Jumat, 07 November 2014

Jajanan Sekitaran Pamulang

Tiba-tiba aja kangen kuliner Pamulang, maklum pernah belasan tahun jadi warga Pamulang sebelum akhirnya pindah ke Lebak Bulus tahun 2010. Lalu lintas Pamulang, Ciputat, dan sekitarnya makin macet sedangkan mobilitas makin tinggi. Kerja di daerah Jakarta, waktu itu adik-adik kuliah di Depok dan SMA di Kebayoran Baru, gak kebayang ribetnya bermacet-macet ria di perjalanan kalo masih tinggal di Pamulang. Udah tinggal di Jakarta aja gak jaminan terbebas dari belitan keruwetan lalu lintas.
 
Enaknya tinggal di Lebak Bulus, karena dekat dengan terminal, pergi kemana-mana lebih mudah. Ada Transjakarta alias busway yang pernah jadi kendaraan gue ke kantor, kopaja AC pun pangkalannya cuma sepelemparan batu dari terminal, angkot bejibun, bis-bis antar kota sampai antar propinsi berseliweran. Gak enaknya ya menjelang mudik, saking padetnya terminal sampai-sampai macet gak karuan, lumayan menghambat juga sih. Belum lagi soal keamanan, preman berkeliaran bahkan ada yang nyambi jadi tukang ojek. Intinya harus pinter-pinter jaga keamanan masing-masing.
 
Bagi gue sekeluarga, Pamulang kini jadi tempat shopping yang menyenangkan. Nyokap lebih semangat belanja di Pasar Pamulang ketimbang di Pasar Mayestik, yang dimaksud Pasar Pamulang adalah pasar kaget yang di deket bimbel Maestro, karena menurut nyokap harga lebih murah tapi kualitas barang sama baiknya.
 
Sementara nyokap belanja, naaah... gue sama adik-adik berwisata kuliner di sekitaran Pamulang, biasanya pas weekend, kalo kita lagi bosen sama jajanan mall dan menu kafe. Jajanan-jajanan di Pamulang memang enak-enak dan ringan di kantong alias murah meriah. Inilah beberapa jajanan di sekitaran Pamulang yang recommended versi gue dan adik-adik gue.
 
 
1. So Milk
Selain jualan susu yang diolah menjadi bubble drink, tempat ini juga menjual aneka camilan, seperti burger kukus. Jajan di So Milk tuh berasa sehat, secara minum susu, yoghurt, dan makan makanan kukusan. Pantes aja So Milk rame sama anak-anak sekolah di jam pulang sekolah, sayangnya tempatnya sempit dan cuma ada sedikit bangku. Harga minuman mulai dari Rp. 6.000, kalo mau nambah topping ya nambah Rp. 1.000 kalo gak salah, itu yang paling gue inget karena paling sering beli minumannya, tiap ke So Milk pasti beli minumannya.
 
So Milk, lokasinya di tempat jajanan kaki lima Perumahan Pamulang Permai.
 
2. Bakmie Permata Pamulang
Jangankan orang Pamulang, orang yang tinggal di luar Pamulang aja banyak yang kenal dan langganan Bakmie Permata Pamulang. Ownernya, Si Encik, orangnya ramah. Tempatnya bersih dan nyaman, enak kalo dine in, sayangnya mie cepat habis, saking larisnya. Si Encik ngasih saran ke gue, berhubung gue udah langganan, pesan dulu via telepon, nanti disimpenin mie sesuai porsi yang dipesan, kalo udah siang biasanya udah habis. Oh ya!, kalo dulu sih dalam seminggu ada libur sehari di hari Kamis, gak tau deh apa sekarang masih begitu atau ada perubahan.
 
Bakmie Permata Pamulang, mie dibuat & dimasak sendiri oleh suami Si Encik,
walalupun ownernya Chinnese tapi halal.


