Selasa, 14 April 2015

Sustainable Popularity of Talent Show Product

Sustainable Popularity of Talent Show Product, postingan kali ini berbahasa Inggris, tapi judulnya doang, isinya tetap berbahasa Indonesia. Hehehehe. Kalau judulnya Kelangsungan Ketenaran Produk Talent Show, khawatir terkesan terlalu berat, padahal isi postingan ini disetting seringan mungkin biar gampang dipahami.

Baru-baru ini saya jadi lumayan akrab sama musik dangdut, gara-gara talent show D'Academy 2 yang tayang di Indosiar. D'Academy 2 bukan satu-satunya talent show yang saya tonton, talent show pertama yang saya tonton adalah AFI (Akademi Fantasi Indosiar) tahun 2003-2004, selanjutnya banyak talent show lainnya yang saya tonton meski cuma sekilas. Bagi saya, selain seru, nonton talent show itu banyak untungnya.

Ujung yang pasti dari sebuah talent show adalah lahirnya idola-idola baru. Sengaja saya menulis ini untuk idola-idola baru nan belia. Semoga mereka menjadi idola-idola sejati yang kualitasnya makin meninggi tapi tetap nyaman jadi diri sendiri dan rendah hati.

Albi, Rizki Ridho, dan Pergeseran Segmen


Saya bukan penggemar musik dangdut tapi malah jadi gandrung sama D'Academy 2. Mungkin 2 hal inilah alasan utamanya. Pertama, saya jenuh dengan hingar bingar musik asing yang menyerbu tanah air. Dangdut is the music of my country, tak peduli diledek "kok tontonannya sama dengan acara favorit PRT", toh musik berirama Melayu itu gak jelek-jelek amat kok!. Kedua, tak sengaja melihat dan langsung terpikat pesona Albi serta Si Kembar Rizki Ridho. Sepertinya alasan kedua inilah yang bikin saya mantengin D'Academy 2.

Albi dan Rizki Ridho sama-sama dari Sumatera Utara. Albi mewakili Kabupaten Batu Bara sedangkan Rizki Ridho mewakili Medan. Walaupun Rizki Ridho punya keunikan yang tidak dimiliki peserta-peserta lain, formasi suara yang tiada tanding, plus wajah imut sebagai magnet berdaya tarik dahsyat dan berhasil menyedot perhatian ribuan ABG menjadi fans mereka, pada akhirnya saya lebih mengidolakan Albi. Teknik bernyanyi Albi lebih jitu, selalu ada kejutan di setiap aksi panggungnya yang memukau, dari awal penampilan sudah nampak aura bintangnya, biarpun baru belakangan saya mengetahui bahwa Albi rupanya sudah merintis karir bermusik Melayu sebagai artis lokal di Batu Bara. Setelah Albi tersenggol, saya stop mantengin D'Academy 2, nontonnya jadi selintas saja.


Jujur, awalnya saya agak kecewa dengan Indosiar yang tetap mempertahankan Rizki Ridho setelah tersenggol, walaupun statusnya di panggung bukan lagi sebagai peserta tapi hanya penghibur. Nampak gak adil banget, sustainable popularity Rizki Ridho terjamin, tapi bagaimana dengan peserta lainnya yang langsung pulang setelah tersenggol?. Berbagai bisik-bisik "mempertahankan Rizki Ridho = mempertahankan rating acara" nyaring bergaung di media sosial, bahkan menjelma menjadi bullying. Tapi dari sinilah kita bisa belajar bahwa keunikan punya nilai plus, so bener banget omongan Harry Roesli (alm) : "Jangan takut tampil beda, beda itu bernilai tambah, bernilai lebih".

Keunikan sebagai penyanyi kembar memudahkan Rizki Ridho untuk selalu bernyanyi dengan suara 1 & suara 2, lagu yang mereka nyanyikan jadi lebih enak didengar, gerakan yang mereka tarikan berdua pun kompak, otomatis jadi lebih indah dilihat. Terlepas dari wajah yang imut-imut (kata fans ABG), menurut saya faktor itulah yang membuat Rizki Ridho nampak lebih menarik, lebih bersinar, lebih mudah dikenali di antara peserta-peserta lain. Faktor itulah yang membuat saya (yang bukan penggemar musik dangdut) terpikat pesona Rizki Ridho, lalu akhir-akhir ini mulai akrab dan menyukai musik dangdut.

