 2014 kemarin, saya mendapat kesempatan yang sangat berharga : kesempatan untuk mengalahkan diri sendiri. Bagaimana ceritanya?. Apakah seru?, atau malah menegangkan?. Inilah kisahnya.

Pengalaman Pertama

Diterima di program HRDP (Human Resources Development Program) Kompas Gramedia, diwajibkan mengikuti serangkaian training selama 11 bulan, salah satu dari serangkaian training tersebut adalah outdoor training di Waduk Jatiluhur. Untuk menyelenggarakan kegiatan outdoor training ini, Kompas Gramedia bekerja sama dengan Pancawati.

Jujur, ini pengalaman pertama saya mengikuti outdoor training, sebelumnya saya tidak pernah hiking, camping, saya takut ketinggian, saya tidak bisa berenang, saya menderita asma yang bisa kambuh saat terlalu lelah, lambung saya sering sakit kalau makan tidak teratur dan stress, saya juga alergi dingin. Tak terbayangkan, bagaimana tegangnya saya menghadapi outdoor training ini?!. Sebuah hal yang menambah ketegangan saya, pihak penyelenggara tidak memberi tahu aktifitas apa saja yang akan kita lakukan di sana, sedangkan saya tipe orang yang senang bersiap-siap sebelum berkegiatan, melangkah tanpa persiapan bisa membuat saya tidak PD bahkan panik jika terjadi hal-hal yang di luar dugaan.

Benar saja, setiap hari, bahkan setiap sesi, selalu ada kejutan. Hal-hal di luar dugaan, di luar kebiasaan, di luar batas kemampuan diri tak pernah absen mengiringi 3 hari outdoor training saya. Tidak diperbolehkan membawa HP, maka semua gadget harus dikumpulkan ke panitia hingga acara berakhir pada tanggal 7. Lumpur dimana-mana, karena waktu itu cuaca sedang ekstrim, hujan-panas-hujan-panas-hujan yang tak bisa diprediksi. Tidak mandi dan tidak sikat gigi selama 3 hari, sedangkan saya terbiasa mandi minimal 2 kali sehari dan sikat gigi setiap habis makan. Tidur di tenda, di ruang terbuka, di pinggir waduk, bahkan di hutan dengan alas tidur matras setebal kurang dari 2 cm. Setiap hari berpindah tempat, setiap hari hiking berbekal kompas, peta, serta titik koordinat untuk menemukan lokasi camping hari ini.

Inilah pertama kalinya saya mengerti tentang tenda, ada 2 jenis yaitu La Fuma dan Consina yang masing-masing berbeda cara pemasangannya, saya bisa mendirikan tenda dan membongkarnya kembali. Inilah pertama kalinya saya menggunakan pelampung (life vest) kemudian berenang di waduk, padahal berenang di swimming pool sedalam 3 meter saja saya tidak pernah berani karena tidak bisa berenang. Inilah pertama kalinya saya canoeing, mendayung sampan, yang ternyata enak juga untuk refreshing. Inilah pertama kalinya saya belajar tentang navigasi, menentukan arah dan tujuan menggunakan kompas. Inilah pertama kalinya saya flying fox, takjub rasanya sebab saya takut ketinggian tapi kali ini saya berani dan berhasil flying fox.

Tak dipungkiri, bimbingan dari para instruktur juga mendukung munculnya keberanian saya, bahkan hingga berhasil mengalahkan rasa takut. Meski sepintas dan singkat saja, para instruktur terlebih dahulu mengajari para peserta bagaimana canoeing, hiking, camping, dan mendayung yang aman, tidak dilepas begitu saja. Keamanan dan keselamatan selalu diutamakan oleh para instruktur yang setia mendampingi para peserta selama outdoor training. Memang, konsekuensinya para peserta dituntut untuk cepat menangkap pelajaran baru, jika belum jelas juga maka learning by doing saja.

Apa yang Saya Dapat?