3. Bakmi Bangka 77
Sama-sama resto bakmi, bedanya dengan Bakmie Permata Pamulang adalah Bakmi Bangka 77 juga menjual masakan lain, misalnya nasi goreng, capcay, seafood, dll. Selain itu, Bakmi Bangka 77 ini sudah lebih dulu berdiri dibanding Bakmie Permata Pamulang. Tempatnya juga bersih dan nyaman, OK-lah dine in, porsi makanannya banyak, sebanding dengan harganya. Yang paling enak adalah nasi goreng dan siomay, nasi goreng kalo ditake away porsinya jadi lebih banyak dibanding porsi dine in, biasanya gue beli 1 porsi aja dan dibagi 3, itupun udah lumayan bikin kenyang.
 
Bakmi Bangka 77, lokasinya tepat di belakang Bank Mandiri Pamulang.
 
4. Bakso & Mie Ayam Gunung Gandul
Bakso ini beberapa kali berpindah tempat, awalnya cuma gerobak di bawah pohon tepat di depan TK Si Komo Pamulang, lalu pindah ke pelataran rumah di samping TK Si Komo, terakhir menempati ruko pas di belakang Superindo Pamulang. Yang jadi ciri khas adalah bakso ukuran jumbo yang dagingnya berasa banget. Makan semangkok udah kaya' makan nasi sepiring plus lauk pluk sayur, kenyang deh pokoknya. Berhubung hampir selalu rame pembeli, harus sabar antri yaaa!.
 
Bakso & Mie Ayam Gunung Gandul, seinget gue dulu brandnya Bakso Wonogiri.
 
5. Sobet Mantap Ibu Yati
Jualannya soto betawi dan sop yang bening, isinya daging dan jeroan. Udah pasti take away, kurang minat dine in di sana soalnya tempatnya kurang bersih, tapi rasanya dijamin mantap, terutama untuk penggemar jeroan, kuah santannya pun gurih.

Sobet Mantap Ibu Yati,
lokasinya di  tempat jajanan kaki lima yang ke arah Bunderan Pamulang.

 
6. Family Mart
Family Mart ini tempat nongkrong mahasiswa Universitas Pamulang (Unpam), jaraknya mungkin cuma 100 meter dari Unpam. Kurang lebih ya serupa dengan Sevel tapi tempatnya lebih cozy, pastinya rame ampyuuun... sampai-sampai cari parkir aja susah, apalagi cari tempat duduk. Family Mart ini bener-bener markas anak Unpam.
 
Family Mart, markas anak Unpam.
 
Itu baru 6 tempat wisata kuliner di Pamulang, masih ada tempat-tempat lain yang gak kalah enak dan murmer. Mungk akan dibahas di postingan berikutnya.
 
 
 

- See more at: http://artikelkomputerku.blogspot.com/2010/10/cara-memasang-banner-di-bawah-posting.html#sthash.TrMBEyDs.dpuf

Kamis, 23 Oktober 2014

Kae Sang Blogger

Belum terlalu jauh dari euphoria pelantikan Presiden ke-7 RI, Joko Widodo alias Jokowi. Mungkin sudah mulai familiar sama keluarga Jokowi, yang paling menyedot perhatian serta ramai dibahas di dunia maya adalah kedua anak laki-laki Jokowi : si sulung Gibran Rakabuming dan si bungsu Kaesang Pangarep.

Keluarga Jokowi.
Apa yang membuat saya ikut mengarahkan perhatian ke putra bungsu Jokowi?. Apa karena dia jomblo?, bukan!. Apa karena six pack-nya?, juga bukan!. Mmmm...atau mungkin karena wajahnya yang (kata cewek-cewek ABG) sebelas dua belas sama Afgan?, tentu bukan!. Jawabannya adalah karena dia seorang blogger. Monggo yang mau lihat blognya!, lewat sini.
 
Mirip Afgan?
Diary Anak Kampung, begitu tulisannya, padahal dia kuliah di Singapura. Saya coba tebak, kira-kira Kaesang ini tipe anak yang bersahaja, selain berotot besar karena hobi nge-gym. Baru sekali baca, saya langsung nyaman dan nyambung sama gaya bertuturnya yang apa adanya dan mengalir, cerita-ceritanya kocak dan mudah dicerna. Semoga Kaesang dan blognya tetap renyah tanpa berubah, menjadi jaim misalnya, pasca bokap menjabat RI 1. Ya mungkin saja ada aturan atau batasan yang harus dia patuhi terkait amanah yang diemban sang ayah, saya kurang mengetahui pastinya.