Berapa Lama Ketenaran Mereka?

Dulu, talent show dicap sebagai acara penghasil artis dadakan, tapi seiring waktu sepertinya cap itu mulai meluntur. Sekarang, penonton dengan mudah mengetahui bahwa ada peserta-peserta yang sudah memulai karirnya sebelum mengadu nasib di talent show. Masalahnya, dadakan itu bukan cuma tiba-tiba muncul di TV, tapi juga baru sebentar di TV kok tiba-tiba sudah menghilang. Berhubung saya dulu penggemar AFI, kadang saya sering bertanya-tanya : "Apa kabar ya mereka sekarang?, pada kemana aja?". Dari tulisan seorang kaskuser, saya menemukan secercah jejak kabar para akademia AFI. Rata-rata mereka tetap berkarir di bidang musik dengan level ketenaran yang berbeda. Ada yang tenar banget, tenar aja, dan tenar samar-samar. Hampir setengahnya masuk di level tenar samar-samar.

Tak dipungkiri, kontes berlanjut dengan cepat, dalam waktu singkat sudah muncul lagi idola-idola baru jebolan kontes berikutnya, otomatis menjadi kompetitor bagi mereka yang baru saja mengecap ketenaran. Seberapa lama ketenaran akan bertahan?, tenar di level yang mana?, pertanyaan-pertanyaan itu pada akhirnya hanya bisa dijawab oleh mereka sendiri.

Dear Albi, saya bukan penggemar musik dangdut, tapi saya terlanjur ngefans sama kamu. Saya ikut mengirim dukungan SMS, saya bahkan tidak beranjak dari depan TV karena terpaku dan terpukau setiap penampilanmu di atas panggung D'Academy 2, sebab selalu ada kejutan di setiap penampilanmu, selain teknik menyanyimu yang OK punya tentunya.

Dear Albi, saya hanya seorang dari ribuan penggemarmu yang ada di seluruh Indonesia. Saya berharap agar Albi terus berkarya dan selalu ada kejutan di setiap karya-karyamu. Kalau saya tidak salah, Albi kuliah di program studi Etnomusikologi USU (Universitas Sumatera Utara). Kalau saya tidak salah, program studi Etnomusikologi USU merupakan yang pertama di Indonesia. Etnomusikologi merupakan cabang dari musikologi, yaitu ilmu yang mempelajari aspek sosial dan budaya terhadap musik dan tarian dalam konteks lokal dan global.

Saya membayangkan betapa kerennya Albi, berwawasan sangat baik soal musik hasil dari pendidikan formalnya di USU dan berjam terbang banyak hasil dari pengalaman pentasnya, anggaplah pengalaman pentas itu sebagai pendidikan informal. Besar kemungkinan akan selalu ada surprises yang memukau di setiap karya-karyanya. Besar pula kemungkinan untuk mampu bersaing di blantika musik Indonesia.

Dear Albi, teruslah berkilau dalam karya agar saya punya alasan yang tepat untuk selalu mengidolakanmu, di panggung manapun kamu berada. Your sustainable popularity is in your hands!.

- See more at: http://artikelkomputerku.blogspot.com/2010/10/cara-memasang-banner-di-bawah-posting.html#sthash.TrMBEyDs.dpuf

Kamis, 02 April 2015

Medsos Peninggalan

Di waktu senggang, buka-buka Facebook, gak sengaja baca comment di salah satu foto yang pernah saya upload, comment dari Pakde saya yang baru wafat hari Jum'at, 27 Maret 2015, minggu lalu. Sedih dan kangen langsung menyergap, saya dan Pakde memang sering berkomunikasi via Facebook. Iseng-iseng saya lihat-lihat Facebook Pakde, mengenang obrolan-obrolan kami, membaca puluhan ucapan duka cita yang ditulis teman-teman beliau di wall, bernostalgia melalui foto-foto Pakde bersama keluarga besar, teman-teman, dan cucu tersayangnya. Pakde memang gaul, gak ketinggalan bermedsos ria walaupun gak seaktif (senarsis lebih tepatnya) kita-kita yang masih berusia muda.
 