Kompas Gramedia dan tim Pancawati memiliki target agar para peserta outdoor training berani keluar dari zona nyaman dan berhasil melampaui batasan (kemampuan) diri. Apa yang saya dapat dari outdoor training?, lebih dari sekedar berani keluar dari zona nyaman dan berhasil melampaui batasan (kemampuan) diri. Saya berhasil :
- lebih tangguh dan kuat tapi fleksibel
- mengevaluasi diri dari setiap kesalahan yang pernah dilakukan
- mengalahkan rasa takut
- berani dan tenang menghadapi apapun
- lebih percaya diri melewati segala peristiwa meskipun persiapannya minim, sebab kadang kala kita tak punya cukup waktu untuk bersiap-siap tapi kita tetap dituntut untuk mencapai hasil optimal
- siap dan sanggup menghadapi hal-hal di luar dugaan yang mungkin akan banyak sekali terjadi dalam kehidupan dan karier
- mengatakan dan meyakini bahwa AKU BISA!!! kemudian mulai beraksi mencapai tujuan.

Saya (Belum) Berhasil

Saya sudah berhasil dalam banyak hal, bahkan melebihi target Kompas Gramedia dan tim Pancawati, tapi saya tidak pantas berbangga dan berpuas diri. Semua aktifitas selama outdoor training hanyalah simulasi, begitu pula dengan keberhasilan saya, hanya keberhasilan dalam simulasi. Jika saya (dan seluruh peserta outdoor training) berhasil menaklukkan rintangan di pekerjaan dan kehidupan, barulah layak disebut pemenang. Lebih spesifik, jika seluruh peserta outdoor training berhasil lulus program HRDP dan AEDP (Account Executive Development Program), barulah layak disebut pemenang.

Patut diingat, untuk bisa lulus program HRDP dan AEDP harus melewati serangkaian training yang diwarnai oleh in class training yang kadang membosankan, ujian-ujian, 2 kali OJT (on the job training) lengkap dengan tugas-tugas dan penilaian-penilaian, belum termasuk lika-liku, tantangan-tantangan, serta target (khusus AEDP yang tugasnya mencari iklan). So, welcome to the real life!. Selamat berjuang!, jadilah pemenang!.

- See more at: http://artikelkomputerku.blogspot.com/2010/10/cara-memasang-banner-di-bawah-posting.html#sthash.TrMBEyDs.dpuf

Kamis, 16 Januari 2014

Rekor MURI Zaskia Gotik

Siapa yang tak kenal Zaskia Gotik?. Drama pertunangannya yang santer terdengar se-Indonesia masih segar di ingatan, belum lagi buntut panjang dari drama pertunangan itu heboh menghiasi TV, mulai dari infotainment hingga talkshow.

Zaskia Gotik bergoyang itik.
Ketika orang-orang ditanya : "Apa yang kamu ingat tentang Zaskia Gotik?", jawabannya bermacam-macam : goyang itik, penyanyi dangdut, seksi, Satu Jam Saja (judul lagunya), Vicky Prasetyo, serta sederetan kata-kata aneh bin ajaib yang mendadak populer dan sering ditirukan sebagai lucu-lucuan.

Drama pertunangan Zaskia Gotik & Vicky Prasetyo. Pertunangan tersensasional tahun 2013 se-Indonesia.
Itulah kira-kira image atau citra Zaskia Gotik yang terlanjur terbentuk dan melekat pada dirinya. Citra itu diperburuk oleh citra Vicky Prasetyo dengan kata-kata aneh bin ajaibnya, carut marut track recordnya sebagai orang yang diduga banyak melakukan penipuan, serta rentetan sensasi-sensasi yang terus menerus bermunculan pasca kandasnya pertunangan mereka. Istilah kerennya, co-branding yang merugikan.

Vicky Prasetyo dan kata-kata aneh bin ajaibnya.
Semalam saya menonton Hitam Putih, katanya itulah episode terakhir talkshow inspiratif ini, ada sesi Are You Smarter Than Me dimana 2 orang penonton beradu wawasan dengan Deddy Corbuzier layaknya acara kuis. Di sesi itu, ada pertanyaan tentang Zaskia Gotik yang baru mencetak rekor MURI, rekor apakah yang berhasil dicetak?. Tak ada yang bisa menjawab pertanyaan tersebut, Deddy Corbuzier dan kedua orang peserta tidak dapat menjawabnya, begitu pula penonton di studio. Saya malah menduga rekor yang berhasil dicetak Zaskia Gotik adalah pertunangan tersensasional. Ternyata rekor yang berhasil dicetak Zaskia Gotik adalah syuting video klip terbanyak dalam waktu 24 jam.