Jujur, saya pengagum keluarga SBY, khususnya keluarga kecil Agus Yudhoyono dan Annisa Pohan. Kebetulan SBY sekeluarga aktif di media sosial, bukan hanya anak-anak dan para menantu, bahkan Bu Ani juga giat pajang foto di Instagram. Menurut saya, inilah ciamiknya keluarga SBY, mereka berhasil memaksimalkan fungsi media sosial. SBY dan Bu Ani memanfaatkan media sosial untuk menyapa rakyat Indonesia, memberi bukti kinerja, hingga mengenalkan kekayaan serta keunikan negeri tercinta nan elok. Sedangkan anak-anak dan para menantu memanfaatkan media sosial untuk menebar motivasi dan inspirasi, memaparkan upaya ikut berkontribusi bagi bangsa dan negara, hingga menunjukkan prestasi yang mereka raih.

Sebagai anak Presiden RI, Kaesang sudah punya ciri khas yaitu blogger.
Kaesang juga bisa memanfaatkan media sosialnya untuk memajang prestasi-prestasinya. Andai kata suatu hari nanti Kaesang tergerak untuk melakukan aksi kreatif yang berdampak positif bagi bangsa dan negara, aksi tersebut bakal OK banget untuk diceritakan di blog. Mengingat sekarang Kaesang adalah putra orang nomer 1 di negeri ini, suka atau tidak suka pasti akan menjadi sorotan, terbuka peluang bagi Kaesang buat bantu bokap image building.

Intinya, seharusnya para blogger bangga karena putra Presiden RI ternyata seorang blogger. Semoga Kae sang blogger bisa menyemangati lebih banyak anak-anak muda Indonesia untuk jadi blogger yang berkualitas.

- See more at: http://artikelkomputerku.blogspot.com/2010/10/cara-memasang-banner-di-bawah-posting.html#sthash.TrMBEyDs.dpuf

Sabtu, 02 Agustus 2014

Hijrah Cinta : Belajar (Lagi) dari Bidadari Surga

Baru aja kelar nonton Hijrah Cinta, kepengennya udah dari sebelum Lebaran, kesampaiannya setelah Lebaran. Hijrah Cinta adalah film yang menceritakan kisah hidup almarhum Ustad Jefri Al-Buchori, a.k.a. Uje, sejak masa jahiliyahnya, kemudian beliau bertemu Pipik Dian Irawati, sekarang dikenal sebagai Umi Pipik, bidadari surga yang setia mendampinginya berhijrah alias move on ke kondisi yang lebih baik, hingga kecelakaan lalu lintas yang mengembalikan beliau ke haribaan Alloh S.W.T. Dengan durasi 123 menit, film yang disutradarai Indra Gunawan ini berhasil menguras air mata sekaligus menggetarkan jiwa. Penontonnya mayoritas pasangan suami istri, kaum ibu paruh baya, hijabers, serta beberapa anak kecil yang mungkin sengaja nonton dalam rangka menghabiskan liburan atau 'terpaksa' diajak sama orangtuanya berhubung gak ada yang jaga mereka di rumah karena PRT belum pada balik dari mudik.
 

Alfie Alfandy = Reza Rahadian

Hijrah Cinta sebelas dua belas sama Habibie & Ainun, sama-sama kisah nyata, sama-sama kisah cinta sejati sepasang tokoh ternama di Indonesia. Tantangan Alfie Alfandy dalam memerankan Uje pastilah sama besarnya dengan tantangan Reza Rahadian saat memerankan B. J. Habibie. Kualitas acting keduanya pun sama baiknya, sama-sama layak mendapat apresiasi yang tinggi. Begitu pula dengan Revalina S. Temat yang memerankan Umi Pipik dan BCL yang berperan sebagai Ibu Ainun. Sebagai tokoh utama, Uje diperankan dengan sangat baik oleh Alfie, Uje seakan hidup kembali. Face, gesture, hingga vocal 99% mirip Uje. Adegan Uje menyenandungkan I'tiraf untuk Pipik salah satu contohnya.