Lantas saya teringat kejadian di Twitter baru-baru ini, terkait dengan wafatnya artis dan komedian Olga Syahputra, hashtag #RIPOlgaSyahputra membanjiri tweetland. Lalu, seorang public figure yang hobi berkicau kacau, siapa lagi kalau bukan pengacara Farhat Abbas, menulis ucapan duka cita plus ucapan-ucapan 'khas'nya. Alhasil, kicau kacaunya diganjar dengan hashtag #RIPFarhatAbbas oleh netizen, gak tanggung-tanggung!, malah sampai jadi trending topic. Amit-amit!, orangnya masih hidup kok sudah disumpahin mati sama banyak orang.
 
Medsos = Peninggalan
 
Izinkan saya ikut bersuara menanggapi kejadian ini, Insya Alloh tanggapan saya ini positif dan memang tanpa niat ikut memperkeruh suasana.
 
Dipikir-pikir, media sosial bisa jadi salah satu peninggalan. Ibarat orang meninggal yang biasanya mewariskan uang, rumah, tanah, (atau malah) hutang, jaman sekarang ini media sosial juga bisa jadi salah satu warisan.
 
Saat seseorang wafat, akun Facebook-nya, Twitter-nya, blog-nya, LinkedIn-nya, YouTube-nya masih menyimpan rapih rekaman-rekaman postingan, kicauan, uploadan, foto-foto, dan lain sebagainya. Semua itu masih terdisplay dan masih dapat dilihat oleh orang lain.
 
Gajah mati meninggalkan gading, manusia mati meninggalkan jejak, salah satunya adalah media sosial. Kalau media sosial kita penuh umpatan, bertebaran video-video memalukan atau foto-foto yang tidak layak dipandang, bisa dibayangkan bagaimana jejak yang kita tinggalkan, jejak yang akan menjadi kenangan tentang diri kita.
 
So, saya paham dan yakin bahwa siapapun yang membaca postingan ini pasti sudah mengerti cara bermedsos yang bijak dan bajik. Toh tulisan ini gak bertujuan untuk mengajarkan, apalagi menggurui, gunakanlah media sosial Anda dengan bijak bla...blaa...blaaa....
 
Sekedar curhat, sejak 1 tahun belakangan, sedikit demi sedikit saya menggeser fungsi media sosial saya dari wadah narsis (istilah kerennya image building) menjadi wadah berbagi kebaikan. Semoga media sosial juga bisa kita manfaatkan sebagai ladang amal. 

- See more at: http://artikelkomputerku.blogspot.com/2010/10/cara-memasang-banner-di-bawah-posting.html#sthash.TrMBEyDs.dpuf

Rabu, 01 April 2015

Makam Indah, Untuk Siapa?

Jum'at, 27 Maret 2015, saya dan keluarga tersentak oleh kabar duka dari Bandung. Di hari yang sama dengan hari wafatnya artis dan komedian Olga Syahputra, Pakde Wiwik Widagdo kembali ke haribaan Alloh S.W.T di RS Borromeus setelah berjuang melawan kanker dan sempat menjalani perawatan intensif di RS Holistic Purwakarta.

Almarhum Pakde anak ke-4 dari 10 bersaudara, beliau merupakan orang kedua yang mendahului ke-8 saudara-saudarinya yang masih tersisa. Beberapa tahun sebelumnya, Pakde Mus, kakak tertua, meninggal mendadak tanpa pernah menderita penyakit berat.

Di mata keluarga besar, Pakde adalah sosok yang baik dan suka menolong sesama, terutama saudara. Beliau sering menjadi sponsor utama untuk acara family gathering tiap tahun. Terakhir kali saya menjenguk Pakde saat beliau dirawat di RS Borromeus, sebelum dipindah ke RS Holistic. Waktu itu kondisinya sudah mulai melemah, badannya makin kurus dan tidak mau makan, tapi masih bisa ngobrol-ngobrol, masih bisa bercanda. Bapak, ibu, dan adik bungsu saya sempat menjenguk ke RS Holistic, sayang beribu sayang, hingga Pakde dipindah ke RS Borromeus lagi karena beliau ingin kembali ke Bandung, saya tidak sempat bertemu lagi dengan Pakde. Sabtu, 28 Maret 2015, kami sekeluarga besar mengantar Pakde ke peristirahatan terakhirnya di Firdaus Memorial Park.