Walaupun banyak yang tidak tahu berita ini, setidaknya ini sebuah langkah tepat yang diambil Zaskia Gotik. Rekor yang dicetaknya merupakan hal positif yang akan berimbas baik pada karirnya sebagai penyanyi dangdut sekaligus gebrakan di awal tahun 2014. Sejalan dengan niatnya, rekor ini berpotensi menetralisir berita-berita miring tentang dirinya yang terlanjur membentuk image kurang baik. Yaaa...meskipun memperbaiki image tak semudah membalik telapan tangan, tak mungkin berhasil dalam semalam, mustahil tinggal "criiiing!" layaknya sulapan.

Semoga saja pihak-pihak yang ikut berpartisipasi menghebohkan berita-berita Zaskia Gotik, mungkin termasuk kita yang rajin menyimak liputannya di TV, bisa menerima dan mengakui image positif seorang Zaskia Gotik dengan bijaksana. Sebab sebuah hal lumrah jika citra mengalami naik turun, seperti halnya roda kehidupan yang berputar atau sewajar bisnis yang kadang mengalami fluktuasi, kelak saat citra kita menurun maka jangan ragu untuk menaikkannya kembali dengan cara-cara yang tepat, semoga orang lain mau dan mampu menilai dengan bijak.

- See more at: http://artikelkomputerku.blogspot.com/2010/10/cara-memasang-banner-di-bawah-posting.html#sthash.TrMBEyDs.dpuf

Minggu, 05 Januari 2014

Awali (2014) Dengan Berbagi


Sempatkah kita menghitung pengeluaran saat kita merayakan pergantian tahun?
Mungkin jawabannya tidak, tapi yang pasti pengeluaran kita cukup besar saat perayaan pergantian tahun.
Uang, untuk membeli kembang api dan terompet, untuk merayakan new year eve party, dan acara-acara lainnya.
Waktu, teman-teman yang merayakan pergantian tahun di luar rumah -- apakah itu berkumpul di Monas, di pusat-pusat keramaian, atau berpesta di rumah kerabat dan sahabat -- mau tidak mau harus berjibaku dengan kemacetan sebab jalanan dipadati oleh ratusan bahkan ribuan orang yang juga merayakan pergantian tahun.
Tenaga, karena pergantian tahun itu terjadi pada pukul 24.00 maka kita harus rela menunda tidur demi menyambut datangnya tahun yang baru, padahal tak sedikit dari kita yang sudah lelah setelah beraktifitas dan bekerja sebelumnya.

Ingatkah kita dengan resolusi tahun baru?
Resolusi adalah cita-cita, harapan, impian, target yang ingin kita raih di tahun yang baru. Resolusi juga bisa berupa janji-janji yang harus kita tepati.
Banyak ucapan 'Selamat Tahun Baru' yang kita terima dari keluarga dan rekan-rekan, ucapan-ucapan tersebut biasanya disertai dengan do'a "Semoga Lebih Sukses", "Semoga Makin Berjaya", atau "Next year will be better" misalnya.


Banyak dari kita, termasuk saya, yang berharap agar seluruh resolusi dapat tercapai, dalam waktu yang tidak terlalu lama, dan pada proses pencapaiannya pun relatif lancar.
Agar seluruh resolusi dapat tercapai, dalam waktu yang tidak terlalu lama, dan pada proses pencapaiannya pun relatif lancar, pastilah dibutuhkan upaya yang sungguh-sungguh serta do'a yang tiada henti. Selain itu, faktor-faktor lain pun ikut membantu.

Apa itu faktor-faktor lain?
Orang sering menyebutnya sebagai faktor X alias keberuntungan (lucky) dan menganggapnya sebagai hal yang begitu berharga, sebab faktor X (lucky) hanya berpihak pada orang-orang tertentu dan tidak datang setiap saat.
Pada kenyataannya anggapan itu tidak 100% benar.
Faktor-faktor lain bisa berupa bantuan dan do'a dari orang lain, hingga balasan atas kebaikan yang pernah kita lakukan.