Karena nontonnya di PIM yang dekat dengan TKP kecelakaan, sensasi nonton kali ini beda banget, sampai merinding. Bisa dibayangkan bagaimana perasaan Umi Pipik, keempat anak almarhum, Umi Tatu (ibunda Uje), para sahabat serta pengagum beliau saat menonton film ini.

Suwargo nunut neroko katut

Peribahasa Jawa : suwargo nunut neroko katut, kira-kira begini artinya : kalau suami masuk surga maka istri bisa kebawa ke surga, begitu pun kalau suami masuk neraka, istri juga bisa kebawa ke neraka. Sorry!, bukan ahli tafsir peribahasa, tapi yang jelas peribahasa ini menunjukkan kekuatan sekaligus betapa besarnya tanggung jawab laki-laki sebagai pemimpin rumah tangga. Istri hanya nunut dan katut, kesannya kok perempuan itu pasif banget ya?!, minim banget perannya?!.

Lagi-lagi, secara tidak langsung, kita bisa belajar dari Umi Pipik. Boleh dikatakan bahwa beliau tidak sepenuhnya seorang istri yang suwargo nunut neroko katut. Ibarat pesawat dalam sebuah penerbangan, suami sebagai pilot, istri multitasking mulai dari jadi co pilot, navigator, hingga pramugari. Artinya, istri mampu menjadi wakil suami, ikut menentukan arah langkah dan masa depan bersama, dan tentunya mampu melayani serta mengurus suami dan anak-anak. Seperti itulah kira-kira peran besar Umi Pipik dalam hidup Uje, rasanya tipe istri seperti inilah yang ideal, tidak sebatas suwargo nunut neroko katut.

Laki-laki adalah makhluk Tuhan yang sama seperti perempuan, tapi kadang perempuan melihat laki-laki dari kacamata yang terlalu feminim sehingga mengagankan bahkan menuntut laki-laki selalu bisa menyelesaikan semua masalah, termasuk masalah perempuan yang sebetulnya hal asing bagi laki-laki, menginginkan bahu laki-laki selalu kuat dan nyaman untuk bersandar terutama di saat galau dan sedih, padahal suatu saat laki-laki juga bisa sedih dan juga butuh bahu untuk bersandar. Di balik gagah dan kuatnya laki-laki, selalu ada kesempatan bagi perempuan untuk menunjukkan kekuatan di balik kelemahlembutannya. Inilah makna real dari take and give.

- See more at: http://artikelkomputerku.blogspot.com/2010/10/cara-memasang-banner-di-bawah-posting.html#sthash.TrMBEyDs.dpuf

Minggu, 27 Juli 2014

Lebaran dan Sebongkah Penyesalan

Meski hanya sedetik, tiada dayaku menghentikan laju sang waktu. Kulihat Ramadhan segera berlalu, berganti Syawal di hari yang baru.
 
Ramadhan, bulan istimewa, kusambut dengan suka cita, kuantar perginya dengan air mata.
Ramadhan, bulan penuh ampunan, bulan turunnya Al-Qur'an, saat hamparan rahmat dibentangkan, dan do'a-do'a terkabulkan.
 
Ampuni aku, ya Alloh!. Apalah pencapaianku di Ramadhan tahun ini?. Tak lebih baik dari Ramadhan sebelumnya. Mungkin hanya sebatas berkurangnya berat badan.
 