Firdaus Memorial Park

Firdaus Memorial Park, taman wakaf pemakaman muslim, di tengah hamparan hijaunya perkebunan teh nan damai, Perkebunan Panglejar Bagian Maswati PTPN VIII Cikalong Wetan Kabupaten Bandung Barat. Sesuai dengan konsepnya (Asri, Nyaman, Ramah Lingkungan, Sesuai Syari'ah) maka kuburan ini tampak indah layaknya taman, jauh dari kesan menyeramkan. Para pelayat yang datang berfoto-foto serasa berkunjung ke taman bunga saja, sebab kuburan ini memang jauh dari kesan seram. Para penggali kubur melakukan tugasnya dengan cekatan dan sesuai ketentuan dalam agama Islam, seorang ustad membimbing para pelayat berdo'a memohonkan ampunan bagi almarhum.

Makam ini nyaris serupa dengan Al-Azhar Memorial Garden yang juga mengutamakan kesesuaian syari'ah di samping keindahan fisik makam. Ada hal yang menjadi pembeda Firdaus Memorial Park yaitu paket donasi wakaf. Jadi, dengan membayar Rp. 10 juta, berhak atas 2 kavling kuburan ukuran 2x1 meter plus kavling kuburan untuk kaum dhuafa, ide terpuji yang digagas dan dikelola oleh WakafPro 99 ini lahir dari kasus orang-orang tak berpunya yang terbebani biaya pemakaman.

Makam Indah, Untuk Siapa?


Setiap peristiwa kematian, selain meninggalkan duka dan rasa kehilangan, hendaknya juga menjadi nasehat bagi diri sendiri. Bergidik saya, berdiri bulu kuduk saya, meleleh air mata saya, menyaksikan prosesi pemakaman, membayangkan bahwa suatu hari nanti, entah kapan tapi pasti, setiap orang akan dimasukkan ke liang kubur, berbaring sendiri di sana sambil mempertanggungjawabkan setiap perbuatan semasa hidup di dunia.

Tanpa bermaksud sombong, Pakde saya orang berpangkat dan terhormat, dijadikan teladan oleh para bawahan, beliau salah seorang pendiri Telkomsel, jargon SIM card prabayar "Di sini halo, di sana halo, asal pakai Kartu Halo" yang tenar di tahun 1995 merupakan hasil kreatifitasnya. Jika waktu telah tiba, tak peduli siapa dan berpangkat apa, semuanya kembali ke tempat yang sama dari mana kita berasal.

Keluarga yang menangis kehilangan, sahabat-sahabat yang mengantar ke tepi liang lahat, harta benda yang kita punya, semua ditinggalkan dan tidak ada yang menemani sampai ke dalam kubur. Apa yang kita bawa?, hanya amal ibadah. Apa yang menemani?, do'a-do'a tulus, biasanya datang dari orang-orang terkasih.

Makam yang mewah, indah, asri, jauh dari kesan menyeramkan, itu dinikmati oleh mereka yang menguburkan, sementara bagi yang dikuburkan, hanya ruang seukuran 2x1 meter yang sempit, sunyi, dan gelap. Sebelum waktunya tiba, masih banyak kesempatan untuk kita bersiap diri, membawa bekal untuk perjalanan panjang, perpindahan dari alam dunia menuju alam kubur, menerangi, menghias, serta memperluas rumah masa depan kita, rumah terakhir, persinggahan menuju keabadian.
 

- See more at: http://artikelkomputerku.blogspot.com/2010/10/cara-memasang-banner-di-bawah-posting.html#sthash.TrMBEyDs.dpuf

Selasa, 10 Februari 2015

Novel Tanda Cinta*


Tetaplah menjadi bintang di langit
Agar cinta kita akan abadi
Biarlah sinarmu tetap menyinari alam ini
Agar menjadi saksi cinta kita berdua