Saya berniat mengawali tahun 2014 ini dengan sebuah kebaikan, yaitu berbagi. Acaranya sederhana, memberi makan dan santunan kepada fakir miskin dan anak-anak yatim piatu. Syukur-syukur bisa sekalian makan bersama mereka. Mengapa saya lakukan ini?, sebab saya ingin menarik faktor X, layaknya magnet menarik besi. Dengan berbuat kebaikan dan membantu orang lain, maka balasan-balasan dari kebaikan yang telah diperbuat, bantuan-bantuan serta do'a-do'a dari orang lain bisa melancarkan proses dan mempercepat waktu pencapaian resolusi saya, bahkan besar kemungkinan resolusi saya akan tercapai dengan sempurna.

Bagi teman-teman yang ingin ikut menarik faktor X, silakan ikut berpartisipasi via rekening BRI nomer 0534-01-006960-50-0 atas nama Annisa Intan W. Silakan konfirmasi bukti transfer ke Twitter @introduceintann atau email ke intannwir_aiw@rocketmail.com
Untuk diperhatikan! :
1. subjek email : menarik faktor X
2. mohon maklum sebab untuk sementara partisipasi yang diterima hanya berupa uang, mengingat segi kepraktisan
3. semua pertanyaan seputar acara dapat diajukan via email
4. setelah acara terlaksana, akan dikirimkan laporan pertanggungjawaban via email, mohon sertakan alamat email untuk pengiriman laporan.

Apa benefitnya? 
1.  "Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bi­si­kan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) mem­be­ri sedekah, atau berbuat ma’ruf atau menga­da­kan perdamaian di antara manusia. Dan ba­rang­siapa yang berbuat demikian karena men­cari keridhaan Allah, maka kelak Kami akan memberi kepadanya pahala yang besar." (QS An Nisaa [4]: 114)
2. "Bersegeralah bersedekah, sebab ba­la bencana tidak pernah bisa mendahului sede­kah." (HR Imam Baihaqi)
3. "Sedekah da­pat menghapus dosa sebagaimana air me­ma­damkan api." (HR Tirmidzi)
4. "Manusia level tiga: kalau lagi punya harapan, impian, atau hajat, maka dia akan berusaha, berdoa, dan beramal. Ia 'membeli' dan 'mengantar' hajatnya dengan amal kebaikan. Inilah cara terbaik untuk 'membeli' impian. Inilah bentuk berniaga dengan Alloh." (Ippho 'Right' Santosa)

Insya Alloh acara akan diselenggarakan pada tanggal 26 Januari 2014. Kami sambut partisipasi teman-teman yang dermawan hingga tanggal 20 Januari 2014.

Untuk para pembaca, mohon bantu sebarkan kabar ini. Biar kebagian pahala juga.

- See more at: http://artikelkomputerku.blogspot.com/2010/10/cara-memasang-banner-di-bawah-posting.html#sthash.TrMBEyDs.dpuf

Selasa, 31 Desember 2013

6 Tahap Pemutus Rantai Gajah

Membaca Rantai Gajah, tulisan Pak Darmawan Aji yang di posting di www.darmawanaji.com, saya terusik oleh 3 baris terakhir : "Gajah itu terbelenggu, bukan terbelenggu oleh rantainya, namun terbelenggu oleh pikirannya sendiri sehingga ia tak mampu membebaskan potensinya sendiri. Bagaimana dengan kita kawan?". Kalimat tanya yang menutup tulisan itu juga membuat saya mengoreksi diri, masih adakah mental block dalam diri saya?. 

Pak Darmawan Aji adalah orang pertama yang mengajarkan saya tentang hipnosis. Kalau tidak salah, September 2009 silam merupakan pertemuan pertama saya dengan beliau. Waktu itu saya masih mahasiswa Universitas Padjadjaran, suatu hari saya mencoba mengisi waktu luang dengan ikut seminar tentang self hypnosis di ComLabs ITB dan beliaulah pembicaranya, itulah pertama kalinya saya mengenal hipnosis secara ilmiah.