Di 10 hari awal Ramadhan, luapan kegembiraan datangnya bulan suci memenuhi hati, namun fokusku pada tugas-tugas kantor yang tiada henti. Di 10 hari tengah Ramadhan, tak kusadari kapankah Nuzulul Qur'an, 17 Ramadhan berlalu tanpa peringatan, aku masih tenggelam dalam himpitan tugas-tugas kantor. Di 10 hari akhir Ramadhan, jangankan i'tikaf, tarawih makin sering terlewat. Lalu lintas yang kian padat membuatku membuang lebih banyak waktu berdesakan di dalam bis Transjakarta. Akhir pekanku kian sibuk dengan berbagai tuntutan, mulai dari deadline pekerjaan yang harus rampung sebelum cuti hingga permintaan membantu ibu membuat kue Lebaran dan berbenah rumah karena PRT sudah mudik ke kampung halaman.
 
Kini, gema takbir sayup-sayup terdengar, hasil sidang itsbat sudah diumumkan, besok Lebaran. Dalam suka cita sambut kemenangan, melintaslah tanya, pantaskah aku disebut pemenang?, layakkah aku larut dalam kegembiraan?. Terseliplah sebait do'a dalam balutan tekad kuat, semoga Alloh sudi berikan kesempatan untukku jumpa Ramadhan tahun depan, semoga aku mampu melapangkan lebih banyak waktu untuk bermesraan dengan Ramadhan di tahun mendatang.
 
Selamat Idul Fitri. Taqobbalallohu minna wa minkum, minal 'aidin wal faidzin. Semoga Alloh terima ibadah kita selama bulan Ramadhan, mohon maaf lahir dan batin.

- See more at: http://artikelkomputerku.blogspot.com/2010/10/cara-memasang-banner-di-bawah-posting.html#sthash.TrMBEyDs.dpuf

Rabu, 16 Juli 2014

Yang Papa Di Antara Kaya Raya

Perjalanan menuju ke kantor di pagi hari dan kembali ke rumah di sore hari tak pernah tanpa berjibaku dengan kemacetan. Ribuan kendaraan tumpah ruah ke jalan, orang-orang yang sudah paham situasi ini mencoba berdamai dengan keadaan, meski stress mereka tak tertutupi. Di situasi tertentu, misalnya hujan yang biasanya diikuti dengan genangan air di jalan, kemacetan bisa makin menggila.

Saya menyiasati kemacetan dengan nebeng motor teman setiap pagi, saat pulang di sore atau malam hari barulah naik Transjakarta. Selain menyiasati kemacetan, cara ini cukup ampuh mengusir bosan. Teman saya biasanya menempuh jalur alternatif, bukan jalur yang biasa dilewati Transjakarta, jadi saya bisa melihat pemandangan yang berbeda.

Jalan yang biasa kami lewati adalah Jalan Kartika Utama, Pondok Indah. Deretan rumah mewah lengkap dengan beberapa buah mobil berjajar di garasi dan beberapa orang satpam berjaga. Sambil melintas, kadang saya bergumam, entah butuh berapa banyak PRT untuk mengurus rumah sebesar ini, belum termasuk tukang kebun dan supir. Sering terucap do'a di dalam hati, semoga saya punya uang yang sangat banyak agar kelak bisa membangun rumah 10x lebih besar dan lebih mewah dari rumah-rumah yang setiap pagi saya lintasi ini. Sebab rumah besar yang saya tempati sekarang bukanlah milik saya, tapi milik orangtua, hehehe....

Nek Sairah dan Kek Anani

Ada sebuah pemandangan yang selalu menarik perhatian dan mengusik nurani saya. Pemandangan yang kontras dengan deretan rumah-rumah mewah. Sepasang kakek nenek renta, mendorong gerobak berwarna hijau, menjajakan papan cucian. Entah siapa yang mau membeli papan cucian, rumah-rumah sebesar ini pasti dilengkapi mesin cuci. Sehari, seminggu, sebulan...akhirnya saya benar-benar terusik. Saya turun dari motor, menghampiri dan membuka obrolan dengan mereka.

Sejak saat itu, saya mengenal Kek Anani dan Nek Sairah. Sejak saat itu juga, kalau sedang tidak terburu-buru akibat kesiangan, saya sempatkan turun dari motor untuk menyapa dan memberikan selembar Rp.10.000 untuk keduanya. Dari obrolan super singkat rutin itulah saya mengetahui bahwa mereka perantau dari Pemalang yang gagal mengecap indahnya ibukota, mereka berdua tinggal di bedeng tidak jauh dari tempat gerobak mereka mangkal, sementara anak-anak mereka masih tertinggal di Pemalang dalam hidup yang susah.