Kasih Tak Sampai, lagu milik Padi yang dinyanyikan kembali oleh Vidi Aldiano setelah dimashup dengan lagu Pupus milik Dewa, lagu ini sengaja kuputar berulang-ulang untuk menemaniku menjelang tengah malam, sementara jemariku kian lincah di atas keyboard laptop.
Sudah beberapa malam ini, aku menyusuri lorong waktu berkendara memori, demi mengumpulkan keping-keping kenangan dan merangkainya menjadi sebuah cerita. Yang kutahu, petualangan Nobita dan Doraemon dengan mesin waktu adalah hal yang sangat hebat, karena melalui petualangan itulah mereka bisa mencegah suatu peristiwa di masa lalu bahkan mengubah masa depan. Yang kualami, sering kutemukan kenangan indah yang bahagianya serasa nyata seolah kualami lagi peristiwa itu, tapi tak jarang kutemukan kenangan pahit dan sedih yang membuka kembali luka lama. Yang pasti, tak ada satupun dari masa lalu yang dapat kuubah.
Terus kususuri lorong waktu, memori melaju membawaku kembali ke beberapa tahun lalu. Kutemukan diriku di masa itu, sosok remaja frustasi akibat harapan yang terlalu tinggi namun pencapaiannya terlalu rendah. Aku si remaja frustasi menghabiskan hari dengan bersedih hati, hingga tahun hampir berganti masih banyak yang belum usai kutangisi. Murung dan lesu, tiada warna di hidupku selain kelabu. Inilah keping kenangan pertama yang kukumpulkan.
Tahun pun berganti, tanpa terasa setengah tahun sudah terlewati. Tak disangka, aku si remaja frustasi mendapat hadiah yang tergolong mewah. Ya!, tergolong mewah bagi seorang remaja yang baru saja diwisuda dengan predikat mahasiswi tanpa prestasi, hadiah mewah yang penuh berkah, berawal dari sinilah semuanya berubah. Sebuah perjalanan ibadah, kita mengenalnya dengan istilah umroh, akan segera kualami. Tentunya tidak seorang diri, tapi bersama sanak famili. Inilah keping kenangan kedua yang kukumpulkan.
Berbulan-bulan diri selalu dirundung bingung, pastilah sebagian besar waktu di sepanjang perjalanan ibadah banyak digunakan untuk merenung. Luapan penyesalan satu demi satu berguguran, diiringi permohonan ampunan kepada Tuhan, dibasahi air mata nan bercucuran. Menyesal karena tidak fokus belajar, menyesal karena tergoda target kecil berjangka pendek sehingga target besar berjangka panjang akhirnya buyar dan tak teraih, dihimpit oleh rasa takut gagal membahagiakan orangtua, dihantui kekhawatiran tentang masa depan, dan aaarrrgghhh!!!...makin dipikirkan makin berdatangan kegelisahan menyerang. Tak cukup dengan meluapkan timbunan penyesalan dan membiarkan diri diliputi gelisah, aku si remaja frustasi tiba-tiba saja bertekad untuk berubah dan berbenah. Ya!, tekad yang kuat agar diri mengalami perbaikan, meski belum mengerti apa langkah pertama yang harus dilakukan. Inilah keping kenangan ketiga yang kukumpulkan.

Malaikat Tanpa Sayap

            Kurang dari sebulan sejak kembali dari ibadah umroh, seorang teman mengajak berkunjung ke sebuah panti asuhan, dia rutin berkunjung ke sana karena menjadi sukarelawan yang mendampingi anak-anak yatim piatu. Sekali, dua kali, tiga kali, empat kali kunjungan…kulihat diriku waktu itu hanya mengamati aktifitas temanku sambil duduk di sudut ruangan, sama sekali enggan berinteraksi dengan anak-anak penghuni panti, sedangkan temanku sibuk mengasuh dan bermain dengan mereka yang usianya rata-rata kurang dari 5 tahun. Di kunjungan kelima, baru mulai ada interaksi dengan anak-anak penghuni panti, itupun sesekali. Tak perlu heran pada sikapku sebab aku bukan penyuka anak-anak. Inilah keping kenangan keempat yang kukumpulkan, sekaligus langkah pertama menuju perubahan.
          Keajaiban mulai menampakkan cahayanya di kunjungan keenam. Kudapati diriku waktu itu tak sengaja beradu pandang dengan seorang batita perempuan penghuni panti asuhan, umurnya 1,5 tahun, kecil mungil, berkulit putih bersih. Adu pandang kurang dari 10 detik, kala itu mata kami benar-benar bertemu. Entah energi apa yang mengalir dari tatap matanya hingga membuat jantungku berdegup lebih kencang, spontan kakiku melangkah mendekatinya kemudian aku berlutut agar tinggi kami sejajar, makhluk mungil itu mundur selangkah sebab aku masih asing baginya. Dari jarak sangat dekat kulihat sepasang mata bulat jernih menatapku dengan penuh kepolosan, dari sepasang mata itulah aku sempat melongok sekilas ke dalam jiwanya, jiwa suci tak berdosa yang tersia-sia. 