6 Tahap

Belum lama ini saya mengalami sebuah pengalaman dalam hidup saya, pengalaman itu berkaitan dengan rantai gajah atau belenggu potensi diri alias mental block, pengalaman itu adalah serangkaian tes seleksi karyawan Kompas Gramedia. Seleksi yang sudah pernah saya ikuti pada tahun 2011, beberapa bulan saja setelah saya wisuda, dan saya gagal di tes tahap 1 padahal saya berharap besar saat itu, maklum fresh graduate yang masih jobless pasti dihujani pertanyaan dan tuntutan seputar pekerjaan.

Dimulai dari tanggal 22 November 2013, walk in interview. Saya sampai di kantor Kompas Gramedia sekitar pukul 08.30 WIB, sudah dapat nomer antrian 240-an. Prosesnya sangat cepat, interview dilakukan per term, masing-masing 1 jam, kemudian langsung diumumkan siapa yang lolos per term setiap 1 jam sekali. Alhamdulillah saya lolos walk in interview. What's next?, tes tahap 2 dan 3 yaitu psikotes dan kawan-kawannya. Kapan?, keesokan harinya!. Alangkah tidak siapnya saya, sangat tidak menyangka. Rupanya seleksi ini juga diselenggarakan di 5 kota lainnya (Surabaya, Bandung, Yogyakarta, 2 kota lainnya saya lupa) dan Jakarta adalah kota terakhir sehingga psikotes dilaksanakan langsung keesokan harinya.

Tanggal 23 November 2013, tes tahap 2 dan 3 berlangsung seharian penuh, mulai pukul 08.00 hingga pukul 18.00 WIB. Psikotes dilaksanakan hingga pukul 11.00, kemudian istirahat makan siang dan sholat dzuhur. Pukul 14.00 langsung diumumkan siapa yang lulus psikotes dan Alhamdulillah saya lulus. What's next?, tes tahap 3 yaitu FGD (Focus Group Discussion) yang dinilai oleh seorang psikolog, tes melanjutkan gambar (War Teg Test), tes menggambar pohon dan orang, serta tes berhitung (Pauli - Kraepelin Test) berlangsung hingga pukul 18.00 WIB. Pada tes tahap 2 dan 3 ini, peserta-peserta dari 5 kota lainnya berkumpul di Jakarta. Alhamdulillah saya lulus FGD, War Teg Test, tes menggambar pohon dan orang, serta Pauli - Kraepelin Test. Pengumuman kelulusan saya terima via email seminggu setelah tes.

Kemudian tanggal 6 dan 11 Desember, tes tahap 4 dan 5, masing-masing adalah Project Team Interview dan Interview User. Project Team Interview adalah wawancara yang dilakukan oleh HR dari kantor pusat, sedangkan Interview User adalah wawancara yang dilakukan oleh HR Manager Unit, di unit itulah nanti kita ditempatkan. Alhamdulillah saya juga lulus kedua tahap tes tersebut. Daaaaaannn...tes terakhir yang menurut saya paling membuat deg-degan adalah Medical Check Up. Jujur saja, sudah lama sekali saya tidak berolah raga (kecuali jalan kaki) dan tidak berpola hidup sehat. Medical Check Up cukup lengkap, mulai dari cek darah puasa dan cek darah setelah puasa, rontgen paru-paru, cek urin, tes pendengaran, tes penglihatan, tes buta warna, EKG, cek tensi dan denyut nadi, serta cek fisik dari ujung kepala hingga ujung kaki termasuk cek payudara (bagi perempuan), cek hernia (bagi laki-laki), dan cek wasir (ambeien) di anus.

Alhamdulillah saya lulus juga Medical Check Up ini dan akhirnya saya diterima sebagai karyawan di Kompas Gramedia. Ooops...tunggu dulu!, tes belum berakhir. Masih ada training selama 11 bulan dengan 2 tahap evaluasi dan berlaku sistem gugur. Setelah training barulah diangkat menjadi karyawan tetap dengan ikatan dinas 1 tahun.