Di antara rumah-rumah besar nan mewah, sepasang kakek nenek setiap pagi mengais rejeki dengan berjualan papan cucian. Hidup mereka serba kekurangan.

Kek Anani terserang stroke, sekitar 2 tahun lalu, akibatnya pendengaran dan penglihatannya terganggu. Itulah alasan mengapa Nek Sairah tidak berjualan di pasar. Kek Anani tidak kuat lagi berjalan agak jauh, tidak mungkin ditinggal sendiri di bedeng tanpa ada yang menjaga. Memang setiap hari Nek Sairahlah yang mendorong gerobak, sedangkan Kek Anani berjalan terseok-seok dan terbungkuk-bungkuk mengikuti dari belakang.

Banyak hal yang sudah tidak diingat Nek Sairah, misalnya berapa usia mereka berdua dan kapan tepatnya mereka datang ke Jakarta. Hal yang jelas diingatnya adalah harga papan cucian yang dijajakannya, Rp. 80.000, dan Rp. 5.000 miliknya dari setiap papan cucian yang laku terjual, selebihnya harus disetor kembali ke produsen papan cucian. Meski tak menolak jika diberi uang, tapi Nek Sairah dan Kek Anani enggan menengadahkan tangan, enggan meminta-minta.

Sejak stroke, sekitar 2 tahun yang lalu, Kek Anani mengalami gangguan penglihatan dan pendengaran. Tubuhnya melemah, tak kuat lagi berjalan jauh. Saat menjajakan papan cucian, sering ia terlihat sempoyongan.

Selama ini, mereka belum pernah terjamah oleh program-program bantuan apapun dari pemerintah yang ditujukan untuk orang miskin. Ketika saya tanya, apa yang paling dibutuhkannya?. Nek Sairah bilang mereka sangat butuh uang untuk pengobatan Kek Anani. Sejak terkena stroke, Kek Anani tak pernah menjalani pengobatan khusus untuk penderita stroke, kalaupun berobat paling hanya ke puskesmas. Dokter menganjurkan Kek Anani makan makanan sehat dan bergizi, minum susu, serta minum obat secara teratur, tapi kenyataan mengharuskan Kek Anani makan seadanya saja tanpa minum susu, apalagi obat.

***

Pernah suatu kali saya foto Kek Anani dan Nek Sairah, lalu fotonya saya posting di Facebook. Seorang teman yang berprofesi sebagai jurnalis dan penulis buku, Mbak Eni namanya, tergerak hatinya untuk membantu. Kebetulan almarhumah ibunda Mbak Eni dulu pernah menderita stroke, itulah yang menggerakkannya merintis Rumah Stroke Indonesia.

Melalui Rumah Stroke Indonesia, kita yang peduli bisa menyalurkan bantuan untuk para penderita stroke di seluruh tanah air. Di bulan Ramadhan ini ada program parcel untuk penderita stroke yang tidak mampu, isinya berupa berbagai kebutuhan penderita stroke, mulai dari pampers dewasa, susu, gula dan kue kering rendah kalori, beras merah, hingga kursi roda. Untuk informasi pengiriman bantuan, silakan hubungi Mbak Eni via enisetiati_penulis@yahoo.co.id.

Semoga curhat ringan saya ini berdampak besar bagi Kek Anani dan Nek Sairah. Terakhir menyapa mereka, sekitar 2 hari yang lalu, mata Nek Sairah sayu menatap sambil berkata bahwa mereka tidak pernah mudik, tidak juga menyantap ketupat dan opor ayam, tidak ada uang, di hari Lebaran pun tetap menjajakan papan cucian.

Kek Anani dan Nek Sairah, menjajakan papan cucian setiap pagi.

- See more at: http://artikelkomputerku.blogspot.com/2010/10/cara-memasang-banner-di-bawah-posting.html#sthash.TrMBEyDs.dpuf