           Sejak adu pandang itulah perubahan dimulai. Aku rutin datang ke panti asuhan, bahkan hampir setiap sore sepulang magang, untuk bertemu dan bermain dengan makhluk mungil bernama Keisha. Aku si remaja frustasi berubah menjadi sosok yang happy dan bersemangat tinggi. Kelabu terusir pergi oleh damai yang kini selimuti hati, warna-warni seolah kembali menghiasi, hari-hari jadi lebih berarti karena aku dicintai.

         Keisha bak malaikat tanpa sayap, begitulah aku memaknai hadirnya. Makin hari kedekatan kami makin terjalin erat, sang malaikat tanpa sayap memancarkan energi positifnya ke jiwaku dan energi itu kini memancar kian kuat, menyembuhkan jiwaku yang dulu kurang sehat dan menularkan semangat serta kebahagiaan kepada orang lain. Inilah keping kenangan kelima yang kukumpulkan, berbeda dari keping kenangan sebelumnya, keping kenangan ini berwarna cerah keemasan dan nampak indah.
             Tak peduli harus berkorban demi bisa bersama Keisha, tak pernah ada keberatan meski harus menahan lapar dan menekan pengeluaran, maklum sebab gaji fresh graduate yang berstatus magang tak lebih dari 2 juta per bulan, sedangkan pengurus panti asuhan punya aturan tidak menerima pemberian dalam jumlah satuan, sumbangan harus sejumlah penghuni panti asuhan agar semuanya bisa kebagian. Keisha senang sekali makan burger McD, sebulan sekali kubelikan 40 burger McD untuk Keisha dan seluruh penghuni panti. Bahagiaku tak terkira saat malaikat mungilku menyantap lahap burger kesukaannya, tak peduli aku harus mengurangi makan dan belanja seirit mungkin demi berhemat agar terbeli 40 burger, boros sedikit saja berarti tak ada burger untuk Keisha. Makin bertambah umur Keisha, perutnya makin kuat, makin banyak makanan yang bisa dimakannya, kadang kubawakan makanan selain burger, misalnya siomay, soto, dan bakso. Nafsu makannya tinggi, kecuali jika sedang sakit, kadang minta tambah lagi walaupun sudah habis seporsi.
            Malaikat tanpa sayap tumbuh sehat, kuat, besar, dan pintar. Kulihat diriku layaknya seorang ibu muda yang penuh perhatian kepada putri kecilnya. Sementara orang-orang terdekat mengakui perubahan positifku, karir yang kian menanjak bisa menjadi salah satu bukti bahwa si remaja frustasi benar-benar telah berubah menjadi sosok optimis dan bersemangat tinggi. Inilah keping kenangan keenam yang kukumpulkan, keping kenangan ini warnanya secerah dan seindah keping kenangan kelima.
            Hingga suatu hari, datang perintah mutasi dari tempatku bekerja, aku harus kembali ke kota asalku, Jakarta. Tanpa pikir panjang, kutemui pengurus panti asuhan, kuajukan permohonan adopsi agar aku bisa membawa serta Keisha ke Jakarta. Sayang seribu sayang, pengurus panti asuhan menolaknya dengan 2 alasan, yang pertama karena aku masih lajang sehingga belum diperbolehkan mengadopsi anak, yang kedua karena Keisha masih memiliki orangtua kandung, saat ini mereka sedang menjalani ikatan dinas di kota lain dan rencananya akan mengambil Keisha kembali jika masa ikatan dinas telah berakhir. Pedih aku rasakan bahwa perpisahanlah kenyataan yang harus kuterima.
            Tetap kujalani mutasi ke Jakarta sebab ganjarannya adalah pangkat dan gaji yang lebih tinggi, tapi jujur saja ini tak mudah meski kami hanya terpisah jarak sekitar 150 km jauhnya. Biasanya kami bisa bertemu setiap hari, sekarang hanya bisa bertemu saat weekend. Setiap hari Jum’at aku benar-benar berseru thank God it’s Friday, tak sabar ingin segera berjumpa Keisha. Inilah keping kenangan ketujuh yang kukumpulkan, warnanya tetap cerah dan indah tapi tak secerah dan seindah keping kenangan kelima dan keenam.