Kalau selama ini saya mendengar nasehat : "Manusia ditakdirkan untuk berkompetisi. Sebelum jadi manusia saja sudah harus berkompetisi. Hanya 1 dari jutaan sperma yang dapat membuahi sel telur, kemudian bertahan 9 bulan di kandungan, berjuang saat proses kelahiran, perjuangan panjang saat di dunia, dan semuanya baru berakhir ketika mati. Itulah saat kita mempertanggungjawabkan semua kesempatan indah yang Tuhan berikan", melalui 6 tahap inilah saya alami langsung serangkaian panjang seleksi ketat dan cepat demi sebuah kesempatan berkarir di perusahaan besar dan ternama yang telah berdiri sejak 1963. Bukan hanya itu, 6 tahap inilah yang berhasil memutus rantai gajah atau mental block dalam diri saya.

Rantai Gajah yang Membelenggu

Berdasarkan pengalaman berkali-kali gagal seleksi masuk perusahaan besar dan ternama, seperti Telkom, Bank Mandiri, BNI, Pertamina, OJK (Otoritas Jasa Keuangan), dan yang lainnya yang saya tidak ingat saking keseringan...hehehe..., terbentuklah persepsi dalam benak saya bahwa saya tidak akan pernah bisa diterima apalagi bekerja di perusahaan-perusahaan besar dan ternama. Bahkan saya sering menghindari open recruitment perusahaan-perusahaan besar dan ternama tersebut, daripada kecewa untuk kesekian ratus kalinya.

Mirip seperti gajah yang dirantai sejak kecil, baru saya sadari sekarang bahwa dulu saya hanyalah seorang fresh graduate yang belum punya pengalaman kerja, saya juga jarang bergabung dalam kepanitiaan dan organisasi-organisasi kemahasiswaan, menjawab pertanyaan interviewer dengan terbata-bata karena minimnya wawasan. Saat ini, setelah 1 tahun bekerja ke sana-sini dan 1 tahun menetap di brand consultant, saya sudah jauh lebih kaya dengan pengalaman kerja, pengalaman berinteraksi dengan klien, kemampuan berbicara di hadapan banyak orang, menjawab pertanyaan dengan baik dan benar, serta presentasi memukau juga meningkat. Alhamdulillah 6 tahap inilah yang berhasil memutus rantai gajah, menghancurkan mental block, sebab secara langsung saya membuktikan bahwa saya bisa!.

Tentunya, kesuksesan awal ini tidaklah saya raih sendiri. Banyak dukungan dan do'a yang membantu menguatkan serta melancarkan. Saya sembahkan syukur kepada Alloh S.W.T, saya haturkan terima kasih kepada kedua orang tua, keluarga besar, sahabat-sahabat, teman-teman, dan semua orang yang ikut mendo'akan saya.

Untuk para pembaca, jangan ragu untuk terus mencoba, jangan pasrah dengan belenggu apapun yang merantai diri. Kadang tanpa sadar, kita sudah cukup kuat dan sangat mampu untuk melepaskan belenggu tersebut, hanya kita belum cukup berani untuk melakukannya. Entah masih berapa banyak mental block yang ada di diri saya, tapi Alhamdulillah 1 belenggu sudah terlepas. Terima kasih, Pak Darmawan Aji!.

- See more at: http://artikelkomputerku.blogspot.com/2010/10/cara-memasang-banner-di-bawah-posting.html#sthash.TrMBEyDs.dpuf

Selasa, 10 Desember 2013

Apa (Sebenarnya) Guna Kondom?

Ribut-ribut soal Pekan Kondom Nasional, pro dan kontra bagi-bagi kondom gratis dalam rangka kampanye pencegahan HIV/AIDS, 'pemberian gelar' Ratu Kondom dan Menteri Cabul untuk Menteri Kesehatan, Nafsiah Mboi, hingga beragam respon penolakan dari berbagai tokoh publik. Sebagai bukti, Anjari Umarjianto alias Eyang Anjarisme merangkum beragam respon penolakan dari tokoh-tokoh publik tersebut dalam sebuah postingan berjudul "Kondom dan Cermin Masyarakat Gagal Paham serta Buruknya Komunikasi Publik" di blognya.

 
Bis merah bergambar Jupe, salah satu media kampanye Pekan Kondom Nasional.
'Pemberian gelar' untuk Menkes Nafsiah Mboi, wujud perlawanan yang beredar di dunia maya.
Sadar atau tidak, cara pencegahan HIV/AIDS yang paling populer karena paling sering dikampanyekan adalah dengan pemakaian kondom. Sadar atau tidak, cara ini kurang sesuai dengan budaya dan norma-norma di Indonesia. Sadar atau tidak, selama ini telah terjadi salah kaprah massal tentang guna kondom dan cara pencegahan HIV/AIDS.

Pakai kondom, aman dari HIV/AIDS.
Cegah HIV/AIDS dengan kondom.
Kita, orang Indonesia, tidak butuh kondom untuk mencegah HIV/AIDS. Mayoritas penduduk Indonesia beragama Islam, coba cek di Al-Qur'an!, ada Surat Al-Isroo' ayat 32 : "wa laa taqrobuuzzinaa, innahu kaana faahisyatan wa saa-asabiilan" yang artinya "Dan janganlah kalian mendekati zina!, sesungguhnya zina itu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk". Baru mendekati saja sudah dilarang apalagi melakukan, alasannya sangat jelas karena zina itu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk. Penyakit kelamin, seperti HIV/AIDS sendiri misalnya, dan aborsi merupakan contoh dampak buruk zina yang paling nyata dan paling mudah dijumpai.

"Dosa gak bejendol, Bro!. Santai aja!, diem-diem aja, suka sama suka, gak ada yang tau". Dosa memang gak bejendol tapi hamil kan bejendol. Buat melenyapkan barang bukti (jendolan) terpaksa pilih aborsi sebagai jalan pintas yang cepat dan dianggap 'aman'. Please deh!!!, aman jangka pendek, berbahaya dan berpotensi sengsara jangka panjang. Kalau aborsi gagal, nyawa jadi taruhan, atau bayi lahir tapi dalam kondisi cacat. Kalau aborsi berhasil, ada kemungkinan bahaya pada rahim atau susah hamil kembali di kemudian hari. Itu risiko buat cewek, apa risiko buat cowok?. Tetap ada. Penyakit kelamin itu (baru) siksaan di dunia, tapi imbasnya (sudah) kemana-mana. Bisa nular ke istri, bisa nular ke anak.

Bagaimana dengan yang non muslim?, seperti yang kita ketahui sejak masih duduk di bangku SD bahwa di Indonesia ada 5 agama yang diakui yaitu Islam, Katolik, Protestan, Hindu, dan Budha, entah sekarang masih tetap 5 atau sudah bertambah jumlahnya. Saya tidak sempat menelusuri apakah di dalam kitab suci agama-agama tersebut juga terdapat larangan berzina atau tidak, tapi kita semua paham serta yakin bahwa setiap agama mengajarkan dan menyerukan kebaikan kepada umatnya. Lagi pula, budaya dan norma yang berlaku di Indonesia adalah budaya dan norma timur. Proses menuju sebuah pernikahan saja ada tahapan-tahapannya, misalnya lamaran, pengajuan syarat-syarat dari keluarga calon mempelai, seserahan, mahar, pingitan, dan lain-lain, hingga sampai ke tahap ijab kabul atau pengucapan janji pernikahan oleh pengantin. Sudah ijab kabul dan tinggal resepsi saja kadang-kadang masih ada beberapa prosesi untuk kedua mempelai bisa sampai dan menduduki kursi pelaminan. Tidak asal tabrak setelah kenalan dan ngobrol-ngobrol beberapa jam saja.

Jadi, apa (sebenarnya) guna kondom?. Guna kondom di Indonesia, yang paling efektif dan paling pas dengan budaya serta norma-norma, adalah untuk mengurangi jumlah pertambahan penduduk alias KB (Keluarga Berencana). Sekedar saran, semoga diterima dan dilaksanakan, ubahlah pilihan kata yang digunakan dalam kampanye pencegahan HIV/AIDS. Akhirilah salah kaprah massal tentang guna kondom dan cara pencegahan HIV/AIDS!.

Jauhi zina!. Tidak berhubungan seks selain dengan suami / istri.

STOP PERGAULAN BEBAS!. Ya tertular penyakit, ya dosa.

Ubah pilihan kata. Akhiri salah kaprah massal tentang guna kondom dan cara pencegahan HIV/AIDS!.























- See more at: http://artikelkomputerku.blogspot.com/2010/10/cara-memasang-banner-di-bawah-posting.html#sthash.TrMBEyDs.dpuf