Kasih Tak Sampai     

Setahun sudah kami lalui dengan rentang jarak 150 km serta waktu bertemu hanya di hari Sabtu dan Minggu, so far so good. Beberapa kali kucoba menjalin silaturahim dengan orangtua kandung Keisha, walau tak mudah sebab pihak panti asuhan menyembunyikan identitas mereka, tapi aku tetap berusaha sebab aku berharap tetap bisa menyayangi dan ikut membesarkan Keisha meski kelak mereka akan mengambilnya kembali. Aku tak hanya jatuh cinta pada sang malaikat tanpa sayap, lebih dari itu, dia telah menjadi bagian diriku. Dari bocah mungil itulah aku belajar banyak hal, terutama tentang bersyukur dan menjalani hidup dengan senyum. Aku tak ingin kehilangan malaikatku.
Hingga suatu hari, setelah 2 minggu tidak bisa bertemu Keisha karena terhimpit deadline pekerjaan, aku mendapat kabar dari seorang pengasuh panti asuhan. Kabar itu bak petir yang menyambar menggelegar di siang bolong, butuh 20 menit untuk memutuskan tindakan pertama yang harus kuambil serta lebih dari 6 bulan untuk berhenti melakukan penyangkalan dan menerima kenyataan. Keisha sudah tidak ada lagi di panti, dia diadopsi oleh seorang kaya raya yang membayar mahal pada pengurus panti.
Kudatangi panti itu, kuminta penjelasan dari pengurusnya, selama ini mereka bilang padaku bahwa Keisha tidak boleh diadopsi karena akan diambil kembali oleh orangtua kandungnya, kucoba bernegosiasi dengan pengurus panti, tak apalah Keisha diadopsi jika itu yang terbaik bagi masa depannya tapi aku ingin tetap bisa bertemu dengannya. Apa yang kudapat?, hanya pertengkaran hebat dengan pengurus panti yang keukeuh tak membagi sekecil apapun informasi tentang Keisha.
Hatiku sangat sakit hingga luluh lantak, ada yang tercabut paksa dari jiwaku, rasa hampa menambah perih luka menganga. Inilah keping kenangan kedelapan yang kukumpulkan, warnanya hitam kelam, dari sini tercium aroma luka begitu tajam, telapak tanganku tergores saat keping kenangan ini kugenggam. Keping kenangan yang penuh dengan muram durja dan pedih kehilangan.

Setahun Sejak Keisha Menghilang…

            Kisahku dengan Keisha adalah kisah kasih tak sampai, tidak salah jika dikatakan demikian, tapi bagiku kisah ini adalah kisah cinta luar biasa yang tak semua orang punya, tak semua dari kita pernah mengalaminya, tak semua hati dan akal sanggup memahaminya. Maka kuberanikan diri untuk menyusuri lorong waktu, menjumpai kembali titik-titik suka dan duka, mengumpulkan keping-keping kenangan yang akan kurangkai menjadi sebuah novel.

Novel tanda cinta pada malaikat tanpa sayap, dia yang selamanya akan selalu menjadi malaikat mungilku. Novel ini adalah upayaku menyampaikan kisah kasih yang tak sampai.


IntAnnisa

Diselesaikan di Surabaya, 8 Februari 2015.
*cerpen ini dilombakan pada Proyek Menulis Kasih Tak Sampai nulisbuku.com dan masuk dalam 200 besar dari 1.025 cerpen

- See more at: http://artikelkomputerku.blogspot.com/2010/10/cara-memasang-banner-di-bawah-posting.html#sthash.TrMBEyDs.dpuf

Selasa, 27 Januari 2015

Ilmu-Ilmu Om Bob

Tulisan ini lebih dari sekedar resensi buku, tulisan ini merupakan upaya melanjutkan semangat berbagi ilmu dari orang yang saya kagumi, yang baru saja berpulang ke haribaan Alloh S.W.T.
 
Selamat jalan, Om Bob!. Kami sangat merindukan kisah sukses dan gaya khasmu.
Jauh sebelum kita mengenal Ippho 'Right' Santosa, entrepreneur muslim yang sukses dan kaya raya akibat memaksimalkan penggunaan otak kanan serta gemar bersedekah, Bambang Mustari Sadino atau lebih dikenal dengan Bob Sadino sudah lebih dulu memaksimalkan otak kanannya, itulah yang membuatnya sukses dan nampak nyentrik.
 
Suatu hari di jaman kuliah dulu, saya lupa tahun berapa pastinya, seorang pedagang buku bekas yang biasa menggelar lapak di depan kampus menawarkan sebuah buku, dari buku itulah Om Bob mentransfer ilmunya kepada saya. Harganya cukup mahal untuk ukuran buku bekas dan untuk kantong mahasiswa di jaman itu, kalau tidak salah hampir Rp. 60.000, tapi bayarnya boleh dicicil 3 kali karena sudah langganan. Buku yang sarat ilmu wirausaha, tak bosan dibaca, dan memprovokasi.
 
Bob Sadino : Mereka Bilang Saya Gila!. Seni Berpikir, Bersikap, dan Bertindak dari Wiraswastawan Sejati.
Ditulis oleh Edy Zaqeus.
Diterbitkan oleh Kintamani Publishing.
Roda Bob Sadino
 
Isi dari buku ini yang paling saya ingat adalah Roda Bob Sadino (RBS), yaitu sebuah konsep dari Om Bob yang berisi 4 tahapan untuk menjadi professional atau ahli, bukan hanya dalam hal wirausaha tapi bisa juga diterapkan dalam hal-hal lainnya. Konsepnya digambarkan dengan sangat jelas, mudah dipahami dan diterapkan.
 
Roda Bob Sadino
Tahap 1 : TAHU
-sebatas teori
-didapat dari sekolah, kuliah, atau seminar-seminar.
 
Tahap 2 : BISA
-praktik
-mampu melakukan
-didapat dari jalanan (lapangan), masyarakat.
 
Tahap 3 : TERAMPIL
-mahir
-didapat dari jam terbang dan pengulangan.
 
Tahap 4 : AHLI
-professional
-akumulasi dari upaya yang sudah dilalui di tahap 1,2, dan 3
-siap mempelajari hal baru dimulai dari tahap 1.
 
Ilmu-Ilmu dari Om Bob
 
Selain RBS, Om Bob juga membagikan ilmu dan pengalamannya. Seperti Pancasila, ada 5 sandaran wiraswasta sejati, yaitu :
1. kemauan kuat sebagai kendaraan
2. komitmen kuat sebagai bahan bakar beroktan tinggi
3. keberanian mengambil peluang (be the first, be the best, atau be the different)
4. tahan banting dan tidak cengeng
5. bersyukur kepada Tuhan.
 
Ada pula Belenggu Entrepreneur, 3 hal mutlak yang mana seorang wirausahawan harus terbebas merdeka darinya, yaitu :
1. takut, artinya seorang wiraswasta harus berani
2. banyak berharap, sebab jika harapan itu tak tercapai maka akan membuat kecewa
3. pikiran sendiri, terlalu banyak teori bisa mengurangi keberanian dan membatasi gerak, inilah ciri khas orang yang otak kanannya maksimal.
 
Soal modal, yang sering dikeluhkan dan menjadi alasan penghambat entrepreneur untuk maju, Om Bob mengingatkan bahwa jangan terlalu terpaku pada modal yang tangible seperti uang, bangunan, dan lainnya, sadarilah bahwa kita juga punya modal yang intangible seperti tenaga, ide, dan lainnya.
 
Quotes dari Om Bob
 
"Saya bisnis cari rugi, sehingga kalau rugi saya tidak kecewa, kalau untung maka bertambahlah syukur saya."
 
"Bisnis yang bagus itu yang dibuka, bukan yang ditanyakan terus!."
 
"Orang goblok sulit dapat kerja, akhirnya buka usaha sendiri. Saat bisnisnya berkembang, orang goblok mempekerjakan orang pintar."
 
"Setinggi apapun pangkat yang Anda miliki, Anda tetaplah seorang pegawai. Sekecil apapun usaha yang Anda punya, Anda adalah bosnya."
 
Al-Fatihah untuk Om Bob!....

- See more at: http://artikelkomputerku.blogspot.com/2010/10/cara-memasang-banner-di-bawah-posting.html#sthash.TrMBEyDs.dpuf